by

Wasekjen PAN Minta Pejabat Diistimewakan, Usul Bangun RS Pejabat, Memalukan!

Oleha: Alana Budiman

Wasekjen PAN bernama Rosaline Irene Rumaseuw ini jelas tidak layak menyebut dirinya politisi. Bahkan dia tidak layak menyebut dirinya manusia. Manusia punya hati nurani. Ini tidak.

Bagaimana mungkin seorang politisi, di saat seperti ini tidak memikirkan rakyat, tapi malah menonjolkan egonya sendiri. Dia hanya peduli pada diri sendiri, dan keluarganya di tengah badai pandemi Covid-19 yang sangat menyusahkan hidup rakyat banyak saat ini.
Ingin ku berkata kasar. Politiwi PAN itu benar-benar tidak tahu diri. Di tengah penderitaan rakyat malah menuntut previledge (baca: privilese), keistimeewaan bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Di saat sebagian besar rakyat tengah bersedih hati dihantam pandemi, dia tidak berempati, malah membuat pernyataan yang menyakitkan hati.

Politisi PAN bernama Rosaline Irene ini jelas punya punya masalah pada mentalitas. Ini masalah yang tidak sepele. Ucapannya meminta perhatian dari pemerintah untuk membuat rumah sakit khusus bagi para pejabat saat menjadi pembicara webinar Persepsi Netizen Terhadap Penanganan Covid-19, benar-benar melukai hati seluruh rakyat Indonesia.

Gustiiiiii…. Sungguh malang rakyat Indonesia punya wakil di DPR orang seperti Rosaline ini. Saat bangsa ini dari Sabang sampai Merauke bergotong-royong, konsentrasi melawan pandemi, bukannya melontarkan keinginan untuk berkorban bagi rakyat, malah minta dirinya sendiri diistimewakan.

Antara takjub dan ikut malu sendiri mendengar pernyataan politisi PAN ini. Kok dia malah tidak malu? Saat ini rakyat saja susah mencari perawatan untuk sanak keluarganya yang terkena Covid-19. Saat ini tenaga kesehatan begitu kelelahan mengurus mereka yang sakit, bahkan harus rela dirinya sendiri ikut sakit. Tersiar kabar rumah sakit-rumah sakit tak bisa menampung pasien lagi. Banyak rumah sakit juga kekurangan oksigen. Sehingga korban berjatuhan.

Petugas pemakaman kewalahan karena terlalu banyak yang dimakamkan. Rakyat menjerit karena harus isolasi mandiri sehingga tak bisa bekerja untuk mencari penghidupan. Semua kenyataan itu tersaji di depan mata. Rakyat menderita. Penderitaan rakyat ini harus bertambah dengan pernyataan politisi yang tak punya hati nurani.

Tanpa usulan RS khusus pejabat, pejabat sudah mendapat keistimewaan. Mereka mendapat banyak fasilitas yang tidak didapat oleh mereka yang tidak menjabat. Mereka mendapat jatah ruang VIP kalau masuk rumah sakit. Vaksin pun dapat jatah duluan. Berobat pakai jatah negara mau biayanya berapapun. Masih mau diistimewakan kayak gimana lagi?

Rakyat jelata, saat sekarang ini merasakan kesengsaraan yang jauh lebih besar dibandingkan para pejabat. Mereka tak memiliki pilihan apapun untuk bertahan di tengah lonjakan kasus Covid-19.Banyak warga tidak mendapatkan perawatan dari rumah sakit, laluberujung meninggal dunia akibat banyak rumah sakit penuh dan stok oksigen menipis.

Yang kesusahan mendapat tempat di rumah sakit bukan hanya pejabat. Tapi seluruh rakyat Indonesia. Usulan RS khusus pejabat sangat tidak relevan dalam kondisi seperti saat ini. Ini benar-benar usulan yang tidak wajar, dan tidak seharusnya terlontar dari mulut seorang politisi yang mestinya berpihak pada rakyat kebanyakan.

Usulan itu tidak patut diungkapkan oleh pejabat dan politisi manapun dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Membedakan rakyat dengan pejabat negara seperti dilakukan politisi PAN itu juga bertentangan dengan dasar negara Indonesia, Pancasila. Selain bertentangan dengan sila kedua tentang kemanudiaan yang adil dan beradab, juga bertentangan dengan sila kelima, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila tidak mengenal konsep pembedaan antara rakyat dengan pejabat.

Jika sampai ada rumah sakit khusus pejabat, akan tercipta kelas sosial di dalam masyarakat. Kelas sosial jerlas tidak sesuai dengan Pancasila. Kelas sosial hanya ada dalam tatanan kehidupan primitif. Benar-benar mengerikan kalau politisi Indonesia memiliki pemikiran seperti ini. Tapi ternyata memang ada. Antara percaya dan tidak percaya mendengar pernyataannya.

Sesuai dengan Pancasila, pejabat negara tidak boleh lebih diistimewakan. Karena derajatnya tidak lebih tinggi dari warga umumnya. Fasilitas pejabat dapat bertambah jika pelayanan terhadap masyarakat juga makin terpenuhi. Bila politisi PAN memang bersikeras terkait rumah sakit khusus pejabat, silakan dibangun sendiri dengan dananya sendiri.

Pendiri PAN menyebut PAN sebagai Partai Tuhan. Jadi dana pendirian rumah sakit untuk pejabat ada baiknya minta saja kepada Tuhan. Jangan harap dana pembangunan dari pemerintah yang mengumpulkan dana dari pajak rakyat.

Atau bila memang mau dana dari pemerintah, baiklah mari kita setujui bersama usulan itu. Kita gotong royong bangun sebuah rumah sakit khusus pejabat. Data siapa saja pejabat dan keluarganya yang ingin dirawat di rumah sakit itu. Ketika rumah sakit sudah dibangun, kita persilakan mereka masuk. Pastikan agar rumah sakit itu segera penuh para pejabat. Setelah semua sudah masuk, matikan saluran air dan instalasi listrik di rumah sakit khusus pejabat itu.

Lagian politisi PAN ini hanya minta rumah sakit. Tidak minta tenaga kesehatan, tidak minta alat medis dan instalasi listrik. Jadi biar saja. Hanya pastikan semua pintu keluar terkunci dengan kunci ganda. Tentu hanya joke saja. Ini karena memang pernyataan politisi PAN itu benar-benar menunjukkan dirinya tidak beradab. Jauh dari rasa kemanusiaan Orang Indonesia pun harus menerima kenyataan politisi-politisi busuk ada beraksi ingin menguasai negeri ini. Ini sungguh menyesakkan dada.

Tapi kejadian ini sekaligus blessing in disguise. Setiap kejadian buruk memang selalu menimbulkan hikmah. Rakyat pun menyimak tingkah polah dan setiap kalimat yang dilontarkan politisi dan para pejabat. Dari perilaku dan pernyataan-pernyataan mereka, terlihat jelas mana yang tulus melayani rakyat. Mana yang hanya mementingkan diri dan ego pribadi. Kita jadi tahu, partai mana yang harus dipilih nanti ketika Pemilu kembali digelar. Yang jelas bukan partai yang berisi politisi-polisiti tak punya empati.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed