by

Beradu Argumen, Bahaya Tidaknya Covid

Oleh : Liza Novijanti

Dua kubu saling merasa benar, saling menantang. Padahal Sama2 didukung oleh dokter. Saya melihatnya mereka sama2 ada benarnya. Karena masing2 didukung data empiris dan Ilmu. Tak ada yang benar2 salah, atau keinginan menyebar hoax. Saya melihatnya mereka hanya punya sudut pandang berbeda, dan kasus dengan kondisi pasien yang dihadapi berbeda.

Seperti masalah bed rest, saya saat sakit covid, pas masih demam, ya saya bed rest alias gegoleran di tempat tidur. Tapi ketika suhu sudah normal, meskipun badan kayak digebuki, kalo ga ngantuk, saya merasa dengan melakukan olga ringan, seperti peregangan, membuat badan terasa lebih nyaman. Melakukan pekerjaan ringan, beberes dan masak, di dapur, kena uap masakan, itu leher yang sebelumnya kayak dicekik dan menelan sakit, menjadi terasa lebih ringan. Memang sebaiknya saat sakit kita melakukan hal2 yang membuat tubuh nyaman.

Jadi bed rest iya, bergerak terus, atau olah raga ringan tetap jalan, lihat kondisi. Karena kalo kita ga gerak, tidak mengerjakan apa2, saat sudah ga demam, kita malah sulit tidur saat malam. Bagi saya ini lebih menyiksa, pikiran jadi ke mana2, kalo sudah mikir yang negatif, mulailah saya sesak. Pernah sekali saya ga bisa tidur malam, karena seharian gegoleran, dan akhirnya sesak, saya melakukan proning. Alhamdulillah membantu sekali, sesaknya hilang, meskipun sampai pagi ga bisa tidur 😑.

Masalah pake masker. Saya tetap pake masker, tapi kalo tidur ya ga pake, karena terasa sesak. Saat keluar saya selalu pake masker karena, disamping melindungi diri dan orang lain. Juga supaya orang yang lihat kita ga stress, dan marah kalo lihat kita ga maskeran keluar. Kasihan kan, immune mereka jadi ikut turun. Jadi ayolah kita saling bergandengan tangan, menghadapi pandemi ini, ga perlu kayak jaman pilpres, sampe melemparkan julukan covidiot atau scaremongers segala. Capek lihatnya, udah linimasa diisi berita duka, masih diisi gontok2an dua kubu. Melelahkan dan unfaedah. Mari kita saling sharing cara menghadapi covid ini, tanpa menjelekkan pendapat orang lain, kita hargai setiap pendapat, kalo ga cocok, lebih baik diam, karena diam itu emas.

Mungkin kondisi, dan intensitas sakit penderita sangat berbeda. Jadi semua benar, berdasarkan kondisinya. Ada yang memang sampai butuh tabung oksigen, ada yang tidak. Ada yang cukup isoman, juga ada yang butuh perawatan intensif dokter di RS karena punya komorbid. Ada yang masih bisa bangun dan olga ringan, tapi ada yang mau beol pun sulit bangun. Ada yang mudah panik karena mikirin anak2nya yang masih kecil, jadi immunnya drop, ada yang biasa positif thinking dan pasrah, sehingga immunnya naik dan cepat sembuh. Jadi Hai anda semua kedua kubu kalian semua ada benarnya. Yuk kita damai

Saya memang tidak ngabari saat sakit di medsos, saat udah sembuh baru sharing. Karena saya merasa kalo ngabarin saat sakit, akan menyebarkan rasa sedih dan takut untuk orang lain terutama keluarga dekat saya. Takut menyumbang, menurunkan immune mereka (itu saya).

Tapi bagi mereka yang memutuskan untuk mengabarkan sakit mereka di medsos, itu bagus juga. Karena memberi peringatan untuk orang lain agar lebih hati2. Dan ketika banyak yang mendoakan, bahkan membantu, mereka merasa nyaman dan bahagia sehingga immunnya naik, dan sembuh itu kan bagus. Sedangkan saya, memang lebih suka tidak lapor ke medsos, dan bergerak terus agar berguna, minimal bagi keluarga dan lingkungan kecil di sekitar saya. Karena berbuat baik itu, bagi saya adalah doa, yang tak terucap..Kita berbeda mari kita buat itu menjadi indah, bukan menjadi sumber percekcokan.. 🙏💗😍😘. Karena jumlah Penduduk Indonesia 270juta lebih, ga mungkin kan kita sama dan satu pemikiran, ga aci juga sih, kalo sama dan seragam.. Wkwkwkwk Salam sehat dan damai jangan lupa bahagia

Sumber : Status Facebook Liza Novijanti

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed