Mengapa Anies-Sandi Tak Mau Debat?

Yang jelas, pasca debat, siapa yang berhasil unggul (berdasar penilaian publik) dalam debat, dia lah yang akan mengantongi elektabilitas tertinggi. Dan survei SMRC telah memperlihatkan itu di mana Ahok-Djarot naik sekitar 6 persen, Agus-Sylvi turun 8,3 persen, dan Anies-Sandi naik 2 persen.

Selain SMRC, Media Survei Nasional (Median) juga memperlihatkan efek debat terhadap elektabilitas masing-masing paslon. Ini lagi-lagi membuktikan bahwa hasil debat punya efek signifikan dalam hal mempengaruhi pilihan politik pemilih yang menontonnya.

Semisal, ditunjukkan oleh Median, jika range undecided voters yang menonton acara debat berkisar 45 sampai 54 persen, maka separuh dari swing voters berpotensi akan terpengaruh oleh penampilan paslon yang berdebat. Jika undecided voters berkisar 15 sampai 20 persen, maka akan ada sekitar 8 sampai 10 persen suara tambahan yang diperebutkan oleh kandidat.

Meski bukan satu-satunya media pendobrak elektabilitas, tapi setidaknya debat memberi efek nyata; positif bagi yang penampilannya menarik, dan negatif bagi yang berpenampilan sebaliknya.

Memang, plus-minus dari efek debat terang akan membuat dilematis bagi para paslon. Dan hal ini berlaku, tidak hanya ketika paslon terlibat di dalam debat, terlebih ketika paslon tertentu memilih untuk tidak terlibat, seperti kasus Anies-Sandi tadi malam.

Jika terlibat (ikut debat), yang tampil secara menarik di hadapan publik lah yang lagi-lagi akan mendapat nilai positif dari calon pemilih. Apalagi warga Jakarta relatif lebih cerdas (berpendidikan/rasional) ketimbang warga dari provinsi lainnya. Itu sebabnya debat menjadi media utama dalam menilai paslon sebelum akhirnya benar-benar menjatuhkan pilihannya di bilik pencoblosan suara.

Tapi jika tidak terlibat, pun begitu ketika kalah dalam debat, wajar kiranya jika pemilih di Jakarta akan banyak yang melarikan dukungannya ke paslon yang lebih mampu menjelaskan rencana-rencana program kerjanya secara seksama daripada yang tidak/kurang mampu.

Bagaimana mungkin warga pemilih mau menilai jika debat saja harus dihindari? Memang akan terkesan aman jika memilih untuk menghindar debat daripada ketahuan bahwa program yang ditawarkan hanyalah program yang awuk-awukan, tidak jelas ujung-pangkalnya. Hanya saja, melihat keramaian di media sosial Twitter, tak ikut debat ataupun kalah dalam debat, sama-sama berefek negatif terhadap elektabilitas paslon yang bersangkutan.

Dan untuk diingat-ingat saja, adalah jauh lebih berharga ketika kalah dalam perang daripada harus menghindarinya; lebih baik bertarung meski kalah daripada tidak bertarung sama sekali hanya karena takut kalah. Yang terakhir inilah yang disebut sebagai pecundang.

 Apakah Anies-Sandi pecundang, takut kalah? **

Sumber : qureta

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *