by

Pilih Ekonomi atau Kesehatan?

Oleh: Erizeli Bandaro

Di Amerika Serikat orang tidak bisa dipaksa untuk vaksin. Bahkan WHO pun menolak bila sertifikasi Vaksin dijadikan syarat orang bepergian. Mengapa ? Di AS itu ada dua partai. Partai Demokrat dan Partai Republik.
Namun dari dua partai itu ada kelompok konservatif yang menjunjung tinggi kebebasan pribadi orang. Mereka punya massa significant. Mereka ini yang menolak pemaksaan vaksin bagi semua warga negara. Kebebasan memilih divaksin atau tidak, itu dijamin konstitusi.

Apa pasal ? Pertama. secara sains tidak ada kepastian bahwa vaksin adalah solusi final mengatasi pandemi COVID-19. Kedua, di tengah ketidak pastian itu, kebijakan Pandemi COVID-19 menghalangi kebebasan orang untuk berproduksi. Jadi dua hal itu saling kait mengkait. Menyiratkan bawah kebijakan pemerintah tidak punya dasar hukum yang kuat dan tidak rasional secara ekonomi.

Bagaimana dengan korban kematian akibat COVID-19. ?Teman saya di California punya alasan sendiri. Dalam situasi normal kita harus menyeimbangkan antara kesehatan dan ekonomi. Tetapi kalau situasi tidak normal. Tida ada pilihan yang ideal. Harus bisa memilihi satu dari dua pilihan. Berat? yang memang berat. Itu ibarat kapal mau karam. Apakah sekoci penyelamat mengutamakan orang tua atau orang muda? Ya jelas utamakan orang muda. Karena mereka masih produktif dan masih ada hope. Orang tua, biarkan saja.

Pahit? yang memang pahit. Mau gimana lagi? Kalau kita selamatkan semua, sekoci engga cukup menampung semua. Toh akhirnya sekoci akan tenggelam semua. Tidak ada yang selamat. Yang tua dan muda juga ikut mati.

Bagaimana dengan Indonesia? tanyanya teman dari AS. Saya katakan, sulit bagi Indonesia untuk bersikap independent. Bebas menentukan pilihan. Indonesia harus patuh dengan saran WHO, karena ini berkaitan dengan dukungan eksternal politik. Secara internal Indonesia belum seperti AS yang mandiri secara politik. Jadi ya apapun saran WHO harus diterima. Kalau karena itu ekonomi stuck ya sudah resiko. Walau kebijakan pandemi sendiri tidak punya parameter yang jelas, termasuk timeline. Tetapi pemerintah sudah emilinasi dampak negatif terhadap ekonomi domestik, yaitu lewat Bansos.

Virus COVID-19 itu berbahaya dari segi penyebarannya. Katanya. Tetapi resiko kematian rendah sekali. Hanya 3% saja. Tentu fatal bagi bagi mereka yang ada komorbid dan lansia. Karenanya tidak bisa kebebasan semua orang dipaksakan standarnya sama dengan mereka yang punya komorbid dan lansia.

Seharusnya, semua orang dianggap paham soal resiko COVID-19 ini. Yang punya komorbid dan lansia, selama belum ada solusi efektif mengatasi penyebaran COVID-19 ini, ya mereka harus tinggal di rumah. Kalau mereka tidak mau? ya itu hak mereka. Orang lebih tahu secara personal atas setiap pilihannya. Mati atau selamat, itu soal pilihan. Tetapi tidak boleh karena itu ekonomi stuck dan dampaknya kepada mayoritas penduduk.

(Sumber: Facebook DDB)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed