by

Pemuja Khilafah di Sekitar Kita

Oleh: Denny Siregar

Beredar di timeline saya, sebuah berita dengan judul “Rezim manfaatkan Covid 19 sebagai senjata pembunuh massal untuk kepentingan politik”.

Dan dibawahnya ada foto seorang Guru Besar dari Universitas negeri di Surabaya ITS, Daniel M Rosyid. Ternyata dia yang menyatakannya.

Ah, kayaknya saya tahu wajah dan nama orang ini. Nama Daniel M Rosyid muncul ketika pemerintah Jokowi mengumumkan HTI sebagai organisasi terlarang di Indonesia tahun 2017.

Ketika HTI digebuk itu, bermunculan lah pentolan2nya yang ternyata adalah kaum intelektual di perguruan2 tinggi negeri di Indonesia.Daniel M Rosyid kala itu membela HTI dengan bilang kalau pembubaran organisasi itu adalah upaya utk membungkam kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat.

Pernyataannya viral dan ITS didesak untuk memecat Daniel M Rosyid.Daniel M Rosyid bersama 2 orang dosen lainnya, lalu dipanggil rektor untuk klarifikasi, “Apakah kalian bagian dari HTI ??”

Mereka kabarnya membantah dan akhirnya menandatangani pernyataan bahwa mereka bukan bagian dari HTI. Tapi lucunya, meski tidak mengaku bahwa dirinya bagian dari HTI, di sebuah media Daniel M Rosyid – Guru Besar ITS itu – mengaku sebagai pendukung khilafah. Aneh, ya ?

Jadi saya gak heran dengan pernyataan Daniel M Rosyid itu. Sejak lama dia memang terlihat anti dengan pemerintahan ini, meski juga cari duitnya di instansi pemerintah. Gak konsisten.

Kalau gak suka, mending berhenti aja dan berbuat seperti para anti riba yang akhirnya keluar dari bank dan wirausaha.

Orang-orang seperti ini banyak banget di instansi pemerintahan, akibat dari pembiaran di pemerintahan masa lalu. Mereka adalah kaum intelektual, terpelajar dan sudah melalui proses pengkaderan sejak mahasiswa dan disebar ke banyak instansi pemerintah utk menjabat disana.

Dan kampuslah tempat pengkaderan itu. Karena itu, jabatan seperti dosen, guru besar bahkan rektor di kampus adalah posisi strategis sbg perekrutan. Saya sih setuju, kalau misalnya tes Wawasan Kebangsaan seperti yang sudah dilakukan di KPK diberikan juga ke dosen2 di kampus negeri.

Penting itu, untuk menjaga para mahasiswa di negeri ini supaya bersih dari paham radikal dan khilafah. Jika mereka ada di pemerintahan, sejatinya mereka harus satu barisan dengan kebijakan pemerintah, bukan malah jadi penentang utama. Itu seperti duri dalam daging..

Gak mudah memberantas paham khilafah ini, karena yang terpapar bukan hanya masyarakat kelas bawah, bahkan sudah masuk ke posisi selevel Guru Besar di Universitas2 negeri kita.

Mereka seperti ular, yang menunggu kapan saat yang tepat untuk mematuk dan menyebarkan bisa..Seruput kopinya..

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed