by

Presiden Tanggapi King of Lips Service

Oleh : Muhammad Nurdin

Presiden Menanggapi “King of Lip Service”Sang Presiden akhirnya buka suara. Ia memulai semuanya dengan senyum. Dengan sebuah apresiasi, meski itu untuk satu kritik pedas atas dirinya. Ia layaknya ayah. Yang pengampunannya lebih besar ketimbang murkanya. “Saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa. Dan ini negara demokrasi. Jadi kritik itu boleh-boleh saja. Dan universitas tak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi.”

Ekspresi wajah Sang Presiden menjadi gambaran betapa ia tak terganggu dengan label “king of lip service”. Ia tak menggunakan mimik serius yang menunjukkan bahwa ia tengah insecure. Mengapa? Saya teringat istri pernah menyampaikan gini: Kamu memang sedikit banget ngomong. Hingga aku kadang-kadang menyimpulkan kamu kurang romantis. Aku bahkan pernah menyebut kamu cuek. Kamu minim perhatian.

Tapi aku sadar, semua itu salah. Perhatian kamu demikian besar ke aku. Dan kamu menunjukkan semua itu dalam diammu.Presiden Jokowi adalah seorang ayah yang bijak. Ia tak perlu membalas label “lip service” dengan serangkaian pembangunan juga prestasi-prestasi yang membuat namanya dikenal di kancah internasional. Seorang ayah yang bijak hanya akan memaklumi antusiasme anak-anaknya, seberapa tajam antusiasme itu menyerang pribadinya. Ia tak perlu menjelaskan dedikasinya untuk sang anak. Karena cinta tidak untuk diungkapkan. Cinta hadir untuk menyelubungi tiap hati yang resah.

Pak Presiden tak pernah jengah dengan label-label semacam “king of lip service”. Karena sebelumnya ada yang lebih mengerikan dari itu. Kita mungkin ingat dengan klemar-klemer. Kita tidak mungkin pernah lupa dengan label plonga-plongo. Pak Jokowi sudah sangat kenyang dengan label-label itu. Dimana semuanya sudah ia tanggapi dengan kinerjanya.

Dan sebagai seorang ayah yang bijak, Presiden Jokowi kembali mengingatkan anak-anaknya bahwa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi adab dan sopan santun. Di tengah suasana duka yang menyelimuti bangsa juga dunia, marilah kita tetap fokus untuk sama-sama menghadapi pandemi.

Adab dan kesantunan adalah karakter mulia bangsa yang kini mulai tergerus dengan dalih kebebasan berekspresi. Presiden adalah bapak negara, sebuah simbol dimana martabat bangsa dipertaruhkan dalam pribadinya. Kritik adalah hal yang biasa di alam demokrasi. Tapi ia butuh timing yang pas, agar kritik mendapatkan nilai manfaat dengan dampak perubahan.

Sumber : Status Facebook Muhammad Nurdin

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed