by

Sopo Siro, Sopo Ingsun

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Kita khususnya orang Jawa…; pasti sering mendengar ucapan/pertanyaan…: Sopo siro…, sopo ingsun…? Keduanya…, siro maupun ingsun…; hampir sama…, walau sesungguhnya sangat berbeda. Kita harus mempunyai ketelitian tingkat tinggi…, untuk bisa membedakan antara siro dan ingsun. Keduanya berbeda…, tapi saling berkaitan. Keduanya mempunyai tempat yang berbeda…, akan tetapi masih satu raga dengan diri kita sendiri. Sungguh sulit bukan…, kalau kita hanya mengetahui konsep di atas….?

Untuk lebih detailnya…, mari kita mengkajinya satu persatu. Kita misalkan…, bahwa kita bernama “Bagong”.Siro…; adalah jiwa dari Bagong…., dimana siro adalah pertemuan antara roh dan jasmani Bagong. Siro sebenarnya adalah rasa…, sir: rasa…., ro: 2.Jadi siro adalah 2 rasa yang ada di hati kita…, yaitu lapisan hati yang berwarna hitam dan kuning…, atau bisikan buruk dan baik. Keduanya kemudian menyatu…, menjadi satu kesatuan…, yaitu ego. Atau Bagong itu sendiri…, yang terbentuk ketika dia mulai bernalar dan mengenal rasio. Siro…; adalah yang merasa bahwa aku itu Bagong. Siro memiliki bisikan baik dan buruk…., memiliki hawa dari nafsu…, dan seterusnya. Sehingga…, Bagong sesungguhnya adalah siro itu sendiri.

Ingsun…: adalah aku sejati…, dimana ingsun adalah yang datangnya dari Tuhan langsung…, ketika kita masih di dalam kandungan berumur 4 bulan.Ingsun inilah yang kemudian ditiupkan ke dalam tubuh kita…, oleh Tuhan itu sendiri. Ingsun bersifat suci…, karena dari Tuhan langsung. Ingsun…; ing: menunjukan tempat…, sun: yang datangnya dari Tuhan langsung/suci.

Ingsun sesungguhnya juga hanya rasa…, akan tetapi hanya memiliki satu rasa. Berbeda dengan siro yang memiliki 2 rasa…, dan rasa itu letaknya ada hati kita. Kalau ingsun…., hanya memiliki satu rasa yaitu rasa suci…, dan posisinya berada pada lapisan paling dasar yaitu berwarna putih/suci. Rasa suci itu memiliki nilai kebenaran yang mutlak…, karena datangnya dari Tuhan langsung.. Lantas apakah ingsun itu Bagong…? Tentu saja bukan…, tetapi Bagong masih kesatuan dari ingsun. Atau gampangnya…; ingsun adalah aku sejati, dan Bagong adalahnya jiwanya.

Untuk bisa mengerti aku sejati/ ingsun…, tentunya kita harus mencari aku sejati sampai ketemu. Kalau kita cuma membayangkan atau cuma dipikirkan…, apalagi cuma dihafalkan…, maka kita takan bisa tahu secara pasti. Dan ahirnya…, akan mentok cuma sampai Bagong. Semoga dengan membaca postingan ini…., kita menjadi tergerak untuk mencari dan mendalami ngelmu. Dengan itu…., niscaya kita bisa menjadi orang yang arif dan bijaksana…., dalam setiap perkataan maupun perbuatan. Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluyo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed