by

Apa Selama Ini Kita Sesat?

Setelah mendapat jaminan keamanan, Abu Sufyan pun pulang ke rumahnya. Ketika ditanya istrinya, apakah kita sesat, jawabannya ya kita sesat selama ini.

Pelajaran berharga dari kisah Abu Sufyan ini, sejahil-jahilnya musyrikin Mekkah, mereka akhirnya sadar juga atas kekeliruannya selama ini. Ini adalah ciri bangsa Arab yang patut diteladani.

Hidayah itu kalau sudah Allah yang memberikan, tidak ada yang bisa mencegahnya.

Begitulah Abu Sufyan, dia menyadari kekeliruannya. Dan kalau pun harus kalah menyerah, tidak jadi masalah. Namanya orang keliru, ya manusiawi. Toh semua masih bisa diperbaiki. Masuk Islam belakangan, juga oke-oke saja, tidak jadi hina juga.

Malah Abu Sufyan dihormati dan dimuliakan oleh Nabi SAW lewat pengumuman : Siapa yang berlindung di rumah Abu Sufyan, dia aman.

Padahal berlindung di rumah sendiri pun dijamin aman juga. Tidak harus di rumah Abu Sufyan juga. Tapi Nabi SAW ingin membesarkan hati mantan musuhnya itu. Toh dia sudah masuk Islam. Maka diberikan status yang mulia.

Begitulah keteladanan Nabi SAW yang mulia. Semua musuhnya yang masih hidup satu per satu akhirnya masuk Islam juga.

Saat detik-detik wafatnya Beliau SAW, ada ribuan sahabat yang menangisinya. Padahal dulu di awal era dakwah, mereka adalah musuh bebuyutannya, yang berniat jahat ingin membunuhnya.

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed