by

Akun-Akun Medsos Influencer Tumbang, Peningkatan Eskalasi Serangan Oposisi

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Hilangnya akun media sejumlah aktivis pro NKRI, kebhinekaan dan pro Jokowi beberapa hari terakhir ini, menunjukkan meningkatnya eskalasi serangan kubu lawan pemerintah. Khususnya kaum oposisi, kubu mantan, kubu Cikeas, kubu kadrun yang ingin memanfaatkan masa pandemi untuk membungkam kritik dan satir mereka.

Alih alih membalas dengan kritik dan satir, mereka melakukan aksi pelaporan massal ke admin medsos global itu, yang membuat akun terhapus secara sistem.

Di Faceook, Denny Siregar mengakui akun Twitternya kena jegal. “Akun-akun medsosku lagi diserang habis-habisan, “ tulisnya. Di twitter beberapa akun, termasuk punya Bang Ade Armando, juga bertumbangan. Ada yang ngamuk, entah itu dari partai anak pepo atau dari pendukung Gabener seiman. Karena gak mampu main argumen, juga karena baperan, mereka main report massal. Begitulah maenannya buzzer.

Siapa yang berkepentingan menjatuhkan akun medsos Denny Siregar, bisa dilihat dari siapa lawannya, yakni kubu mantan yang bermarkas di Cikeas, kubu pendukung gubernur penata kata dan kelebihan bayar serta kadrun yang junjungannya dibui. Karena tulisan dan pernyataan mereka mengarah ke sana yang mengganggu pluralisme dan kebhinekaan.

Dari netizen memberikan tanggapan: “Emang kemampuan pendukung wan #KelebihanBayar klo kalah argumen senjata pamungkasnya kalo gak caci maki ya report massal, “ katanya. “Jangankan akun Bang Denny yang udah jelas kwalitasnya. Lha wong saya yang cuma emak-emak aja kalo mereka kalah debat/bahasa caci maki umpat2-nya udah gk mempan, ujung2-nya akun yg dijadikan sasaran. Begitulah tabiat penikmat politik Telor Mata Sapi a-la wan #KelebihanBayar, Ayam yang capek bertelor. Begitu telor diceplok, yg dapet nama sapi.”

“Jadi, untuk sementara saya terpaksa tiarap dulu, sampai situasi sudah tenang. Sambil ngopi, baca-baca buku Enny Arrow lagi. Siapa tau ada ilmu baru dalam gaya percintaan.. “ Begitu Denny Siregar, dengan gaya sarkasme yang yang khas.

Ade Armando membenarkan akun twitternya di-suspend oleh pihak Twitter. Ia menduga akunnya di-suspend karena di-report massal oleh pihak-pihak yang tak menyukainya. Ade menambahkan, pihak yang tidak menyukainya telah melakukan tindakan teror yang berupaya membungkam dia bersama rekan-rekannya. “Ya, itu gerakan teror siber yang terorganisir untuk membungkam suara suara kami,” kata Ade lewat postingan Facebook miliknya.

“Akun twitter saya di-suspend. Apakah saya harus bikin drama bahwa terjadi pembungkaman ekspresi? Bahwa ada penindasan demokrasi? Ya enggak lah. Ya, suka-suka Twitterlah,” tulis Ade.
“Pembungkaman ekspresi” dan “pelanggaran HAM” memang biasa jadi jualan dan tudingan geng anti Jokowi untuk menyerang pemerintah, ketika kawanan mereka berurusan dengan hukum dan ditangkap aparat.

PERANG opini sudah biasa terjadi sejak republik berdiri. Dulu dilakukan oleh kaum intelektual, yang tinggi pengetahuannya, banyak bacaannya, melalui media massa yang bertanggung-jawab dan dikelola oleh tokoh tokoh pers kredibel, sehingga masyarakat diuntungkan oleh kedua pihak yang beropini. Masing masing kuat argumennya.

Di masa era digital, ketika para pakar kehilangan pengaruhnya – The Death of Experties (Matinya Kepakaran) – maka perdebatan turun kelas, menjadi saling menghina, mencerca dan mendungu-dungukan lawan.

Dalam kasus aktual, jelas sekali kubu Cikeas dan pemerintahan mantan sangat kesakitan dan tersudutkan, tokoh tokoh teras di partai itu jadi bulan bulanan di media sosial, khususnya di Youtube, Twitter dan Instagram, selain Facebook. Sehingga mereka membalas dengan cara cara tidak berkelas, norak. Bahkan brutal.

Terbaru, postingan cicitan Rachland bukan hanya menyerang personal Jokowi melainkan juga dianggap menghina Pancasila, Burung Garuda dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Rachland melalui akun Twitter @RachlanNashidik mengunggah sebuah meme bergambar Presiden Joko Widodo yang tengah tersenyum pada Sabtu 7 Agustus pukul 17.18. Pada kening Jokowi terpampang lambang Garuda yang tengah tertancap tombak kayu. Selain itu, wajah Jokowi juga dipenuhi tempelan yang tertulis: utang luar negeri 6000T, ratusan ribu ha hutan rusak, hingga impor bahan pangan.

Akun @Anggita_lung mengecam postingan itu, karena menghina lambang negara. “Siapa pun anda yang membuat foto pelecehan seperti ini Anda biad*b. Sehina-hinanya binatang, jauh lebih hina yang membuat foto seperti ini. Kami tidak rela lambang negara dijadikan bahan ejekan,” tulisnya.

“Kualitas politisi @PDemokrat serendah ini. mengolok-olok lagu kebangsaan Indonesia Rayad dan lambang negara. Pidana ini @CCICPolri @DivHumas_Polri,” tulis netizen, menanggapi, sebagaimana dikutip mediaindonesia.com.

Cicitan Rachland konon berawal dari kala ia mengunggah foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdiri di samping lukisannya. Rachland menulis, “Sambil menjalankan PPKM, Pak SBY memilih memilih melatih bakat melukisnya di studio beliau di Cikeas. Ini lukisan terbaru. Pantai Pacitan. Biru di langit, biru di laut bersatu dalam jiwa, memberi teduh dan mencipta ketenangan. Indahnya negeri tanpa merah amarah dan amukan wabah,” tulis Rachland.

Akun @Gunawan94592770 lantas mengontari foto tersebut. “Kapan lukis candi hambalang.” Tak berapa lama netizen, mengubah lukisan pantai menjadi foto bangunan mangkrak Hambalang.

Tak lama kemudian, Rachland membalas dengan meme bergambar Jokowi yang berujung hujatan dan kecaman netizen kepadanya. Seusai dibanjiri hujatan dan kecaman netizen, akun Rachland kini sudah dikunci dan berganti nama menjadi @LeonardoCollin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed