by

Cerita Mantan Penyintas Covid

Oleh: Denny Siregar

Saya mantan penyintas Covid..Pertama kali merasa ada sesuatu yang aneh di badan. Gak enak rasanya. Mendadak panas tinggi, tapi tidak seperti demam biasa. Ini beda. Lebih mirip demam waktu kena cacar.

Panasnya di dalam tubuh, seperti ada api membara. Langsung saya mengungsikan diri. Saya kunci diri di sebuah apartemen dan tidak boleh ada yang datang. Saya gak tau apakah hidung saya sudah tidak bisa merasakan bau, karena sudah sibuk dengan badan menggigil sampai ke tulang-tulang.

Saya tidak mau ke RS, karena tahu jika saya disana, mental saya pasti jatuh mendengar kabar ada yang meninggal. Lebih baik bertarung sendirian. Hari ke 3 mulai ada yang aneh. Halusinasi. Terus mimpi orang2 yang sudah meninggal. Mereka begitu dekat, seperti benar2 nyata.

Kuhajar dengan vitamin2, antibiotik dan obat penurun panas. Penyakitnya tambah ganas. Mentalku drop. Aku jarang menangis, tiba2 aku meringkuk sambil memanggil nama ibu dan minta maaf padanya. Dan saat itu beliau seperti hadir, “Lawan, nak… Jangan nyerah. Kamu bukan tipe orang kalah..”

Terngiang terus kata2 itu. Mungkin kata itu pernah ditanamkan di benakku, dan baru keluar dari memory pada waktu yang dibutuhkan..Aku seperti orang gila. Mengancam Covid dan mengajak bertarung dengannya, “Kamu atau aku, kita lihat siapa yang terakhir bertahan..”

Dan aku bergumul dengan hajaran-hajaran yang luar bisa. Seperti orang sakaw. Bertarung dengan bayangan. Aku menangis, teriak, pingsan, menangis lagi, teriak dan tertidur kelelahan.. Hari ke 7 tubuh keringat semua. Badan remuk di punggung belakang. Gak bisa tidur, seperti habis digilas truk kontainer.

“Sesudah perang besar itu, kamu akan mengalami radang sendi..” Kata seorang dokter yang kuajak chat online. Dia memberikanku pil penahan sakit dan pereda radang. Alhamdulillah semakin membaik. Padahal aku khawatir, ring di jantungku akan berbalik melawanku. Ternyata Tuhan masih sayang padaku.

Tugasku di dunia belum selesai, masih ada pekerjaan rumah yang harus dituntaskan..Saran buat teman, jangan pernah menyerah. Jangan kalah. Ketika kita dalam kondisi pucak, mental kita harus dikuatkan. Pikirkan orang2 tersayang, dan kita punya tanggung jawab untuk bersamanya.

Ketika kita menyerah, imunitas kita turun. Dan itulah saatnya Covid akan membantai mereka sehingga badan kita luluh lantak. Dan kalau tidak kuat, nyawa kita pasti lewat.

Covid itu ada. Bukan rekayasa. Kamu mungkin tidak percaya jika belum pernah bertarung dengannya. Sekarang aku seruput secangkir kopi sambil memikirkan temanku, Birgaldo Sinaga.

Ada waktunya menang dan ada waktu kalah. Tetapi setidaknya dia pernah berjuang sampai titik mental terbawah..

Jaga dirimu. Juga keluargamu. Terutama orangtuamu.

Mereka belum tentu sekuat kita.

Seruput kopinya..

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed