by

Tangidroon, Real Buzzer War

Oleh : Karto Bugel

Para komandan perang sedang diincar. Mereka ditarget harus sudah tumbang dalam kurun waktu tertentu. Ada yang sudah tumbang, ada yang masih perkasa. Ada beberapa komandan yang langsung berdiri di depan demi konsolidasi meski namanya disebut dalam list sebagai target, ada pula yang justru sibuk mengamankan perangkat tempurnya agar tak hilang sia-sia. Tak perlu membuat klarifikasi siapa lebih baik dari siapa. Ini soal prioritas sekaligus dan juga soal spontanitass. Spontanitas Deni Siregar dan Eko Kuntadi adalah deactivate akun sebagai cara mencari aman. Akun miliknya, di sisi lain adalah juga sebagai perangkat tempurnya.

Akun itu akan tetap ada bagi caranya berdiri di depan pada suatu saat nanti manakala semua tumbang.Di sisi lain, akun seperti Budiman Sudjatmiko, Suara bawah, Digembok, Murtadhaone1, dan masih banyak akun yang masuk list untuk dibuat tumbang justru tampil melawan. Mereka menantang dengan garang. Serangan pada target-target sepesifik ini, konon pertama kali terlihat dari munculnya akun “Hantam Buzzer”. Itu sepertinya adalah akun baru netes. Sekaligus itu dibuat sebagai kamuflase. Di sana, nama-nama siapa yang akan menjadi target hari ini, muncul. Itu adalah tanda, sekaligus perintah kerja. Mereka melakukan report secara serempak dalam waktu bersamaan dan terus berulang setiap 30 menit misalnya. Itu mereka sengaja lakukan demi celah lemah algoritma platform media sosial itu crash.

Mereka memang mereport hal yang tak sesuai dengan kebijakan tuiter misalnya, namun dengan terus menerus melakukan bombardir informasi secara bersamaan, platform media sosial itu collapse. Itu seperti kita memberi tekanan 3 atmosfir pada selang air padahal maksimal tekanan diperbolehkan adalah 1 atmosfir. Selang itu pecah dan air meluber kemana-mana membuat basah tempat-tempat yang seharusnya tetap kering. Itu adalah kekacauan yang sengaja dihadirkan. Apakah teori itu benar dapat dibuktikan, bukan pada reka-reka dan debat kusir pada ruang media sosial kita mencarinya.

Ada ruang lebih tepat untuk berbicara masalah ini. “Siapa otak dibelakang semua itu?” Tak ada asap tanpa adanya api. Bila korban terbakar adalah akun-akun pro pemerintah, asap tercium pertama sebagai indikasi, dapat kita runut sejak adanya ajakan sekelompok orang untuk memerangi buzzer pemerintah. Kita dapat menebak siapa dibalik munculnya api tersebut. Tapi, itu hanya sebatas prasangka saja dan prasangka, bukan sebuah bukti. “Dapatkah itu menjadi peristiwa hukum?” Tak mudah membuat para buzzer penumbang akun pro pemerintah berikut pemodalnya itu digugat. Mereka berselancar pada ombak di pantai yang berijin. Mereka memanfaatkan dan berlindung pada aturan main yang berlaku.

Namun bila gugatan ingin dibuat, bangunan hukumnya harus dibuat jelas. Sepertinya, ada peluang untuk itu. Pada peristiwa ini, bangunan hukum dapat dibuat adalah berupa hadirnya peristiwa hukum di mana seseorang atau sekelompok orang telah dirugikan. Di sisi lain, indikasi adanya pihak ke dua, baik dengan sengaja, atau tidak sengaja telah membuat kerugian pada seseorang atau sekelompok orang tersebut, dapat dibuktikan.

Pokok perkaranya adalah munculnya kerugian materiil yang dapat dihitung maupun kerugian imateriil pada banyak pihak dalam kurun waktu bersamaan karena sebab adanya unsur kesengajaan maupun kalalaian dari pihak lain.”Emang bisa gugat tuiter po?” Class action dapat kita lakukan. Itu demi tak asal menuduh pihak lain atau saingan kita tanpa bukti menjadi kebiasaan. Itu juga demi terbukanya sebuah peristiwa hukum dengan adil agar kebiasaan menyelesaikan perselisihan berlangsung secara beradab, menjadi budaya kita. Karena pihak yang menutup akun adalah tuiter, maka tuiter wajib memberi klarifikasi alasan penutupan tersebut. Bahwa hal itu sudah sesuai aturan dan kebijakan tuiter, paling tepat pada ruang pembuktian dan kesaksian di pengadilan nanti.

Tuntutan pada tuiter dapat dibangun dari adanya unsur tiba-tiba atas tertutupnya banyak akun sewarna secara bersamaan dikaitkan dengan keterlibatan pihak ke 3 yang dapat dibuktikan dengan hadirnya saksi berikut bukti yang memadai. Itu seperti kita menyewa mobil plus drivernya, dan kemudian mobil menabrak warung yang kita incar. Kita sebagai penyewa atau pihak ke 3 tak mudah dibuat terlibat. Driver sebagai entitas perusahaan rental mobil adalah pihak tertuntut meski korban tertabrak tahu dengan sangat bahwa ini pasti ide atau perintah si penyewa misalnya. Pemilik warung tak dapat menggugat penyewa mobil sebagai pihak ke 3. Membuktikan bahwa pihak ke 3 ada dibelakang semua ini, itu ada pada wilayah pengadilan.

Ketika pemilik warung menggugat driver, perusahaan rental mobil boleh saja berkilah dengan segala aturan hukum soal sewa menyewa, namun ketika mobil miliknya dan dikendarai oleh yang ditunjuknya, itu menjadi ranah pengadilan untuk membuktikannya.

Itu hanya indikasi atau petunjuk awal sebagai syarat sebuah penyelidikan pantas atau tidak untuk dimulai. Dan itu harus harus dimulai dengan diajukannya gugatan.Masalahnya, ada tidak keinginan dari pro pemerintah ini untuk menjadikannya clear? Atau justru selalu berkubang pada polemik hanya demi riuh saja ingin dimaknai? Bro @MuanassAlaidid bisa diajak untuk diskusi masalah ini. Ini penting agar hukum secara perlahan mulai menjadi budaya bagi bangsa ini. Atau Ferdinand Hutahaean yang juga praktisi hukum dan akunnya juga turut tumbang, masa ga berani bro? Ini juga penting demi tuiter tak semena-mena membuat aturan sepihak bagi rakyat bangsa ini sesuai aturan dari mana dia berasal.

Siapa tahu karena class action ini justru melahirkan tuiter berwarna Indonesia. China dan Rusia bisa buat platform seperti budayanya, kenapa tidak dengan Indonesia.Colek @Budimandjatmiko , masak ga tertantang sih bro?.. RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed