by

Closing Statement Penyintas Covid

Oleh: Bekti Susilo

Hal yang perlu diketahui bersama bahwa bobot terpaparnya covid-19 antara satu orang dgn orang lain sangatlah berbeda.

Ada beberapa orang yang terpapar Covid-19 hanya merasa tidak enak badan beberapa hari. Umumnya hanya merasa indera pengecap menjadi pahit dan atau merasa kedinginan serta kurang enak badan (lemas dan pusing). Tapi gejala ringan ini biasanya hanya berlangsung 1-2 hari. Biasanya dihari ke-3 dan ke-4 sudah kembali enakan, sehingga bisa menjalani aktifitas harian seperti halnya orang sehat lainnya.

Namun, ada beberapa orang yang terpapar Covid-19 sejak hari pertamanya sudah tumbang. Paling tidak itu yang dialami penulis saat ini.

Bahwa sejak hari pertama, Jumat tanggal 16 Juli penulis langsung diserang dgn demam tinggi hingga terasa menggigil seluruh badan. Hal mana memaksa penulis harus bedrest total.

Hari pertama lewat, ternyata hari kedua berubah pola serangan virusnya. Dihari kedua ini, seluruh badan terasa remuk redam. Seluruh persendian terasa sakit luar biasa. Bahkan semua kulit dan badan terasa diseset-seset sama sebilah pisau. Terasa panas, ngilu dan sakit luar biasa. Hal mana membuat semua pertahanan jebol dan terkapar tak berdaya.

Tapi anehnya dihari ketiga semua keluhan sakit tersebut sirna seketika. Bedan terasa enteng dan enak kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Sehingga ada jeda waktu untuk tidak merasakan sakit apapun. Sayangnya jeda waktu ini hanya berlangsung satu hari.

Berikutnya hari keempat dan kelima, kembali seluruh persendian, tulang belulang dan sekujur tubuh terasa sangat sakit luar biasa. Meriang dan merintih tak terkirakan. Persendian dan tulang terasa panas luar biasa. Seluruh tubuh kembali terasa dikelupasin dan disayat-sayat sama pisau. Rasa sakitnya berkali-kali lipat dibanding rasa sakit hari kedua.

Beruntungnya kesakitan itu hanya berlangsung 2 hari. Tapi, meski begitu dampak fisik dan psikisnya luar biasa. Seketika semua gerak Faal tubuh motorik dan sensorik melemah seketika.

Giliran dihari keenam pola serangan virus kembali berubah arah. Kali ini kepala yang diserang. Kepala terasa ditusuk-tusuk dengan jarum dan paku baja. Nyuuuutt…! Sekali serangan langsung mengerang kesakitan luar biasa. Kata orang seperti ribuan jarum menempel dan tertancap di kepala. Efeknya seluruh tubuh melemah tak berdaya.

Hingga akhirnya dihari ketujuh dan kedelapan seluruh pertahanan tubuh terasa sudah benar-benar jebol. Ibarat orang bertinju, maka dihari ketujuh dan kedelapan ini sudah kena double uppercute. Sehingga semua tubuh sudah tak bisa bereaksi. Jangankan menggerakkan kepala dan tangan serta kaki, untuk menggerakkan bola mata saja sudah terasa kesakitan luar biasa.

Di hari ketujuh dan kedelapan ini benar-benar menjadi puncak depresi. Semua suara sekecil apapun menjadi noise dan sangat mengganggu dikepala dan telinga. Nafas mulai tersengal-sengal. Batuk-batuk kecil mulai sering menyerang. Perut terasa mual, penciuman terasa badex hingga membuat paru-paru kembang kempis karena bau yang tidak enak dihidung. Sering mengigau dan teriak-teriak tak jelas. Intinya semua keadaan menjadi sangat kritis.

Sarturasi oksigen saat itu sudah dititik kritis, yaitu diangka 78. Dititik ini seharusnya sudah dilarikan ke rumah sakit. Mengingat normalnya sarturasi oksigen didalam darah seharusnya diangka > 95.

Tapi alhamdulillaahnya bahwa dihari kedelapan ini ada satgas Covid-19 ke rumah. Seketika langsung diinfus, diuap dan dipasang selang oksigen. Dari sinilah akhirnya pelan namun pasti ada pemulihan tenaga dan sarturasi oksigen sedikit demi sedikit kembali keangka normal > 95.

Hal yang perlu dilakukan untuk posisi kritis covid-19 ini bahwa secepatnya kita harus sesegera mungkin diinfus dan dipasang oksigen. Ini mengingat bahwa sejak hari pertama asupan makanan sudah bermasalah. Sehingga dihari pertama hingga hari ketujuh dan kedelapan asupan makanan yang masuk hanya sebatas sekenanya saja. Bahkan cenderung bermasalah, karena sering muntah yang menyebabkan dehidrasi akut dan kekurangan nutrisi.

Hingga akhirnya memasuki hari ke-14 total infus sudah habis 14 botol dan untuk tabung oksigennya habis 3 tabung kecil ukuran 1 m3 dan 1 tabung besar ukuran 3 m3.

Dihari ke-14 inilah lidah/mulut sudah bisa mengendus beberapa rasa makanan. Makanan pertama yang masuk, yaitu tempe orek dan bihun goreng. Kemudian dihari2 berikutnya hingga hari yang ke-16 ini sudah memberanikan diri mengecap makanan pecel lele, Siomay dan rempela ati. Adapun makanan2 lain yang berkuah masih terasa sangat asin dan pahit. Untuk itu jangan paksakan makanan2 yang berkuah seperti ini. Apapun bentuk dan jenis makanannya.

Cari yang safety dulu sesuai dgn selera di lidah. Ada baiknya juga makan permen yang tidak manis. Semua untuk membiasakan lidah mengecap banyak jenis makanan. Tapi tetap hindari makanan dan minuman yang manis, sebab akan merangsang batuk dan tumbuh berkembangnya virus.

Adapun untuk minuman dari hari pertama hingga hari terakhir hari ini hanya minuman teh dicampur madu dan air kelapa muda. Untuk air mineral biasa masih terasa pahit dan malah sering muntah.

Sedangkan buah yang bisa masuk sejak hari pertama hingga hari terakhir hanyalah buah peer, pisang dan alfukat. Selain itu, resistensi mulut masih terasa besar.

Dihari ke-16 badan memang masih terasa lemah dan kepala masih terasa pening. Tapi paling tidak masa kritis sudah terlewati.

Demikian, sedikit pengalaman bagaimana rasanya terpapar Covid-19. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

(Sumber: Facebook)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed