by

Politik Jalan Ninja

Oleh : Sunardian Wirodono

Kaesang Pangarep jadi Ketua Umum PSI, dan dunia gempar. Banyak yang marah-marah. Di medsos banyak yang muntah-muntah. Sementara di berbagai media online, para pengamat atau analisis politik, menguraikan tafsir-tafsir normatif, dalam tarikan benar dan salah.

Aneh. Politik jadi kehilangan imajinasi. Padal yang mereka amati adalah perilaku politik Indonesia yang elitis. Yang orangnya itu-itu juga dan sangat cair. Hati-hati, terjebak dalam kecemasan dan besarnya mimpi kita sendiri.

Tidak ada yang salah Kaesang menjadi ketum partai. Anak siapapun dia. Termasuk juga tak salah AHY jadi ketum partai. Atau dulu, Ibas Yudhoyono, Prananda Surya Paloh, Zita Anjani, Ridho Rahmadi dan sebagainya.

Preferensi kita dibatasi oleh referensi liyan, yang kadar kelekatannya tak kita ketahui. Padal, ada banyak kemungkinan latar-belakang yang tak kita ketahui. Karena pada sisi yang lain, jika Jokowi sebagai faktor penyebab, kita tak mampu melihat perihal Jokowi Factor, atau apalagi melihat dari sisi kepentingan Jokowi secara empatik.

Kita tak mau atau tak mampu mengandaikan, bagaimana berada dalam posisi Jokowi dalam memecahkan lapisan batu es, hingga harus memakai bridging communicator bernama Kaesang? Sebagaimana Bung Karno dalam situasi kritis menjelang 1965, dan mimpi tentang persatuan nasional yang berada dalam bahaya?

Sementara sikap PDI Perjuangan, yang semuanya tergantung Ibu Ketum Megawati, menjadikannya kontra-produktif. Bola salju menggelinding makin membesar. Menggerus para jokower dan jokowis ambyar. Relawan yang solid pada 2014-2019, bermetamorfosis menjadi kelompok kepentingan yang begitu mudah ditunggangi.

Saya tak ingin mengunci dengan tafsir saya sendiri, kecuali ingin mengajukan pertanyaan; Apakah justeru bukan karena untuk mendukung Ganjar Pranowo, untuk memastikan kemenangan Ganjar Pranowo dalam Pilpres 2024? Masih akan banyak drama hingga penutupan pendaftaran capres. Dan Jokowi mungkin masih akan terus berkelindan untuk memastikan semuanya fine-fine dan fun-fun saja.

Demi apa? Pertanyaannya bukan demi apa, tetapi; Karena apa? Tidak mudah dijelaskan dalam forum terbuka, karena posisinya sebagai Presiden. Kita sudah tahu pernyataan sebelumnya. Jokowi punya akses informasi intelijen yang lengkap. Tapi kenapa ia tidak tahu ada peristiwa pencekikan di sidang kabinetnya? Tidak secara tegas membantah, tapi malah meminta kita mengecek kebenarannya? Bagaimana cara kita rakyat jelantah mengeceknya? Tidak penting.

Sementara dari berbagai soft-campaign tiga bacapres kita, sekiranya setuju dengan Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto; siapa yang paling genuine antara track record, pernyataan, gesture, dan karakter kesehariannya?

Cobalah lakukan simulasi sederhana. Dalam dunia komunikasi, ada rumus sederhana untuk memahaminya. Ialah meninjau dari sisi sosiologis, berangkat dari persepsi kesamaan latar belakang (perceived similarity). Kemudian coba lihat dari sisi alasan psikologis –ini yang selalu menjadi alasan kuat ketika sistem pilpres diubah menjadi langsung oleh rakyat sejak 2004. Baru kemudian, tinjauan dari sisi track-record. Kemampuan mengatasi masalah dan segala sesuatu yang terkait dengan prestasi dan reputasi.

Dengan tiga alasan pendekatan itu, mustinya kita tidak mudah digoyang hoax, ataupun tafsir-tafsir bertendens yang bertebar di berbagai medsos, atau yang datang membawa amplop. Karena dalam silang-sengkarut pragmatisme politik dan oportunisme, kita kadang harus menempuh jalan ninja. Hiyaaat, keep ‘n calm, dan jangan lupa pula doakan kemulusan jalan ninja Putri Ariani. |

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono III

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed