by

Kekerasan Atas Nama Apapun Tetap Salah

Oleh : Islah Bahrawi

Kekerasan bukan soal melihat atau mendengar, ini soal bagaimana manusia merasakan kegetiran akibat kekejaman tanpa batas yang lalu membuatnya ragu terhadap apa yang dilihat dan didengar. “Dari sana lah banyak manusia memilih untuk menjadi setan ketimbang menjadi monster”, kata seniman Manga, Kouta Hirano.

Kekerasan adalah trauma yang melekat tanpa harus dihafal, ia melahirkan ketidakpercayaan kepada apapun, termasuk kepada sesuatu yang “well-defined”.Saya meyakini sepenuhnya, orang-orang yang memilih kabur dari Afghanistan bukan hanya trauma karena aksi kekerasan Taliban, tapi juga takut kepada ajaran yang dipeluknya. Sebagian rakyat Afghanistan bahkan menganggap bahwa legalitas kekerasan di tanah airnya dilahirkan akibat persekongkolan Tuhan, agama dengan Taliban. Beberapa pencari suaka asal Afghan yang saya kenal di Amerika kebanyakan tidak menjalankan praktik agama.

Mereka putus asa, setelah bertahun-tahun Tuhan hanya “hadir” dalam cambuk-cambuk yang dilecutkan ke punggungnya. Anda mungkin belum pernah membaca karya Abu al-A’la al-Ma’arri. Seorang penyair buta yang hidup pada abad ke-10 dari Aleppo, Suriah. Setelah merasakan bagaimana tiran melakukan kekerasaan atas nama Tuhan, al-Ma’arri menjadi pesimis terhadap bumi dan langit. Dia menjadi pertapa, vegetarian, membenci kelahiran, anti kepada nabi-nabi, kitab suci dan tentu saja kepada agama.

Dia menulis dalam Luzumiyyat: “Mereka semua salah; Muslim, Yahudi, Kristen, dan Zoroaster.Kemanusiaan hanya mengikuti dua sekte di seluruh dunia: Satu, manusia cerdas tanpa agama. Kedua, manusia beragama tanpa kecerdasan.” Silakan kita menghakimi Al-Ma’arri. Tapi kekerasan atas nama Tuhan selalu mencoreng pemikiran teologis bagi sebagian manusia, yang terjadi sejak abad pertengahan hingga era Richard Dawkins hari ini. Ruang pertobatan yang disediakan Tuhan, seolah dikunci rapat oleh sebagian manusia dan diubah menjadi intimidasi, penindasan, dan percepatan kematian.

Di tangan manusia-manusia brutal, agama gagal menghadirkan Tuhan dengan atas nama tuhan. Demi kekuasaan, Tuhan tidak dihadirkan sebagai yang Maha Pengasih dan Penyayang. #lawanintoleransi#antiradikalisme

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed