by

Jilbabisasi

Oleh : Deni Ardian

Saya pernah ditanya seseorang, “Apakah kamu mengkampanyekan anti jilbab ?”. Saya jawab singkat, “Yang saya kampanyekan yaitu rambut perempuan bukan aurat”. Dia balas menjawab singkat, “Ooh. Oke”.

Bagi saya Jilbab hanyalah suatu fashion, atau dalam surat Al-A’rof 26 disebutkan sebagai “riisyan” (perhiasan). Kebetulan asalnya dari budaya Timur Tengah. Jilbab berkembang silakan saja, sesuai dengan trend fashion yang naik turun di belahan bumi manapun. Silakan jilbab diformat menjadi semakin menarik, ala SCBD misalnya. Namun manakala dicap sebagai suatu Hukum Agama maka ini berbahaya.

Jilbabisasi akan mematikan akal sehat dan nurani manusia karena dipaksa tunduk pada Hukum Wajib Jilbab yang sebetulnya karangan manusia. Sudah pernah kubilang, buat mereka prestasi itu nomor paling buntut. Jilbaban lebih utama. Dan jilbab saja tidak akan pernah cukup sampai Anda jadi Taliban. MUI Payakumbuh cukup memberi pembuktian…

Masalah jilbab hanyalah lembah dari suatu pegunungan yang puncaknya adalah pola hidup ala Taliban dimana wanita tak lebih dari suatu benda yang bisa dikuasai, diatur, dan dipindahtangankan. Jilbabisasi itu seperti bola salju yang bila tidak dihentikan makin tak bisa dikendalikan.

Saya berharap semoga (mantan) bu Camat tetap sabar, kuat dan melanjutkan prestasinya dimana saja berada. Sebaliknya saya tetap berharap, #BubarkanMUI

Sumber : Status Facebook Deni Ardian

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed