by

Pemaksaan Hijab Akibat Guru Gagal Fahami Profil Pelajar Pancasila

Oleh : Eka Simanjuntak

Kekeliruan dalam implementasi Program Profil Pelajar Pancasila (Kasus SMAN 1, Banguntapan, Bantul)

Sejak Kemdikbud di masa Mas Nadiem makarim meluncurkan program Profil Pelajar Pancasila (PPP), saya sudah mengkritisi peogram ini, baik melalui medsos (termasuk di FB) maupun secara langsung dalam meeting koordinasi program Revolusi Mental yang diselenggarakan Kantor Kemenko PMK.

Salah satu ciri program PPP itu adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Tidak ada yang salah dengan ciri ini, tapi yang menurut saya keliru dan agak berbahaya adalah kompetensi dan indikator asessmen yang digunakan (Termasuk indikator akreditasi sekolah).

Kompetensi yang merupakan turunan dari ciri ini terlalu umum, sehingga berpotensi menciptakan multi interprestasi. Sedangkan indikatornya lebih pada hal-hal penggunaan simbol-simbol agama dan pelaksanaan ritual agama (religius). Hal yang sama juga terjadi pada indikator yang disusun oleh BPIP.

Mengapa saya mengatakan ini berbahaya? Kalau yang ditekankan adalah penggunaan simbol-simbol agama dan pelaksanaan ritual agama (religius), maka PERBEDAAN dan PENGKOTAK-KOTAKAN antar sekolah dan di antara warga sekolah sendiri, akan semakin menonjol.

Dalam kondisi seperti itu, tolrensi justru tidak akan terwujud, karena pengelola sekolah akan berlomba-lomba untuk menunjukkan bahwa sekolahnya adalah yang paling religius. Hampir dapat dipastikan yang paling ditonjolkan oleh swkolah adalah simbol dan kegiatan ritual agama yg mayoritas dianut oleh warga sekolah.

Fenomena yang terjadi di SMAN 1 Banguntapan, Bantul ini sedang marak terjadi dibanyak sekolah Negeri di Indonesia. Bahkan ada sekolah yang saat menyambut siswa di pagi hari, saat istirahat dan peoses belajar berakhir, sekolah secara khusus melantunkan lagu-lagu keagamaan, bukan lagu-lagu nasional, seperti layaknya dulu saat saya masih sekolah.

Idealnya kalau yang ingin dituju adalah terbentuknya perilaku/sikap beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia yang dilaksanakan dengan mengedepankan toleransi, maka indikator yang digunakan haruslah yang terkait sikap dan perilaku spiritual yang diakui dan merupakan tujuan semua agama (sikap dan perilaku yang didasarkan oleh nilai-nilai yang bersifat UNIVERSAL).

Misalnya;

– Seberapa jauh warga sekolah (guru dan siswa) menghargai, menghormati dan berempati terhadap sesama manusia terlepas perbedaan agama, suku, warna kulit, gender, status ekonomi sosial, dll)

– Integritas yang didalamnya mencakup, sikap dan perilaku jujur, konsistensi antara kata dan perbuatan, tidak menghalalkan segala cara. Dll.

– Disiplin dan ketaatan dalam menjalankan semua peraturan megara dan pemerintah yang berhubungan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

– Bersikap adil dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan mahluk hidup lain dan terhadap alam.

– Kemampuan untuk mengontrol diri, rendah hati, tidak pamer, dll.

Sumber : Status Facebook Eka Simanjuntak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed