by

Hijrah Nabi SAW VS Hijrah Musa

Oleh : Ahmad Sarwat

Sama-sama hijrah tapi beda jauh. Hijrah Nabi SAW ke Madinah diawali dengan dua kali bai’at di Aqabah. Dua belas pemuka suku Aus dan Khazraj setelah menyatakan diri masuk Islam, mereka pun berjanji setia kepada Nabi SAW untuk membela perjuangan Nabi SAW lahir batin. Mereka pun sudah berdakwah dan membangun basis kekuatan umat Islam di Madinah. Bahkan sampai minta kepada Nabi SAW untuk mengirim utusan khusus untuk mengajar ilmu-ilmu keislaman di Madinah. Nabi SAW pun mengutus Mus’ab bin Umair, bukan sebagai penyebar agama Islam, tapi lebih tinggi lagi, sebagai pengajar ilmu-ilmu keislaman bagi penduduk MAdinah yang sudah masuk Islam sebelumnya.

Artinya, Madinah itu sudah sangat siap menerima kedatangan Nabi SAW, setelah sebelumnya Nabi SAW mengirim sedikit demi sedikit para shahabatnya. Sementara Nabi SAW sendiri justru belum bergerak sama sekali untuk hjirah. Beliau SAW setiap waktu sibuk mengirim personal shahabat ke Madinah. Pertanyaannya : kenapa hijrah Nabi SAW itu tidak bersifat masif, kolosal dan ramai-ramai? Kenapa terkesan perlahan-lahan, diam-diam dan sedikit demi sedikit?Jawabannya tentu ada banyak, namun salah satunya juga karena harus mempertimbangkan kesiapan kehidupan di Madinah nantinya.

Sebab mereka yang hijrah itu benar-benar homeless dan jobless. Mereka hanya akan jadi beban yang memperberat ekonomi dan tatan sosial di Madinah. Jangan sampai perjalanan hijrah itu hanya akan bikin masalah baru di Madinah. Itu namanya lepas dari mulut harimau lalu masuk mulut buaya. Setelah migrasi secara bertahap itu dianggap sukses, barulah Nabi SAW ikut hijrah sebagi gelombang terakhir. Semua itu setelah tatanan kehidupan di Madinah sudah sangat siap menerima kedatangan Nabi SAW. Maka begitu Nabi SAW tiba di Madinah, sambutan luar biasa dari penduduk Madinah pun sebegitu meriah. Lantunan syair Thala’ah Badru ‘Alaina pun berkumandang. Memamng ada sebagian kritikus yang bilang bukan disitu tempatnya. Namun yang meriwayatkannya juga tidak sedikit.

oOo

Sekarang mari kita bandingkan dengan hijrah Nabi SAW sebelumnya ke Thaif. Ini bisa dibilang hijrah yang kurang perhitungan, karena hanya dilandasi dengan semangat emosional, tidak pernah ada perhitungan, survai, apalagi strategi.Akibatnya, baru saja menginjakkan kaki di Thaif, bukannya disambut tapi malah disambit. Gagal total niat dan rencana melebarkan sayap dakwah ke Thaif. Yang terjadi jusutru Nabi SAW dan Zaid nyaris tewas digebukin berandalan Thaif yang gahar itu.

Rupanya, Nabi SAW banyak belajar dari gagalnya hijrah ke Thaif itu. Untuk hijrah yang berikutnya, yaitu ke Madinah, semua pakai perhitungan yang cerdas dan cermat.oOoLalu bagaimana hijrahnya Nabi Musa alaihissalam dan umatnya?Sukses sekaligus gagal. Sukses dalam arti lolos dari kejaran tentara Fir’aun. Dengan bantuan mukjizat, mereka bisa lewat di tengah Laut Merah yang terbelah dan Fir’aun memang ditenggelamkan. Tapi . . . Setiba di seberang sana, justru kegagalan yang menyambut. Pertama : Tersesat 40 TahunRombongan Nabi Musa itu tidak pernah tiba di negeri tujuan. Rupanya selama di Gurun Sinai itu mereka tersesat cukup lama, yaitu selama 40 tahun. Al-Quran dengan jelas menceritakan kisah itu :

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ

Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. (QS. Al-Maidah : 26)

Kedua : Kaumnya MurtadKetika Nabi Musa masih di Gurun Sinai dalam rangka tersesat itu dipanggil Allah naik ke Bukti Tursina selama 40 hari, selama itu pula Samiri berhasil menyesatkan mereka sehingga mereka pun pada menyembah patung anak sapi.

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah : 51)

Ketiga : Ribut Dengan Saudaranya SendiriDan Nabi Musa marah sekali, sampai batu tulis berikut ayat suci Taurat itu pun dibuangnya. Marah dan kesal sekali dia, sampai dijambaknya rambut Nabi Harun saudaranya itu.

وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ

Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, (QS. Al-Araf : 150)

oOo

Kalau mau diteruskan, masih panjang lagi penderitaan Nabi Musa dengan kaumnya dalam proses hijrah atau exodus-nya itu. Yang jelas Nabi Musa tidak pernah sampai tiba di negeri tujuan hijrahnya itu. Beliau wafat selama masa tersesat 40 tahun di Gurun Sinai itu. Tapi yang jadi catatan penting, kasihan sekali bangsa Yahudi itu. Meski mengaku ikut hijrah tapi ujung-ujungnya malah kesasar 40 tahun, lalu pada murtad dan menyembah patung anak sapi.

Inilah contoh hijrah yang tidak sukses. Hijrah tanpa perhitungan. Hijrah hanya bermodal semangat. Hijrah yang ngasal. Buat kita kalau pun mau hijrah, hijrahnya pakai perhitungan, pakai konsep dan pakai ilmu, bukan sekedar bermodal semangat yang tidak jelas jeluntrungannya. Pelajari dan tiru bagaimana konseop hijrah Nabi SAW yang sedemikian sukses itu.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed