by

Resep Dokter VS Obat Warung

Oleh : Ahmad Sarwat

Kelebihan obat warung itu murah dan banyak yang meyakini bisa menyembuhkan segala penyakit. Setidaknya begitulah narasi iklan obat di media dan storytelling para tukang obat alias sales.

Sedangkan obat yang pakai resep dokter sudah pasti mahal harganya, tidak bisa dijual bebas. Hanya boleh dibeli pakai resep. Tanpa resep dokter, jangan harap bisa mendapatkan obat itu secara legal.

Buat orang awam kebanyakan dengan uang pas-pasan, obat warung pasti jadi pilihan. Bahkan sampai ada yang mencela obat yang pakai resep dokter sebagai bagian dari kartel penjualan obat.

Padahal bagi yang sedikit punya dasar ilmu terkait medicine dan kedokteran, obat yang kudu pakai resep dokter itulah obat yang seharusnya dikonsumsi oleh penderita suatu penyakit tertentu.

Kuncinya ada di resepnya. Resep itu ditulis berdasarkan analisa dokter yang pakar di bidangnya, setelah melakukan serangkaian riset dan test terlebih dahulu kepada pasien.

Ada sekian banyak kondisi pasien yang dijadikan bahan pertimbangan, mulai dari usia, berat tubuh, tekanan darah, kadar gula darah sampai urusan alergi dan seterusnya.

Dan yang namanya resep dokter itu bukan lah obat yang selalu baku, tapi justru sangat dinamis.

Bisa saja setelah pemakaian suatu obat beberapa waktu, dokter harus memeriksa lagi. Kalau perlu dokter bisa saja mengganti resepnya, padahal pasiennya itu-itu juga.

Maka meski penyakitnya sama, belum tentu dua orang pasien diberi resep yang sama.

Bandingkan dengan cuap-cuapnya sales obat. Seribu pujian diberikan kepada produknya, kalau perlu pakai bawa-bawa emosi religius keagamaan.

Namanya juga marketing, trik apa saja bisa dimainkan. Misalnya di tengah kalangan yang agamis, paling efektif kalau bilang bahwa obat ini sesuai hadits Nabi, atau disebutkan di dalam Al-Quran. Atau obat itu direkomendasikan oleh tokoh agama, entah kiyai, ustad, habib atau siapa pun.

Inti pokok permasalahannya simpel dan sederhana, yaitu tidak sepakatnya pengertian obat.

Kalangan medis tidak akan bilang bahwa minyak kayu putih itu obat, begitu juga madu atau pun bumbu dapur lainnya. Sebaliknya kalangan awam punya pengertian tersendiri dengan istilah obat.

Maka sering kita dengar istilah obat yang bukan pada tempatnya. Misalnya obat ngantuk itu adalah tidur. Obat laper itu makan. Kesimpulannya bahwa makan dan tidur itu termasuk jenis obat-obatan bagi mereka.

Sejak awal memang beda konsep. Apa mau dikata?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed