by

Ada yang Tak Suka Muhammadiyah Dekat Rezim

Oleh : Nurbani Yusuf

Bukan aliran, manhaj apalagi sekte dalam berMuhammadiyah— Ini soal cita-rasa atau teste bagaimana bermuhamadiyah sesuai selera — entah saya ada pada yang mana. ****Jangan keliru, di Muhammadiyah pun ada sekelompok yang melarang tertawa — apalagi pringisan. Ibarat kata, tak ada ruang untuk cengengesan, sekedar melepas penat setelah urunan berlipat lipat. Semua serius dan fokus. Tak boleh menoleh meski sebentar.

Pada ‘sekte’ inilah Muhammadiyah tak boleh dekat dengan siapapun : dekat rezim dianggap kafer, zalim, sesat dan sebutan lain yang semisal. Juga tak boleh dekat dengan ahli bid’ah, anti budaya dan tak suka tersenyum karena dianggap berserupa atau tasyabuh. Istiqomah dimaknai kaku, serba Leterlijck, sebab bagi sebagian orang, Rasulullah saw tak pernah tersenyum apalagi nyantai. Agama adalah hal yang tak boleh dibuat main-main — apalagi dibuat lucu-lucuan. *^^^^*

Saya mungkin termasuk Muhammadiyah yang cengengesan, bahkan sering mentertawakan diri sendiri — mentertawakan tentang yang terlihat serius, tapi ternyata juga biasa-biasa saja. Shalat subuhnya tetap dua rakaat— baca Quran- nya juga sama — puasa sunahnya juga jarang-jarang. Meski terlihat serius tapi ngibadah nya tak jauh beda dengan saya yang cengengesan. Apalagi sedekahnya sama setali tiga uang: sedikit nya maksudnya. Alias sami mawon podho wae —Saya sering masbuq— baca Quran satu rukuk sudah ngantuk, malas menghadiri pengajian ranting dan pura-pura miskin ketika diajak urunan bangun masjid.

Tapi pringisan ketika lihat janda cantik. Mungkin ini bawaan sejak lahir. Sebab itu mungkin saya termasuk orang yang kerap tertawa — termasuk ketika melihat kelakuan rezim yang kerap bikin gergetan. Bagi saya, rezim adalah ladang amal amar makruf nahy munkar, setidak nya terhadap rezim kelurahan di mana saya tinggal. *^^^^*

Karena kelas saya hanya selevel ranting, maka saya harus berbaik-baik dengan pak lurah, pak carik dan syukur bisa akrab dengan para kaur dan pejabat teras di kelurahan. Dan sesekali gojek an dengan ibu-ibu PKK yang sedang senam di halaman masjid depan rumah. Saya sering ngopi dengan Ketua Tanfidz NU yang kebetulan masih kakak misan dan akrab dengan komunitas bantengan teman seangkatan waktu sekolah dasar. Beragama saya tidak muluk-muluk — pak Jokowi, pak Luhut, pak Anis dan semua perseteruan di tingkap pusat biar diurus sama bapak-bapak pengurus PP, saya yang level ranting hanya berusaha agar Muhammadiyah di kampung di mana saya tinggal aman, tidak diganggu dan syukur bisa membantu rezim kelurahan yang kebetulan alumni sekolah Muhammadiyah.

Saya menghadiri resepsi di kelurahan, memberi tausiyah pada acara yasinan dan tahlilan — hadir pada acara kerja bakti dan gugur gunung yang diselenggrakan warga kampung dan kondangan ketika ada tetangga kawin. *^^**Sebagai Ketua Ranting saya sangat dekat dengan rezim — sering memberi masukan tentang berbagai hal — njagong dan ngopi sampai malam di kantor pusat pemerintahan desa bersama pak lurah, pak carek dan tokoh-tokoh berpengaruh di desa lainnya — saya sangat dekat dengan rezim kelurahan 😄😄

Sumber : Status Facebook Nurbani Yusuf

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed