by

Bebek Tentara

Oleh : Godly Raja Lubis

Aku punya paman yang seorang tentara. Orangnya tegas, dan jujur.Kalo soal kejujuran, itu sudah jadi prinsip bagi dia. Katanya, saat dia menjalani seleksi SECABA, ada satu sesi dimana instrukturnya bertanya, “Siapa di antara kalian yang sampai di tempat ini tanpa beking dan tanpa menyogok?” Konon, dari ratusan peserta, cuma pamanku yang berani tunjuk tangan.Aku ga tahu apakah instrukturnya benar-benar melontarkan pertanyaan itu. Tapi, kalo soal “tanpa beking dan tanpa sogokan”, aku yakin itu memang benar. Sebab aku kenal keluarganya. Keluarga petani–yang mustahil bisa ngasi duit sekian puluh juta sebagai “sogokan”.

In fact, tiga dari adik-adiknya juga mengikuti jejaknya menjadi tentara. Dan mereka semua bintara. Sama sekali bukan pangkat yang bisa dijadikan “beking”. Tapi, mungkin latar belakang beladiri yang mereka punya menjadi faktor pertimbangan yang penting bagi panitia seleksi. Karena mereka semua menyandang sabuk hitam Taekwondo.

Masalahnya, sejak jaman kuda gigit besi hingga sekarang, yang namanya gaji tentara tidak pernah memadai. Selalu pas-pasan. Ga pernah kelaparan, tapi ga pernah “sejahtera”. Di era Soeharto, tentara punya “dwifungsi”. Meski hal ini dipandang sebagai sesuatu yang baik di atas kertas, tapi kenyataannya hal ini cuma dijadikan dalih agar tentara bisa berbisnis. Atau dalam bahasa kerennya : dikaryakan. Pada akhirnya, “dwifungsi” tentara hampir tidak ada bedanya dengan “kartel mafia”.

Pamanku tidak pernah terpikir untuk melakukan hal-hal semacam ini. Lagipula, tak lama setelah dia masuk sebagai tentara… Reformasi bergulir, Orde Baru tumbang, dan “dwifungsi” tentara kemudian dihapuskan. Pamanku harus mencari cara lain untuk menambah penghasilan. Kebetulan, di sekitar batalyon tempat pamanku berdinas ada beberapa peternakan bebek. Saat senggang, ia sering main ke sana. Pengen belajar, katanya. Siapa tahu suatu saat dia juga bisa beternak bebek.

Setelah merasa cukup tahu, pamanku kemudian melakukan investasi. Di salah satu peternakan berkapasitas 10.000 ekor, ia menginvestasikan 2.000 ekor bebek. Sisanya yang 8.000 ekor, milik si peternak. Yang mengurusnya, tentu saja si peternak. Setiap beberapa waktu, pamanku juga menyetorkan biaya pembelian pakan dan kebutuhan lainnya. Semua peternak tahu bahwa salah satu resiko beternak adalah angka kematian. Karena 10.000 ekor anak bebek tidak akan pernah jadi 10.000 ekor bebek yang siap-jual. Beberapa persen di antaranya pasti mati. Itu pasti, dan peternak paling kawakan sekalipun tidak akan bisa membuat angka kematian menjadi nol. Jadi, para peternak hanya berusaha mengontrol agar angka kematian ternaknya tidak terlalu tinggi.

Tapi, pamanku tidak mau tahu soal itu. Ketika si peternak melaporkan bahwa sekian ekor bebek mati, pamanku menjawab, “Kalo ada bebek yang mati… itu bebek milikmu. Karena bebek milikku bebek tentara. Mati satu tumbuh seribu. “Si peternak kaget mendengar jawaban itu. Tapi akhirnya dia cuma bisa ngakak .Kalau dihitung-hitung, si peternak juga ga bisa bilang kalo dia jadi rugi sih… Sebab, selain angka kematian, dia juga sering menghadapi macam-macam persoalan.

Misalnya, sering ada “pemuda setempat” yang malak 10-12 ekor bebeknya dengan alasan “acara muda-mudi”. Kalo cuma sekali seminggu sih masih mending… Tapi kalo tiap hari?!? Atau sering juga ada anggota “serikat buruh” yang malak saat dia mendapat pasokan pakan. Mereka selalu maksa untuk mengerjakan urusan bpngkar muatan. Padahal, urusan bongkar muatan seharusnya sudah termasuk servis yang diberikan toko tempat ia membeli pakan. Dan si peternak tidak perlu lagi keluar biaya untuk itu .Aneh-aneh, pokoknya.

Nah, sejak pamanku berinvestasi di peternakannya, si peternak bisa “mengusir” mereka semua dengan mudah. Siapapun yang datang, dia tinggal bilang, “Itu bebek tentara lho!” Padahal bebek yang tentara kan cuma 2.000 ekor!//

Sumber : Status Facebook Godly Raja Lubis

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed