by

“Celeng” Bukan Istilah Baru di PDIP, Julukan untuk Pembangkang

Oleh: Alana Budiman

Konflik internal PDIP kian memanas. Wakil Ketua DPC PDIP Purworejo, Albertus Sumbogo bersikap demonstratif dengan mendeklarasikan dukungan kepada Ganjar Pranowo, saat partai melarang para kader membicarakan tentang Capres 2024. Sudah menjadi tradisi di PDIP, terkait siapa yang akan diusung dalam Pilkada maupun Pilpres merupakan wewenang Ketua Umum. Oleh karena itu sikap Albertus dianggap sebagai pembangkangan. 


Petinggi PDIP, Bambang Pacul, menyebut rombongan pendukung Ganjar sebagai “celeng”.  Celeng, representasi dari hewan liar yang buas, predator yang mewakili sikap culas dan tak segan menyerang kawan sendiri saat berebut makanan. Banteng hidup berkelompok, dipimpin seorang banteng yang berwibawa. Celeng hidup sendiri dan cenderung merusak sekitarnya.

Istilah celeng, sesungguhnya sudah digunakan PDIP sejak lama. Dikatakan Hal itu mengacu pada kedisiplinan partai yang pernah disinggung Presiden Soekarno pada salah satu pidatonya pada 23 Januari 1945. Saat itu Bung Karno mengatakan syarat terbentuknya partai pelopor adalah disiplin kader partai. 

Maka seluruh kader PDIP harus disiplin. Harus berpedoman pada sikap politik dan kebijakan organ perjuangan partai. Banteng yang menjadi simbol PDIP adalah hewan yang hidup berkelompok dengan satu pimpinan. Kelompok banteng dipimpin oleh jantan perkasa yang bisa melindungi kelompoknya. Kader banteng sejati paham dengan posisi dan kewajibannya. Sedangkan celeng menjadi sebutan bagi mereka  yang mengaku kader PDIP tapi ternyata sikapnya tidak sesuai dengan karakter PDIP. 

Jadi istilah banteng itu adalah kader yang sebenar-benarnya kader PDIP. Yang disebut dengan istilah celeng itu adalah kader yang membangkang dari ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan partai. Lucunya, mereka yang lebih dulu main api, melawan garis partai, sekarang playing victim ketika disebut celeng.

Disebut celeng bagi yang mengetahui artinya mestinya memang akan malu. Siapa orang yang mau disematkan sebutan “perusak, predator, culas”? Tapi rupanya tidak demikian bagi sejumlah pendukung Ganjar. Ada yang malah bangga dengan sebutan itu. Bahkan ada yang membuat logo “Barisan Celeng Berjuang” untuk mendukung Ganjar. Entah karena memang tidak tahu artinya, atau memang sengaja ingin berbuat onar dalam tubuh PDIP. 

Ganjar sendiri lepas tangan dengan ulah para pendukungnya. Dia mengatakan tidak tahu. Ada yang percaya?  Yuk ngakak bareng… Padahal besar kemungkinan kini Ganjar sedang menikmati ontran-ontran di partai yang membesarkannya. Dia mengatakan, “Saya urus Covid saja.” Padahal kasus Covid di Jateng termasuk di deretan paling banyak di Indonesia. Sedangkan kinerjanya juga tidak kelihatan, bila dilihat penyerapan anggarannya, termasuk rendah dibanding provinsi lain dan terendah bila dibandingkan Jatim, Jabar dan DKI. Adapun inisiatif ‘jogo tonggo” yang diviralkan itu, sudah dilakukan para warga tanpa harus disuruh. 

Kasihan memang para relawan. Sudah tangan dan mulutnya dipinjam untuk popularitas. Sebelumnya diperalat untuk menyerang habis-habisan Puan Maharani, yang notabene juga berasal dari PDIP.  Tak hanya itu, bahkan tangan relawan kini juga dipinjam untuk melakukan pembangkangan terhadap partai. Para pembangkang ini bak anak yang membakar rumahnya sendiri tempat dia dibesarkan dan menyakiti saudara kandungnya. Sekarang ketika ada perlawanan yang lebih keras, relawan juga yang harus di garis depan. Mereka juga yang harus menanggung akibat ketika benar-benar terjadi risiko yang merugikan, seperti dikeluarkan dari partai. Sementara yang mengaku tidak tahu itu, asyik melakukan deal-deal tingkat tinggi. 

Boleh saja mengaku tidak tahu. Tapi gelagatnya jelas, aslinya dia tahu betul, sikap pembangkangan yang dilakukan pendukungnya akan membuat PDIP makin antipati. Tapi sepertinya dia tidak ambil peduli. Dengan dukungan relawan, tim medsos dan para buzzer/influencer yang sudah disiapkan sejak dua tahun lalu,  yang bersangkutan sudah sangat percaya diri bakal punya bargaining kuat di luar partai bila tidak diajukan PDIP. Ambisinya hanya maju nyapres, entah dari PDIP atau partai lain.

Akhirnya, semua akan pragmatis pada waktunya. Mari kita simak sambil ngakak.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed