by

Zakir Naik, Mamah Dedeh dan Industri Agama

Jadi bayangkan, untuk mengeluarkan sebuah fatwa saja, perjalanan mereka panjang sekali. Bisa usia 70-80 tahun baru disana disebut ulama. Begitu juga di Mesir, kurang lebih sama.

Nah, bandingkan dengan Zakir Naik – apalagi Mamah Dedeh – yang mendadak jadi rujukan banyak orang. Ulama itu tanggung-jawabnya sangat berat karena dia rujukan umat, sebab fatwa ibarat pedang runcing nan tajam yang bisa menggorok leher mereka sendiri.

 

Tapi pasar memang berbeda. Fatwa menjadi industri baru yang harus diproduksi sebagai sebuah barang siap makan. Komersialisasi ulama menjadikan banyak penceramah instan yang disukai orang yang beragama dengan instan juga. Ada penceramah rasa kari ayam, ada yang ayam bawang, malah ada yang rasa rendang.

Dan si pencari agama juga memilih sesuai selera. Ada yang suka karena si penceramah tampan, ada yang suka model yang memaki-maki dan ada yang suka karena “pokoknya dia terkenal, sering masuk tipi..”.

Mereka bahkan tidak mau sulit-sulit melakukan identifikasi, siapa yang memasukkan ilmu ke otak mereka ? Jangan-jangan tukang tambal ban yang hapal satu dua ayat doang, trus ganti profesi karena jadi ustad lebih bergengsi..

Begitulah kenapa nama Zakir Naik melejit, karena ia menggunakan youtube sebagai promosinya. Ditambah judul yang bombastis, “Zakir Naik membuat seribu orang Hindu masuk Islam..”. Makin heroiklah dia di kalangan bumi datar yang memimpikan seorang superhero dengan cawat di dalam.

Jadi, untuk apa saya menjadikan Zakir Naik sebagai rujukan kebenaran dan kesalahan ?

Apalagi ditambah iklan, “Pilih yang cawatnya di dalam. H a l a l… Mamah tau sendiri..”

Ah, enaknya malam ini bikin kopi lagi. Seruput ahhh **

Sumber : facebook Denny Siregar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed