by

Saling Endorse

Oleh : Ahmad Sarwat

Tukang bakso mangkal di pojokan jalan, terus ada tukang es ikutan mangkal, tambah tukang sol sepatu dan tukang ojeg. Aman lah. Soalnya mereka tidak akan saingan. Yang mereka jual beda-beda barangnya. Malahan boleh jadi mereka saling membutuhkan. Yang agak repot kalau tukang bakso mangkal lalu tiba-tiba ada lagi tukang bakso lain ikutan mangkal disitu. Ceritanya bisa lain. Soalnya yang mereka jual itu sama, sama-sama baksonya. Bisa saja yang baru datang langsung banting harga, atau sebaliknya, dia bikin bakso yang harga sama tapi jauh lebih enak. Bisa terjadi persaingan yang tidak sehat.

oOo

Tapi yang saya heran justru ada pasar yang isinya pedagang sejenis. Dari ujung ke ujung, isi dagangannya sama semua. Nah disitu saya mulai bingung. Kok nggak pada berantem ya? Malahan saling tolong dan saling merekomendasikan. Apa karena pemiliknya sama? Atau mereka sadar bahwa rejeki tidak akan kemana?

Saya curiga justru ketika pedagang sejenis pada ngumpul, mereka memang kerjasama, kayak orang lagi pada mancing bareng. Secara bersama-sama menyiapkan banyak ikan secara masal, lalu di tengah kawanan ikan itulah mereka saling berbagi hasil tangkapan. Maka kalau Indomaret kok selalu jejer posisinya dengan Alfa Maret, dalam logika saya mungkin mereka lagi mancing bareng. Maka yang satu tidak akan melahap yang lain, apa dengan cara banting harga atau diskon gede-gedean yang sifatnya mematikan rekanan. Justru mereka saling membutuhkan dan saling jaga kepentingan. Tapi itu cuma analisa saya saja.

oOo

Dalam dunia dakwah dan ceramah pun gitu. Beberapa kali saya diundang oleh pengurus, mereka ngaku terus terang bahwa telah direkomendasikan oleh ustad Fulan dan Fulan. Rupanya saya diendors ceritanya. Padahal beliau sebenarnya tidak ngomong langsung ke saya. Intinya tidak ada kesepakatan apapun. Sebagian besar yang mengendors saya memang saya kenal. Tapi kadang ada juga yang saya tidak kenal langsung. Tiba-tiba diendors begitu saja. Mungkin pernah nonton saya di YouTube atau di tempat lain.

oOo

Sedangkan kalau mengendors murid sendiri sih sudah biasa. Misalnya saya mengendors ustadz RFI. Kan biasa itu. Tidak usah diendorskan pun mereka sudah sering tiba-tiba saya minta untuk menggantikan saya. Ceritanya jadi badal dadakan. Dari pada pengajian bubar, mending dibadalkan. Asalkan pengurus dan jamaahnya setuju. Kadang membadalkan itu jadi keseringan, sampai akhirnya pengajian itu saya serahkan sepenuhnya kepada ustadz RFI.

oOo

Salah satunya seperti pengajian jamaah ibu-ibu di daerah Pasar Minggu. Dulunya saya yang ngajar. Terus suati ketika saya ajak istri ikut. Lalu pas sesi tanya jawab, sengaja microphone saya serahkan ke tangan istri saya untuk menjawabnya. Saya mundur dan sibuk ngemil, makan dan minum, sementara istri saya sibuk jawabin pertanyaan. Hehe, ini namanya endors yang berguna. Lucunya jamaah pengajian ibu-ibu itu nggak pernah lagi ngundang saya. Yang diundang selalu saja istri saya terus. Ya, nggak apa-apa juga. Sampai suatu hari pas istri saya berhalangan hadir, maka sayalah yang dijadikan badalnya. Kok bisa gitu ya.

oOo

Yang lebih seru adalah cerita saya mengundang Prof. Dr. Sayid Agil Husein Al-Munawar ke rumah saya. Kebetulan istri beliau, Ustadz Hj. Fatimah Agil itu dulunya teman akrab almarhumah ibu saya. Jadi pas peringatan haul ibu saya, kami sekeluarga sepakat mengundang Bu Agil jadi penceramah. Dan beliau pun sanggup hadir. Ternyata menjelang hari H, beliau tanya ke saya, Pak Agil nggak diundang sekalian? Ha? Eh anu eh iya ya iya sih Bu. Tapi apa beliau berkenan hadir? Ya iya lah. Oh kalau gitu kami ngundang dua-duanya aja deh. Pak dan Bu Agil sekalian. Nyuwun Sewu. Awalnya saya tidak berniat mengundang pak Agil karena menurut saya kurang cocok untuk jamaah ibu-ibu. Terlalu tinggi levelnya.

Buat ibu- ibu sih kita ngelawak aja, yang penting lucu, seru dan heboh. Namun berhubungbu Agil mengisyaratkan agar Pak Agil diundang juga, ya Alhamdulillah, malah kebetulan. Dan beliau pun menyiapkan waktu juga. Maka jadilah Pak Agil tampil berdua dengan ibu. Diawali ibu dulu yang ceramah, terus mic diserahkan ke Pak Agil. Saya rekam dan upload di YouTube. Inilah contoh suami istri saling mengendors. Memang pak Agil pun dulu juga jadi dosen S2 ibu saya juga. Jadi wajar kalau punya ikatan batin.

oOo

Yang saya nggak suka kalau ada penceramah malah pada saling jegal, saling menghabisi, saling menjungkir balikkan dengan sesamanya. Mentang-mentang beda aliran, beda kelompok dan beda kepentingan. Pokoknya semua orang salah. Yang benar hanya ustadz sekelompoknya saja. Wah kok ya kayak tukang bakso pengkolan depan itu ya. Pada saingan nggak sehat. Kok kalah sama tukang mancing ya?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed