by

Beragama Itu Bukan Ngitung Kebaikan

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Setiap orang mungkin pernah mengalami suatu keajaiban dalam hidupnya. Misalkan dalam kondisi kepepet tiba-tiba ada pertolongan tidak terduga. Tapi kalau dirunut lebih jauh ternyata yang ajaib itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Selalu ada benang merah dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Entah kejadian yang sudah lampau, entah kejadian yang melibatkan orang tua atau saudara kita. Dalam beragama saya termasuk yang dulu suka mengaharap keajaiban. Misalkan dengan membaca ayat kursi sekain kali, maka setan-setan akan menjauh.

Atau menjalani puasa syawal dosa setahun sebelumnya akan dihapus. Kalau sholat sunat sebelum subuh akan mendapat pahala dunia seisinya. Kalau arbain, sholat 40 rekaat berturut2 di mesjid Nabawi bakal mendapat pahala sekian ratus kali ibadah di tempat lain. Termasuk menunggu dapat lailatul qadar yang setara dengan kebaikan 1000 bulan.Tetapi setelah berjalannya waktu, melakukan perenungan dan melihat ke belakang, saya nggak ingin mengharap lagi keajaiban-keajaiban seperti itu.

Saya semakin percaya semua proses di dalam hidup itu berjalan sesuai hukum alam, sesuai sunatulloh. Tidak ada yang instant. Seperti tumbuhnya pohon beringin besar, dia melalui tahap benih, perlahan tumbuh, dari detik ke detik batangnya makin besar dan tinggi, daunnya makin banyak, akarnya makin kuat. Setelah sekian tahun baru kelihatan besar. Tapi tidak akan terjadi karena disiram air lalu batangnya tumbuh setinggi 2 meter dalam sehari.

Tidak pernah terjadi.Orang yang biasa berbuat baik mungkin dia akan mendapatkan imbalannya pada saat dia kepepet dari arah yang tidak terduga. Alam itu adil. Orang yang biasa memeras, suatu saat pasti akan kena peras, entah lewat anaknya atau dalam bentuk yang lain. Orang yang pernah mencelakakan orang tak bersalah hingga masuk penjara,mungkin suatu saat akan mengalami dipenjara dengan kondisi lebih buruk.

Kembali lagi dalam beragama, sekarang saya akan memilih sikap dan keyakinan bahwa semua terjadi dalam keteraturan. Tidak ada yang instan, tidak ada pemutihan tiba-tiba. Perubahan kepribadian dari buruk menjadi baik akan berlangsung secara gradual, perlahan dengan delta yang kecil dan tidak tetap. Jika terjadi perubahan yang ekstrim kemungkinan ada yang salah di situ, itu hanya keterkejutan bukan sesuatu yang bertahan lama. Yang alami biasanya berlangsung perlahan dan berkesinambungan.

Iming2 pahala instant yang luar biasa besar dalam ibadah ritual hanya akan melahirkan sikap transaksional dalam beribadah, tidak tulus, pingin cepat, tidak telaten dan tidak sabar. Banyak koruptor mengira dengan umroh dosanya akan terampuni. Tuhan diajak berbisnis.Tidak bisa juga berbisnis dengan mengandalkan solidaritas umat yang emosional menjanjikan surga sementara kompetitornya membangunnya dengan usaha rasional, susah payah agar bisa melayani masyarakat dengan baik.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed