by

Indonesia, Denny, Ade, Eko, Supriyanto, Rudi Dll

Oleh: Gantyo Kuspradono

HARI ini (Selasa 17 Agustus 2021) sebagai bangsa kita memperingati hari ulang tahun ke-76 kemerdekaan Indonesia.

Namun, sampai hari ini, kita belum merdeka dari rongrongan covid-19, juga dari para covidiot yang mencoba merongrong dengan menunggangi pandemi covid-19 sebagai medium untuk merusak NKRI dan mengejek Presiden.

Puluhan tahun lalu, Bung Karno pernah mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”
Apa yang disampaikan Bung Karno terbukti sekarang. Diakui atau tidak, ada sekelompok orang di negeri ini yang coba-coba mengganggu makna kemerdekaan RI dengan mengibarkan bendera bangsa lain. Bukan bendera merah putih.

Di saat bangsa ini berusaha merdeka dari covid-19 dan melawan virus ini, ada sekelompok atau gerombolan yang berharap pemerintah gagal menangani virus tersebut.

Aneh bukan? Ya, itulah situasi dan kondisi Indonesia di saat usia kemerdekaan kita 76 tahun.
Namun, kita, setidaknya saya, bangga ada anak bangsa — usia mereka relatif muda — yang lewat pikiran, gagasan, opini dan tulisan terus berjuang mempertahankan NKRI yang sangat bhineka ini.

Sebagian dari mereka adalah kawan-kawan saya. Di saat kita berbahagia merayakan ulang tahun ke-76 Indonesia hari ini, saya salut dan memberikan apresiasi kepada mereka yang berani bersuara di belantara media sosial tentang Indonesia yang memang harus dibela dan ditegakkan di saat ada sekelompok orang yang sengaja dengan sadar untuk merubuhkannya.
Mereka seolah tidak peduli dengan kata-kata Bung Karno bahwa melawan saudara sebangsa sendiri lebih sulit daripada penjajah.

Saya sebenarnya sudah lama ingin menulis sosok siapa sebenarnya mereka, sebab bakal memunculkan pro dan kontra. Sangat mungkin apa yang saya tulis di sini bisa saja dianggap lebay. Sampah.

Tapi, di hari baik ini, saya coba memberanikan diri untuk menyebut siapa orang yang saya maksud.

Cepat atau lambat sejarah republik ini akan mencatat bahwa mereka telah mati-matian melawan perongrong negara lewat tulisan dan kata-kata meski mereka tidak terlibat dalam jabatan formal di pemerintahan atau lembaga negara.

Mereka adalah pertama, Denny Siregar. Penyuka kopi ini siap pasang badan jika negeri ini dirongrong oleh mereka yang jelas-jelas akan menihilkan keberagaman di negerinya, Indonesia.

“Saya akan lawan,” katanya ketika diwawancarai Andy Noya dalam acara Kick Andy di Metro TV belum lama ini.

Hampir seminggu sekali dua kali ia tampil di Cokro TV dan 2045 TV untuk menyuarakan kebenaran tentang apa yang diyakini tentang Indonesia. Ia selalu mengajak penontonnya untuk membongkar para “penjahat” negara.

Kedua, Ade Armando. Sebagai dosen di Universitas Indonesia, kalau ia mau, sebenarnya Armando lebih nyaman dan aman jika diam saja dan cukup menjalankan tugasnya mengajar.
Namun, ia gemas sebab banyak saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air yang alergi menggunakan akal sehatnya untuk memajukan bangsa.

Karena tak berakal sehat, menurut Armando, mereka berprinsip “pokoknya”. Merasa paling benar, sampai-sampai suku Minang yang melekat pada sosok Armando pun dicabut oleh mereka yang merasa punya suku.

Sama seperti Denny Siregar, Armando pun selalu bersuara nyaring jika di negeri yang ia cintai terjadi kasus ketidakadilan yang menimpa saudara-saudaranya kaum minoritas.

Ketiga, Eko Kuntadhi. Anda mungkin saja tidak sependapat dengan cara Eko mengungkapkan cintanya kepada negeri ini — terlalu vulgar — lewat media sosial, namun apa yang disampaikan adalah wujud bahwa ia peduli kepada Indonesia.

Diwawancarai Deddy Corbuzier, Eko Kuntadhi berterus terang bahwa apa yang dilakukannya adalah sebagai bentuk tanggung jawab dia untuk membela Indonesia dari rongrongan kaum intoleran/radikal yang menginginkan negeri ini seperti Suriah atau Afghanistan sekarang.
Keempat, Supriyanto Martosuwito. Wartawan senior ini juga tidak bosan-bosannya bersuara tentang kebhinekaan lewat tulisannya di Facebook.

Karena mencintai Indonesia, khususnya budaya, dalam tulisannya, ia tidak bosan-bosannya menyuarakan bahwa perempuan Indonesia kini telah kehilangan “mahkota” di kepalanya dan kain kebaya yang membuat puteri Indonesia yang mengenakannya semakin anggun dan cantik.

Dari tulisan dan sikapnya, ada yang menyimpulkan ia lebih respek kepada Indonesia daripada agama yang dianutnya. Padahal saya yakin tidak demikian.

Kelima, Rudi S Kamri. Dulu ia sering menulis di Facebook jika ia merasa resah karena negeri ini diusik oleh pengusung ideologi di luar Pancasila.

Ia juga selalu tampil di muka jika ada gerakan intoleransi dan radikalisme yang menyalahgunakan dan mendompleng agama untuk berpolitik dan meraih kekuasaan.
Sudah beberapa tahun ini Rudi Kamri menyuarakan kebenaran tentang Indonesia di kanal Youtube.

Di luar kelima orang di atas, pastinya masih banyak sosok pembela Indonesia yang sangat mungkin belum saya ketahui.

Silakan kalau Anda mau tambahkan. Sebut nama dan peran mereka untuk negeri ini di kolom komentar.

Mari kita apresiasi kegigihan dan perjuangan mereka untuk menjadikan Indonesia tangguh dan Indonesia tumbuh.

(Sumber: Facebook)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed