by

Pangeran-pangeran Kesiangan

Oleh : Karto Bugel

Tak semua orang menunjukkan ekspresi yang sama ketika dia sedang dalam ketakutan. Ada yang menangis, ada yang hanya menuduk dan diam saja, namun ada juga yang justru terlihat marah-marah dengan jari menunjuk-nunjuk. Pada kasus ketiga, kompensasi dalam wujud marah biasanya hanya untuk menutupi rasa malu sekaligus rasa takut itu sendiri. Tapi mata tak bisa bohong kan? Begitu dibalas dengan bentakan yang lebih keras, mudah ditebak apa yang akan terjadi.

Itulah yang terlihat pada duo kakak beradik yang hari-hari terakhir ini begitu antusias mencari celah kesalahan pemerintah dalam penanganan pandemi. Mereka berusaha terlihat garang dengan menggunakan narasi bombastis. Anehnya, kritik dan protes itu justru terdengar wagu. Tak ada esensi masuk akal dapat dicerna. Tak nyambung antara bunyi dengan ekspresi wajah tertampil. Mereka terlihat sedang panik. Dan hal itu makin terlihat saat istri, anak buah hingga buzzer mereka ramai memenuhi ruang media sosial kita.

“Panik kenapa?” Bukankah wajah KPK telah berubah? Paling tidak, bila selama ini isu bahwa ada kelompok tertentu di dalam KPK terlihat berpihak pada mereka, kini hal itu tak ada lagi. KPK terlihat lebih ringan langkah kakinya ketika kelompok NB tak lagi memiliki akar di sana. Artinya, bukan mustahil dari KPK akan muncul wacana untuk kembali memilah berkas yang selama ini memang tak tersentuh. Hal lain yang mungkin jauh lebih membuat mereka harus berpikir adalah fakta bahwa tahun 2022 dan 2023 dimana 24 Provinsi dan 224 Kabupaten/Kota akan dijabat PJ dan semua adalah pilihan Presiden.

Tiba-tiba mereka tak lagi punya pengaruh pada banyak Provinsi, Kabupaten dan Kota. Mereka benar-benar akan lumpuh dalam hal pengaruh pada birokrasi di daerah. Fakta bahwa kesaksian Nazarudin maupun Anas Urbaningrum pada perkara wisma atlit terlalu sering menyebut nama dari keluarga tersebut bukan lagi menjadi rahasia. Di sisi lain, ada E KTP dan kasus Antasari yang meruntuhkan wibawa KPK yang masih akan menggelinding seiring dengan hilangnya pengaruh NB dan kawan-kawan pada lembaga tersebut.

Ini bukan perkara mudah bila tanpa ada NB dan kawan-kawan di dalam sana. Ini perkara serius yang harus disikapi dengan serius. Hilangnya pengaruh pada birokrasi banyak daerah pada 2022 dan 2023 nanti pun bukan mustahil akan memicu munculnya kembali desakan kasus-kasus yang masih belum terungkap dengan benar. Di sana ada tersisa cerita tentang Century, BLBI, Reklamasi Tanjung Benoa, Sritex, Petral, pengadaan pesawat kepresidenan dan masih banyak kasus-kasus yang menyisakan tanya daripada jawab.

Akankah hal tersebut tak layak menjadi kekhawatiran dan maka moment pemerintah gagal mengatasi pandemi tak layak dijadikan panggung? Yang jelas KPK saat ini bukan lagi KPK yang dulu di mana pengaruh NB sangat kuat. Kini pengaruh itu sudah tamat dan itu jelas bukan kabar baik. Yang jelas, hilangnya pengaruh pada birokrasi tak mungkin tak berdampak. Ada pincang akan terlihat pada partai itu saat pergantian kepala daerah pada banyak daerah tahun 2022 dan 2023 nanti. Kedua peristiwa itu sangat layak membuat mereka panik. Bukan sekedar masa depan politik mereka menjadi semakin tak pasti, ada hal yang jauh lebih kelam dan sangat mungkin itu sedang menantinya.

Itulah kenapa makna panggung kali ini sangat memiliki arti penting. Itulah kenapa mereka harus konsisten meneriakkan perkara ini demi aman posisi mereka nanti. Harapan dinanti adalah teriakan itu berhasil dan Presiden dapat dibuat tak berdaya. Namun kenyataan berbicar berbeda. Cerita justru berakhir sebaliknya. Presiden tampak makin kuat dengan berita kesembuhan yang meningkat secara significant akibat PPKM Darurat yang dipilihnya. Cibiran sinis masyarakat kini justru mereka tuai. Tak ada pantas dapat dijadikan rujukan saat mereka justru terlihat berselancar pada ombak kesedihan rakyat. Mereka gagal memaknai pandemi dengan solider…RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed