by

Muhammadiyah & Katolik dalam Amatan Nahdliyin

Oleh : Suratno Muchoeri

Met ultah yang ke 109 untuk Persyarikatan Muhammadiyah (18 Nopember 1912–2021). Semoga tetap menjadi salah satu pilar penjaga Pancasila, Bhineka, NKRI, dan UUD 1945 serta membawa masyarakat makin maju sesuai visi Islam berkemajuan. Bicara tentang kerukunan-beragama & moderatisme sebebarnya Indonesia itu pioneer. Tak heran negara kita sering dirujuk jadi role-model untuk hal itu oleh negara2 lain. Diplomasi internasional kita jadi sangat dihargai dan dihormati, salah satunya, karena fenomena itu.

Memang ada konflik agama, ekstrimisme dan sektarianisme. Tapi itu sebenarnya sedikit dan tidak mencerminkan gambaran umum kerukunan dan moderatisme beragama di negara kita. Tentu yang sedikit itu tetap jadi ancaman dan harus diselesaikan. Tapi kita harus pertahankan yang sudah rukun2 dan moderat itu agar jangan sampai pudar. Tidak hanya mainstream dan mayoritas, tapi kerukunan dan moderasi beragama di masyarakat kita punya sejarah panjang.

Secara mikro, misalnya, kita bisa belajar dari masyarakat Ganjuran di Yogyakarta. Saya ingat tahun 2015 sebagai bagian dari tim PKUB Kemenag kita meneliti potret2 di masyarakat kita praktek2 kehidupan sosial-keagamaan yang toleran dan moderat di seluruh Indonesia. Di Ganjuran Yogyakarta saya mulai dengan mengobservasi gereja Ganjuran. Saya dulu selama beberapa hari bolak-balik ke kompleks Gereja & Candi Ganjuran. Jaraknya sekita 15 kikometer kota Yogyakarta ke arah selatan (Jalan Paris/Parang Tritis). Kompleksnya luas & nyaman.

Gereja bersejarah itu sudah berdiri sejaj tahun 1912. Lah sama dengan tahun lahir Muhammadiyah dong he3. Diiringi gending Jawa yang mengalun merdu & syahdu, di kompleks itu saya lihat ada romo2 yang sedang berdiskusi, ada pameran foto di pendopo depan (tentang Gereja-Ganjuran : dulu & kini), ada peziarah yang khusyu’ berdoa dicandi (candi Diyah Maria Ibu Ganjuran & candi Sang Maha Prabu Yesus Kristus), ada anak2 berlatih tari-Jawa di pendopo-utama gereja, ada wisawatan yang cuman liat2 saja dll. Ada saya juga dong he3. Selain mngamati, saya sempat ngobrol dengan mereka (dengan beberapa romo, jemaah Gereja, peziarah, dan pengunjung yang sebagian dari mereka banyak juga yang Muslimah).

Saat itu saya merasa senang meski agak lelah. Saya juga mewawancarai masyarakat lokal, terutama dengan Pesantren Assyifa Muhammadiyah yang lokasinya di belakang kompleks gereja, dengan takmir masjid paska-bencana yang tidak jauh dari komplek Gereja & candi, dan beberapa informan lainnya. Di Pesantren As-syifa Muhammadiyah, saya mewawancarai Ustadz Budi Nurastowo pengasuhnya dan beberapa santri. Lokasi pesantren sangat dekat dengan Kompleks Gereja & Candi Ganjuran (sekitar 200 meter-an). Pesantrennya punya MTS & MA Muhammadiyah, juga ada SD-nya. Semuanya lokasinya berdampingan dengan SD Kanisius, SMA Stella Duce yang masih ada “hubungan” dengan Gereja Ganjuran.

Bangunan2 itu seakan menjadi potret-simbolik kerukunan umat beragama di sana. Ustadz Budi menjelaskan sejarah berdririnya Pesantren Assyifa yakni sejak tahun 1996-an, juga konsernnya dengan pendidikan & dakwah-kultural serta implementasi fastabiqul khoirot (berlomba2 dalam kebaikan) dengan komunitas2 masyarakat lainnys, termasuk dengan komunitas Gereja. Secara umum, sikonnya dari waktu ke waktu terus harmonis. Hal itu bisa dijaga karena dialog dan komunikasi antar pihak selalu dikedepankan klo ada potensi masalah mulai muncul. Ustadz Budi juga punya persepktif sosio-kultural serta membaur dengan masyarakat Ganjuran, baik yang Muslim maupun non-Muslim. Kerukunan beragama terasa dalam kehidupan sehari2.

Klo Pesantren mengadakan pengajian, rumah2 di depannya yang dipagar ada lambang Salib-nya (karena pemiliknya memang orang2 Katholik), mereka tanpa keberatan menyediakan halaman2 rumahnya untuk tempat parkir. Juga santri2 secara rutin bekerja-bakti membersihkan lingkungan sekitar pesantren, termasuk jalan & halaman rumah2nya orang Katholik itu. Tentu saja kadang2 ada friksi juga. Umumnya bukan karena soal beda agama, melainkan terkait masalah sosial, ekonomi, politik dll. Biasanya, pihak pemerintah desa dan kecamatan akan memediasi sehingga ketegangan yang kadang muncul tidak berubah menjadi konflik.

Salute untuk Ustadz Budi & pesantrennya. Saya kira benar2 mengimplementasikan “karakter Moehammadijah” sesuai slogannya…. Intinya, baik gereja Ganjuran, pesantren Assyifa Muhammadiyah dan masjid yang berdekatan itu semua saling menghormati dan menghargai. Gereja ganjuran waktu bencana gempa Yogyakarta juga jadi salah satu tempat mengungsi sementara bagi warga sekitar situ termasuk yang Muslim. Semua rukun dan tidak saling curiga. Banyak lagi potret2 kerukunan lainnya di situ.

Seperti saya singgung di atas sempat juga ada masalah dikit. Dulu jalan Ganjuran mau dikasih nama tokoh Katholik tapi warga yang Muslim kurang setuju. Lalu dialog baik2 dan gereja Ganjuran bisa menerima alasannya. Pernah juga ormas “radikal-ekstrimis” mo bikin “rusuh” di Ganjuran (kalau tidak salah tabligh akbar dan juga sweeping), tapi kurang disetujui warga situ. Akhirnya atas koordinasi pesantren, tokoh agama dan kepolisian, hal itu bisa di hindari. Masalah pasti ada, tapi bisa diselesaikan. Lebih penting lagi semangat kerukunan dan saling menghormati harus terus di jaga. Mantap dan salute untuk Muhammadiyah & Katholik.Salam hormat dari Nahdliyin. Danke

Sumber : Suratno Muchoeri

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed