by

Taliban Oplosan

Oleh Mohammad Siswanto

Sekarang ini terjadi perdebatan antara: Apakah Taliban itu Wahabi atau Aswaja? Tentunya ini berkaitan erat dengan gerakan Deobandi yang berkembang di India, Pakistan, dan Afghanistan. Gerakan ini pertama kali muncul di kota Deoband, Uttar Pradesh, India oleh Muhammad Qasim Nanautavi, Rashid Ahmad Gangohi, dan tokoh lainnya pada tahun 1866. Kemudian mendirikan madrasah Darul Uloom Deoband sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Pendiri Jamaah Tabligh, Maulana Muhammad Ilyas Kandhlawi adalah salah satu alumni madrasah ini.

Seiring pesatnya dakwah keagamaan Deobandi di kawasan anak benua India itu. Akhirnya banyak didirikan madrasah Deobandi baru, termasuk di Pakistan. Perkembangan pembangunan madrasah Deobandi di Pakistan tak lepas dari bantuan dana Arab Saudi. Berbarengan dengan pendirian madrasah Ahle Hadith yang memiliki hubungan dekat dengan Universitas Islam Madinah. Sebagai bagian dari misi penyebaran aliran Wahabisme ke seluruh dunia.

Sementara pendanaan Saudi membantu menyebarkan madrasah Ahle Hadith, penting untuk menyadari bahwa pemerintah Pakistan—terutama di bawah Zia ul-Haq—juga berkontribusi pada menjamurnya madrasah Ahle Hadith di negara tersebut. Sebenarnya, aparat negara Pakistan terlibat dalam upaya dakwah Salafi/Wahabi, mengingat “insentif keuangan yang murah hati” yang diberikan Arab Saudi kepada Pakistan. Akibatnya, kurikulum madrasah Deobandi, yang mengajarkan puisi, matematika, mistisisme, dan alkimia di samping ajaran agama di tahun 1940-an, digantikan oleh kurikulum Salafi/Wahabi yang lebih kaku, yang menekankan hafalan Al-Quran dan berfokus terutama pada masalah agama.

Deobandi awalnya adalah revivalis Islam Sunni Hanafi, yang merupakan bentuk Islam yang lebih moderat dalam menanggapi kolonialisme Inggris. Namun, dengan meningkatnya pendanaan dari Timur Tengah, interpretasinya terhadap Islam kemudian menjadi lebih kaku. Badan Amal Saudi, termasuk Liga Muslim Dunia, Yayasan Al-Haramain, Majelis Pemuda Muslim Dunia, dan Organisasi Bantuan Islam Internasional, mendanai banyak madrasah Deobandi yang menyebarkan ajaran Salafi dan Wahhabi. MWL konon menyediakan lebih dari $200 juta untuk madrasah-madrasah ini.

Madrasah Darul Uloom Haqaniyya khususnya telah mendapatkan ketenaran sebagai “pabrik jihad” selama perang Afghanistan karena kebanyakan anggota senior Taliban (seperti Jalaluddin Haqqani, Akhtar Mansour, Mohammed Omar, Sirajuddin Haqqani) Afghanistan yang telah lulus dari madrasah. Sebuah plakat yang mengumumkan madrasah Darul Uloom Haqqaniya sebagai “hadiah Kerajaan Arab Saudi” menggambarkan bantuan keuangan Kerajaan Saudi. Para jihadis alumni madrasah Darul Uloom Haqaniyya salah satunya tergabung dalam Haqqani Network.

Haqqani Network adalah organisasi militan Islam Wahabi yang didirikan oleh Jalaluddin Haqqani, yang muncul sebagai panglima perang Afghanistan dan komandan pemberontak selama perang anti-Soviet; dia adalah anggota faksi Hezb-e Islami yang dipimpin oleh komandan mujahidin terkenal Younis Khalis. Jalaluddin kemudian bersekutu dengan Taliban Afghanistan sebagai Menteri Urusan Suku dan Perbatasan kelompok itu ketika Taliban memegang kekuasaan di Afghanistan selama pertengahan hingga akhir 1990-an. Dia dikenal sebagai rekan Osama Bin Laden dan diakui sebagai salah satu mentor terdekat Bin Laden selama tahun-tahun pembentukan pendiri Al-Qaeda dalam perang Afghanistan 1980-an.

Sirajuddin Haqqani, putra Jalaluddin, saat ini memimpin kegiatan sehari-hari kelompok tersebut, bersama beberapa kerabat terdekatnya. Sirajuddin pada Agustus 2015 ditunjuk sebagai wakil pemimpin Taliban yang baru diangkat Mullah Akhtar Mohammed Mansur—memperkuat aliansi antara Haqqani dan Taliban. Jadi, baik Taliban Afghanistan maupun Taliban Pakistan adalah produk dari madrasah Darul Uloom Haqaniyya, yang terletak di Akora Khattak, Distrik Nowshera, Divisi Peshawar, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Yang sudah berubah dari Hanafi-Deobandi ke Wahabi, setelah dapat kucuran dana Saudi. Adapun jihadis Taliban yang bukan Wahabi dan masih murni Hanafi-Deobandi, karena ikatan ideologi Pashtunwali yang bersifat kesukuan. Seperti halnya organisasi post-tradisionalis Islam (you know who) di Indonesia dengan ideologi habibisme-nya. Yang memiliki simpatisan dan sekutu beda aliran.

Sumber : Status Facebook Muhammad Siswanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed