by

Sains Tidak Bisa Menemukan Tuhan

Oleh: Satria Dharma

Tentu saja, Bro…!

Kalau sains bisa menemukan Tuhan maka ia pasti kesasar. Ia pasti berbelok ke spiritualisme, di mana agama adalah bagiannya. Sains itu jelas sekali TIDAK berusaha untuk menemukan Tuhan atau siapa pencipta di balik semua materi di alam semesta ini. Sains itu bicara soal bagaimana menemukan dan memahami misteri di alam semesta dan bagaimana cara kerjanya. Jadi kalau ada orang yang sok-sokan saintifik lalu bilang bahwa sains membuktikan bahwa Tuhan tidak ada maka jelas dia adalah PENIPU dan tukang ndobos. Dapat darimana penelitian sains bisa membuktikan bahwa Tuhan ternyata tidak ada? TIDAK PERNAH ADA hasil penelitian sains yang menyatakan demikian.

Mengapa? Karena penelitian sains memang TIDAK PERNAH ada yang dirancang untuk menemukan Tuhan. Menurut Ulil Abshar Abdalla Tuhan bukanlah entitas yang bisa dibuktikan ada atau tidak ada dengan memakai metode sains. Sebab Tuhan bukanlah data empiris. Jika sains bergerak lebih jauh dengan memastikan bahwa Tuhan tidak ada, dia sudah melangkahi wilayahnya – yakni, wilayah data empiris. Seorang saintis yang “meyakini” tidak adanya Tuhan sudah berubah dari seorang saintis menjadi seorang yang memeluk “keyakinan” tertentu. Dalam hal ini posisi dia sudah sama dengan orang-orang beriman. Ateisme dan teisme memiliki kedudukan yang sama: sama-sama merupakan keyakinan, bukan sains.

Seumur hidup saya tidak pernah mendengar ada ilmuwan yang melakukan penelitian untuk menemukan Tuhan. Stephen Hawking, Sigmund Freud, Albert Einstein, Karl Marx, dan para ilmuwan ateis lainnya tidak pernah bilang bahwa berdasarkan hasil penelitiannya ternyata Tuhan itu tidak ada. Paling banter mereka akan bilang bahwa mereka TIDAK PERNAH MENEMUKAN TUHAN. Kalau ada saintis yang meski pun seluruh hidupnya didedikasikan untuk ilmu pengetahuan sains lalu menyatakan bahwa Tuhan tidak ada maka sesungguhnya saintis ini TIDAK mendasarkan pernyataannya tersebut pada hasil penelitiannya.

Dia tentulah mendasarkan pernyataannya tersebut pada KEYAKINAN pribadinya yang TIDAK BERLANDASKAN pada penemuan ilmiah. Anda harus paham bahwa antara penemuan ilmiah dan keyakinan saintis itu berbeda. Saintis top dunia yang selama hidupnya tidak pernah meneliti tentang apa itu agama bisa saja adalah orang yang sangat percaya pada agama tertentu. Banyak saintis yang sangat relijius. Begitu juga orang yang sebenarnya tidak pernah jadi saintis sama sekali selama hidupnya bisa saja mengklaim bahwa tidak ada Tuhan Sang Pencipta berdasarkan sains. Sains pale lu peyang…!

Sebaliknya, para spiritualis di mana para agamawan berada, tidak mungkin akan menyatakan bahwa berdasarkan penelitiannya di bidang spiritualisme dan kitab-kitab suci ditemukan soal evolusi perkembangan mahluk hidup, elektron-neutron, virus dan vaksinnya, panjang gelombang pada ruang hampa udara, efek kelebihan kolesterol pada tubuh, dll. Paling banter ya mereka akan bicara soal betapa enaknya orang kalau berada di sorga. Setiap kali kita menyetubuhi bidadari dia akan kembali perawan lagi…lagi…dan lagi…

Jadi kalau ada dokter yang bicara soal khasiat buah dan tumbuhan ini dan itu, pakai outfit topi haji dan mengaku mendakwahkan agama dan pengobatan Sunnah Rasul ya saya ketawa aja. Emang Rasul itu dulunya dokter atau penyembuh orang sakit dan meneliti soal obat-obatan? Kok bawa-bawa Rasul sih…?! Lagipula ngapain kita menggunakan cara pengobatan penyakit pada zaman Rasulullah ketika kita hidup di zaman yang sudah modern ini? Ente mau minum kencing onta…?!

Jadi kalau ada ustad atau kyai yang bilang bahwa berdasarkan ilmu agama yang ia pelajari ia tiba pada KEYAKINAN bahwa ternyata teori evolusinya Darwin, persamaan Einstein E = mc², dan teori atomya Dalton itu salah maka jelas ia ndobos. Ojo dirungokno…

Mari saya beri analogi sederhana….

Seandainya sekelompok ilmuwan dan teknisi diminta untuk menganalisa sebab jatuhnya sebuah pesawat maka hasil analisanya adalah kira-kira seperti ini.

Pesawat ini jatuh karena ‘sensor tidak berfungsi, pilot tak dapat mengendalikan tanpa petunjuk’, Pilot mengalami kesulitan melakukan respon yang tepat terhadap pergerakan MCAS yang tidak seharusnya, karena tidak ada petunjuk dalam buku panduan dan pelatihan, pilot dan teknisi tidak dapat mengindentifikasi kerusakan AOA sensor, dlsb…

Adalah tidak mungkin ilmuwan dan teknisi tersebut muncul dengan kesimpulan sbb:

“Pesawat jatuh karena pilotnya lupa berdoa. Ditengarai pilot dan pramugari ada affair dan itu menyebabkan istri pilot stress dan mendoakan agar suaminya celaka. Besar kemungkinan pilot dan asistennya bertengkar soal di mana mereka akan dugem setelah mendarat nanti, dlsb.”

Jangankan begitu. Seandainya pun para ahli ini menyampaikan sedikit informasi yang tidak ada hubungannya dengan apa yang ditelitinya ya saduken ae…

Umpamanya mereka bilang, ” Tampaknya pilotnya adalah orang Nganjuk….”

Opo hubungane, Cuk…! Ente ada masalah dengan orang Nganjuk…?!

(Sumber: Facebook Satria Dharma)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed