by

Seringkali yang Dikaitkan dengan Agama, Melenakan

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Seorang teman bercerita betapa emosinya dia mengapa meme seperti di bawah ini banyak yang me-like, menyebarkan. Ketika dia mengkritik pemikiran seperti dalam meme ini, justru dia dibilang kafir, pki dan sejenis kata2 kotor. Mungkin kata-kata dalam meme itu semacam harapan dan impian, kenyataannya ya jauh dari itu. Kalau benar yang ditulis itu maka Ibnu Shina nggak perlu belajar ilmu kedokteran. Nggak perlu ada fakultas kedokteran dan dokter tidak akan laku.

Pada tingkat ekstrem, covid cukup diatasi dengan puasa.Benarkah yang pasang meme itu jujur? Banyak orang yang menjaga keyakinannya agar tetap kuat tanpa mau melihat realita. Di pupuk keyakinan yang sifatnya halusinasi atau harapan dengan terus menyebarkan, mendapat banyak pendukung lalu semakin kuat keyakinan itu. Orang2 hidup dalam mimpi yang diciptakan sendiri, diyakini dan didukung sendiri. Ketika mengalami masalah, misal terkena penyakit, kenyataannya dia juga akan membeli obat, ke dokter atau upaya-upaya realistis yang lain.

Mengapa kita tidak mencoba hidup dalam realitas saja? mimpi dan harapan boleh dijaga untuk menentramkan hati tapi porsinya jangan berlebihan. Jangan pula untuk memperkuat kelompok lalu memusuhi yang lain yang tidak sekeyakinan. Ketika polisi meminta orang tidak berkerumun sekalipun di mesjid agar bisa mengurangi penyebaran covid, ada yang marah bahwa mesjid harus diperlakukan lain. Di situ orang begitu yakin bahwa ketika menyembah Tuhan maka rasionalitas harus dikesampingkan.

Kalau sekedar untuk menyembah Tuhan sebenarnya bisa di rumah dalam kesunyian. Orang2 ini sedang meyakinkan diri bahwa mereka istimewa, harus diperlakukan istimewa. Tapi dengan cara membahayakan orang lain.Kalau benar mesjid itu istimewa dari serangan covid, maka RS tidak akan penuh, tidak akan kekurangan oksigen. Di RS Sarjito Jogja diberitakan sehari 63 orang meninggal karena kekurangan oksigen. (https://www.kompas.id/…/kehabisan-oksigen-63-pasien-di…)

Mari kita hidup dalam realita, virus bisa menyerang siapa saja, virus tidak kenal keimanan. Di Semarang seorang teman cerita imam mesjid di kampungnya meninggal karena covid. Semua bisa kena.Di beberapa negara sudah bisa keluar bebas tanpa masker, sudah ada pertandingan olahraga yang bisa bebas ditonton, di sini orang masih mencoba meyakinkan bahwa dirinya dan tindakannya istimewa.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed