by

Pak Moeldoko dan Nasi Uduk

Oleh: Supriyanto Martosuwito

“Ada apa Mas Pri? “ tanya Pak Moeldoko KSP – Kepala Staf Kepresidenan, begitu saya mendekat di sebelahnya, di kantor Bina Graha, siang itu.

“Saya kangen Pak Moel, “ jawab saya basa basi.

“Akh, bisa saja. Saya dengar Mas Pri bertengkar dengan Haris Jauhari, ya?” tanyanya.

“Kok Bapak tahu?” saya kaget. “Bapak dilapori siapa?” saya menyeldidik heran.

“Sudahlah. Ada masalah apa? Kalian kan sama sama wartawan, seangkatan lagi. Kenapa?”

“Malu nyebutnya…” saya tertunduk.

“Cerita aja, ‘kan di sini cuman berdua, ” bujuknya

“Soal tempat makan, “ jawab saya, pelan.

“Kenapa?”

“Selama ini kalau Haris ngajak makan di tempat nasi uduk melulu. Kadang pindah ke Pecel Lele di tenda. Padahal ‘kan dia kaya? Saya tersinggung, “ jawabnya.

“Oh, begitu…”

“Bapak suka yang mana ? Nasi uduk di Tanah Abang atau Nasi Goreng Kebon Sirih..” saya balik bertanya.

“Wah dua duanya enak…” jawab pak Jendral.

“Memang tapi haris ngajaknya nasi uduk Pasar Minggu…”

“Lha kok jauh..?” Pak Moel mendongak heran.

“Soalnya dekat rumahnya. Dia memang nggak fair, ” saya merepet.

“Jadi masih marahan ya?”

“Sudah nggak lagi. Sudah saya tegur dia. Saya marah bener. Terus dia ngajak damai. Dia bilang, ‘Ya, udah . Maunya makan di mana?’. Saya bilang, ‘di mana saja, yang penting mahal! ’, “ saya cerita.

“Oh, ya? ” Pak Moel kaget.

“Terus dia ngajak saya. Makan di Restoran Turki di Kemang, “ jawab saya mengoreksi.

“Wah

hebat. Makan apa saja?”

“Macam macam, ada daging domba asap, empuk sekali. Pakai bayem halus. Ada roti yang kayak pizza, tapi pakai sayuran khas Turki. Baru sekali ini, ngerasain Turkish Tea juga. Wah, enak semua”

“Luar biasa, “ Pak Mul semringah

“Haris janji ngajak lagi. Soalnya, di sana suka ada pertunjukkan bellydance, katanya. Tari Perut, Pak, ” saya berbisik.

“Wah, wah.. Kok mendadak bisa lompat begitu? Dari tenda Pecel Lele di tenda pinggir jalan ke Restoran Turki”

“Soalnya dia pas bareng isterinya. Gengsi ‘kali? “ kata saya.

“Yang wanita Jepang itu ya? Siapa namanya?” tanya Pak Moel.

“Noriko. Anak buah Bu Sri Mulyani waktu di Word Bank, “ saya menjelaskan.

“Pantesan…”

“Ya, gitu itu Haris, Pak. Kalau lagi sama isteri ngajaknya ke Resto Turki, ke Resto Saigon, yang ada live music-nya. Lagu lagu Oldist. Tahu aja, yang datang pensiunan. Ditawarin ngebier segala, ” saya melapor kejadian kemarin.

“Wah, kayak boss dong!?”

“Padahal, kalau lagi bedua, cuman paling pesan nasi Padang. Nggak bergengsi, “ kata saya.

“Katanya penggemar rendang? Kan rendang paling enak di dunia, “ katanya.

“Iya sih. Tapi dibelinya pakai Go Food, bukan ke restorannya, “ jawab saya.

“Ooh gitu…” Pak Moel manggut manggut.

“Kayaknya saya pengin ngajak makan makan kalian, “ ujar Pak Moel lagi.

“Asyik . Kalau bisa jangan ngajak Gunawan Wibisono, ya Pak?”

“Kenapa dia. Kan teman kita?” tanyanya

“Dia suka nambah. Nambahnya dua kali, “ bisik saya.

“Bisa begitu…?”

“Memang begitu…”

“Kuat ya?”

“Dia kan Petani, Pak. Tinggal Di Bogor. Biasa bangun pagi, ke ladang. Makannya lahap, “ kata saya.

“Begitu ya?”

“Suka nambah bier lagi…” saya berbisik lagi

“Wah…Petani suka ngebir, baru saya dengar?!” kata Pak Moeldoko heran.

“Dia lama di Belanda, Pak. Di sana minum bier kayak minum air sumur di sini”

“Oh, begitu..”

“Biernya Heineken, Pak?”

“Mas Pri suka?”

“Suka juga, kemarin kami minum bareng. Bier dingin dari Bintang . Hmmm lembut. Penginnya sih Heiniken. Banyak yang suka di sini. Waktu ada E-Formula kemarin jadi sponsornya,” saya jelaskan panjang lebar.

“Oh, ya..Kok Nggak ngajak ngajak…”

“Bapak sibuk sekali…”

“Ya memang…Tapi kapan kapan boleh juga…”

“Senang sekali kalau Bapak yang nraktir..”

“Lupa ngabarin Mbak IUT habis ulang tahun! Dirayain di rumah, di Jagakarsa, ” saya melapor

“Oh, ya. Sampaikan salam saya. Selamat Ulang tahun. Tambah sukses”

“Nanti saya sampaikan”

“Ngomong ngomong Luna Maya ke mana?”

“Lagi di Moscow, terus keliling Eropa, Pak. Tour apa nggak tahu. Ada di instagramnya, “ kata saya.

“Kalian masih suka ketemu…” selidiknya.

“Masih…Dua tiga kali seminggu,…”

“Tambah mesra, ya?”

“Doakan kami Pak…”

“Pastilah. Kalian cocok kok, “ Pak Moel tersenyum.

“Ngomong ngomong ketemunya di mana..” tanyanya.

“Di kamar Pak, langsung di ranjang…”

“Waaah….”

“Maksudnya dia di ranjangnya, saya ya di rumah saya, “ jelas saya.

“ Ooh gitu..? ”

“Seringnya ngimpi’in aja pak…” saya curhat.

“Kasihan…” Pak Moel iba.

Mendadak ajudan datang, tamu berikutnya mendunggu.

Pak Moeldoko pamit. “Salam saya sama Haris Jauhari dan Gunawan, Matt Bento, Teguh Imam Suryadi, Mbah Cocomeo, Uda Yon Moeis, Wartawan Bangkotan, Liliek S. Lie, Lela Anggraini, Cahaya Anugrah, IUT. Pokoknya grup kalian semua” kata Pak Moel.

“Sama Luna Maya?”

“Ya, sama Luna Maya juga…”

“Disampaikan Pak! Terima kasih!” ***

PS :

Tak lama kemudian ajudan kembali datang menanyankan di mana cafe yang ada beernya. Saya minta nomor hapenya. Nanti saya tanya dulu sama Gun. Soalnya dia yang tahu. Saya cuman numpang duduk sama minum. Ajudan manggut manggut kasi nomor hape. “Buat mas Pri aja, ” katanya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed