Tomy Prihatin Lagi

Di jaman orde baru pun tak perlu biaya besar untuk penyelenggaraan pemilu, karena calon presidennya itu-itu terus, yang memilih pun selalu MPR yang didahului dengan berbagai deklarasi untuk menunjuk Soeharto agar diangkat kembali menjadi presiden.
Waktu itu Indonesia juga tak memerlukan pengamat politik dan lembaga survey, karena masyarakat Indonesia sangat tahu bahwa Golkar yang akan menang, dan presidennya sudah pasti Soeharto ayah dari Tommy.
Di era ayahnya Tommy itu semua (harus) nurut, apalagi kalau jadi PNS atau karyawan BUMN. Makanya tak mungkin ada ujaran kebencian, fitnah, dan hoax seperti sekarang ini.
Bedanya, kalau dulu banyak aktifis yang hilang entah rimbanya, sedangkan sekarang tidak. Bedanya lagi, sekarang banyak aktifis yang bisanya hanya nyinyir tanpa kontribusi nyata bagi bangsa dan negara, serta nol prestasi.
Makanya bagi penulis kalau boleh memilih, tentu saja enakan di era orde baru, karena penulis masih muda dan masih bisa lirak lirik ceweq kece, walau secara ekonomi hidup teramat susah, karena yang kaya bisa dihitung dengan jari. Jadi walau harga-harga murah, tapi daya beli masyarakat sangatlah rendah. Beda dengan sekarang yang bisa beli bakso lobster.
“Oleh karena itu jaman orde baru tentu jauh lebih enak, asalkan pada waktu itu presidennya seperti Pak Jokowi, karena Indonesia pasti sudah dibangun luar biasa sejak waktu itu. Sehingga sekarang Indonesia sudah jadi negara maju yang makmur. Juga tak ada pejabat atau anak pejabat yang menjarah uang rakyat, lalu disimpan di Swiss.”
SBY juga sering prihatin lo Mas..
Oh iya, kami juga prihatin dengan kisruhnya Partai Berkarya..
Salam prihatin untuk masa silam..
(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *