Pemahaman Acak Adut

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Kemarin ketemu teman. Ketika ngobrol dia menyampaikan sikap dan pemikirannya terhadap pilihan PDIP kepada Ahok. Sebetulnya, menurutnya, PDIP itu sudah punya platform yang jelas dalam berpolitik. Idiologi itu di pertahankan dengan kekuatan jiwa dari seorang Megawati, yang mungkin terkesan diktator. Namun sebetulnya semua kader dan elite partai PDIP , melihat sosok Megawati bukan hanya sebagai putri dari Soekarno tapi sebagai pengawal idiologi partai yang berbasis kepada Pancasila.

Dari dulu, sebelum negeri ini merdeka dan masih di perjuangkan oleh para aktifis , memang di motori oleh tiga paham, satu Nasionalisme, Sosialisme ( plus komunisme ) dan Agama. Ketiga paham itu bisa di persatukan ketika menghadapi musuh yang sama. Siapa musuh itu? Kolonialisme yang menggunakan kapitalisme sebagai kendaraan untuk melegalkan penguasaan wilayah. Dalam perjalanan sejarah negeri ini, sosialisme ( dan komunisme) bergerak jelas dan terkesan buru buru. Maklum dokrin sosialis komunisme percaya bahwa perubahan dan mimpi sosialisme hanya bisa di laksanakan dengan revolusi.

Aktifis yang mengusung agama, terkesan tidak seratus persen berani tampil mengatakan bahwa mereka berbeda dengan rencana awal pendirian republik ini. Maklum diantara aktifis agama, punya sudut pandang berbeda mengenai sepertii apa negeri ini harus di kelola. Belum lagi banyak tokoh nasionalis juga adalah seorang religius yang kuat, dan paham soal nilai nilai agama untuk mengaktualkan firman Allah. Makanya ketika terjadi perdebatan dengan kaum nasionalis mereka seperti orang asing, yang tak beda dengan kaum sosialime yang membawa komunis sebagai metodelogi membangun peradaban.

Apa yang terjadi paska kemerdekaan? Tentara sebagai titik central kekuatan lokomotif politik, hanya melihat kaum nasionalis sebagai tempat berlabuh yang nyaman. Mengapa ? Karena memang kitab mulia dari TNI adalah ajaran Sudirman sebagai bapak TNI , bahwa rakyat dan tentara itu bagaikan air dan Ikan. Saling menghidupi. Yang jadi kiblat TNI adalah pancasila. Itu final. Namun baik agama maupun komunis tidak pernah mempercayai dokrin TNI dan mereka berkali kali melakukan akrobat di pentas politik nasional, dan apa hasilnya? Mereka berhadapan dengan moncong senjata TNI dan kini mereka bertekuk lutut dengan moncong putih dari banteng yang siap bertarung demi pancasila.

Sekeras apapun perjuangan kaum agamais dan Komunis untuk bangkit dalam politik nasional , tidak akan pernah dapat tempat terbaik di hati rakyat. Karena ini sudah fitrah bahwa rakyat Indonesia yang majemuk memang seharusnya di kelola dengan kemajemukan. Pemaksaan ala komunis dan agama ,hanya akan menimbulkan pemahaman politik acak kadut dan tidak intelek di tengah era keterbukaan saat ini.

 

(Sumber: Status Facebook Erizeli)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *