by

Indonesia 2045

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Cucu: mbah, kok di ktp simbah ada kolom agama?

Mbah: itu ktp lawas. Dulu memang begitu. Orang ya harus jelas agamanya.

Cucu: buat apa mbah?

Mbah: banyak…kan kita bangsa relijiyus. Agama sangat penting. termasuk kalau mati karena kecelakaan dan nggak ketahuan keluarganya, bisa diperlakukan sesuai agama di ktp

Cucu; berapa banyak yg mati nggak ketahuan keluarganya mbah? paling satu dua orang.

Mbah: simbah juga bingung. Itu salah satu alasan saja

Cucu: jadi orang dibedakan berdasarkan agama?

Simbah mencoba mengingat-ingat lagi.

Mbah: ya kira2 begitu. Tapi tidak semua. banyak orang yang humanis, bersikap baik karena sesama manusia. Awalnya, setelah merdeka, kita meniru administrasi Belanda. Di ktp ngga ada kolom agama. Kolom agama muncul setelah peristiwa G 30 S atau gestok..pemerintah Orba menambah kolom agama. Jadi Belanda itu dibilang penjajah ee tapi kok ya lebih manusiawi. Bangsa sendiri yang katanya saudara sebangsa dan setanah air, tibaknya suka memilah2 orang berdasarkan agama.

Cucu: Londo

hebat ya mbah. Kemunduran ya mbah?

Simbah lagi mbenerin sarungnya…

Mbah: iya kemunduran besar. Kemanusiaan mengalami degradasi. tapi banyak orang menganggap itu biasa, karena negara kita berdasarkan sila ketuhanan. Jadi agama itu wajib.

Cucu: apa ketuhanan identik dengan agama mbah? kan bisa saja orang bertuhan, percaya tuhan tanpa harus menganut agama tertentu.

Mbah: kamu pinter memang kayak mbahmu (ehem! ehem!). Saat itu memang begitu, bertuhan identik dengan beragama. agamanya impor lagi.

Cucu: lho iya mbah? agama yang diakui hanya agama impor?

Mbah: memang bangsa kita bangsa pengusaha, importir. Semua impor. Cara hidup saja impor.

Cucu: lalu agama2 nenek moyang, keyakinan nenek moyang nggak diakui?

Mbah: nenek moyang kita nggak mengenal agama, nenek moyang hanya menjalani ajaran2 kebaikan yang dijalankan dan diakui bersama.

Cucu: jadi agama itu apa mbah?

Mbah: harus ada kitab suci, nabi dan Tuhan dan separangkat aturan ibadah.

Cucu: lha simbah kok muslim?

Mbah: itu karena keturunan. Sejak kecil sudah ditanya agama waktu di sekolah. Jadi ya ikut orang tua. Orang tua juga ikut orang tuanya.

Cucu: aslinya mbah maunya agama apa?

Simbah mikir lagi. Ini cucu seneng banget mancing mbahnya bercerita. Simbah pun hobi ngomongin agama. Dasar simbah relijiyus.

Mbah: maunya hidup itu seneng, berbuat baik sesuai kebutuhan. Tidak dihinggapi rasa takut.

Cucu: memang agama nakuti?

Mbah: lha memang begitu yang simbah rasakan dulu.

Cucu: sejak kapan bangsa kita nggak lagi begitu mbah?

Mbah: sejak ada internet, informasi tersebar bebas. Cerita2 mitos terkuak, kebenaran disajikan.

Cucu: tapi mbah, keyakinan kan nggak bisa dikalahkan oleh informasi, fakta dan bukti?

Cucunya nerocos terus, tahu kalau mbahnya butuh diskusi yang berimbang, biar nggak dimensia atau alzheimer.

Mbah: ada yang yakin tapi masih menyisakan ruang untuk nalar. ada yang yakin total, nalarnya dianggurkan.

Cucu: simbah masuk mana?

Mbah: aduh cucuku kok kamu ini nanya mulu. Niru siapa?

Cucu; katanya mbah dulu juga begitu..

Mbah: hahaha..kamu pinter cucuku. Simbah memang menuhankan nalar.

Cucu: atheis dong mbah?

Mbah: bukan cucuku. Nalar itu karunia sang Pencipta. Kalau menggunakan nalar berart mensyukuri karunia sang pencipta. Kalau nggak pakai nalar berrati mnegingkari sang pencipta.

Cucu; wah simbah memang top banget

Mbah: simbahnya siapa dulu….hahahaha…

Cucu: hanya nalar saja mbah?

Mbah: ya nggaklah..jadi manusia itu hidup menggunakan 3 N: Naluri, Nalari dan Nurani. Kalau mau hidup saja tanpa kemewahan spiritual ya cukup pakai naluri. Nalar & Nurani nganggur. Tapi kalau ingin hidupmu bermakna dan ada progres, ya pakai nalar. Kalau harus menimbang baik buruk, pakai nurani.

Cucu: simbah ini ngarang aja..nggatuk2e..

Mbah: lho ngga…ini bener. Orang gila bisa hidup cukup pakai naluri. Dia nggak butuh makan enak atau melihat indahnya pemandangan atau browsing internet. Tapi orang yang waras, dia butuh juga nalar untuk memilah mana yang bermanfaat , mana yang sampah. Pakai nalar untuk memilah mana dongeng mana fakta. Orang yang bermoral, menggunakan nurani untuk memilih antara yang patut, merugikan orang atau tidak, dan seterusnya.

Cucu: keren mbah 3 N! Toss dulu mbah….Ibuku tahu 3 N nggak ya mbah?

Mbah: yo mbuh..coba nanti kamu tanya…

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed