by

Liqo Akhir 90an

Oleh : Ahmad Sarwat

Tulisan saya sebelumnya tentang liqo’ rupanya banyak mendapat tanggapan. Rata-rata sih positif dan asyik-asyik saja. Nah, ini lanjutannya.

oOo

Salah satu kelemahan liqo’ di masa itu adalah lemahnya kualitas keilmuan para murobbi. Wajarlah karena para murobbi itu bukan produk pondok pesantren atau lulusan dari kuliah di Timur Tengah. Kebanyakan mereka kan hanya senior di pengajian, atau di ROHIS atau di tempat beraktifitas. Bedanya cuma duluan ikut aktifnya, kadang beda setahun dua tahun. Kalau ukurannya senioritas, pasti lebih unggul. Tapi bagaimana dengan keilmuan? Ya, bisa jadi malah lebih awam dan lebih lemah dari pada muridnya. Itu memang fakta dan diam-diam diakui juga oleh para masyaikh.

Istilahnya masyaikh, maksudnya ya para ustadz senior lah gitu. Mungkin kalau di level bawah, fakta pahit seperti itu dilawan dengan akal-akalan dan logika. Misalnya, yang penting bukan masalah ilmu, tetapi masalah keshalihan, atau keistiqamahan, juga ketulusan, keikhlasan dan bla bla bla.

Para murobbi itu kalau disuruh kasih nasehat dan tawjih macam itu memang pintar-pintar sekali. Namanya juga MBA alias murabbi banyak akal. Hehe Namun di level para masyaikh, urusan para murobbi yang tiak punya kapasistas keilmuan ini cukup jadi perhatian juga. Dan untuk itu langkah kongkretnya adalah ada beberapa langkah.

Pertama, Yang paling utama adalah memperioritaskan para mad’u untuk meneruskan kuliah keislaman, seperti ke LIPIA, Madinah, Riyadh, Azhar dan lainnya. Ini solusi yang paling logis dan paling ideal, yaitu suruh aja mereka pada kuliah syariah. Mereka yang sudah lulus dan bergelar Lc sering disebut ber-kafaah syar’i. Kedudukannya jadi lebih tinggi, lebih dihormati dan lebih dapat prioritas di dalam jamaah.

Apalagi kalau misalnya pas ada dhuyuf (tamu) dari Arab, hanya yang Lc atau ber-kafaah syar’i saja yang diajak bertemu langsung di puncak. Yang bukan berkafaah syar’i, harus puas dengan ceritanya saja. Jadi saya pun benar-benar termotivasi banget untuk kuliah di LIPIA. Biar posisi saya bisa lebih diperhitungkan lah setidaknya. Kalau nanti ada tamu dari Arab, saya bisa diajak lah. Bukan cuma jadi keroco saja. Namun problemnya sudah menghadang, yaitu tidak semua mad’u bisa lolos tes penerimaan kuliah di LIPIA dan sejenisnya. Sebab basik keilmuan mereka rata-rata rendah sekali. Padahal masuk LIPIA itu kudu sudah bisa diajak ngobrol pakai bahasa Arab. Maka solusi ini bagus, hanya saja tidak solutif juga. Kebetulan saya termasuk yang bisa masuk di level ini.

Kedua Karena standar kuliah syariah di LIPIA dan sekelasnya itu terlalu tinggi, maka coba dibuatlah lembaga pendidikan sendiri. Waktu coba diinisiasi untuk mendirikan ma’had alias lembaga yang mirip kampus tapi sekelas kursus. Kalau kuliah di LIPIA kan kuliah formal, masuk tiap hari dari pagi jam 07.00 s/d jam 12 Senin-Jumat. Tiap bulan dapat mukafaah.

Kalau di Ma’had waktu belajarnya sore hari hingga malam. Tentu saja seleksi penerimaannya juga tidak seketat LIPIA. Bahkan standar materi yang diajarkan juga jauh di bawah. Bahasa pengantarnya pastilah bahasa Indonesia. Pesertanya juga tidak harus bisa bahasa Arab.Yang mengajar hanya para Lc Lc itu saja. Bukan selevel doktor atau profesor di bidangnya. Kadang yang lucu, dulu seorang ustadz kuliahnya tafsir tapi disuruh ngajar fiqih. Ada yang kuliahnya sastra arab tapi disuruh ngajar Ushul Fiqih. Lagian masak sekelas Lc yang cuma lulus S-1 sudah harus ngajar? Tentu tidak dibenarkan kalau itu merupakan kampus resmi. Tapi ini kan ma’had milik kira sendiri. Aturannya kita yang buat. Yang ngajar tidak harus punya standar yang terlalu ketat. Pokoknya yang penting semangat saja dulu.

Dengan berdirinya ma’had-ma’had ini setidaknya dapat dua target sekaligus. Pertama, biar para aktifis bisa dapat asupan gizi ilmu-ilmu keislaman dari mereka yang memang sudah punya pendidikan keislaman secara formal. Kedua, bisa juga jadi sumber penghasilan buat para ustadznya, meski nilainya ala kadarnya. Saya tertarik pada manfaat yang pertama, yaitu menjadi solusi apa yang tidak bisa didapat dari murabbinya, maka bisa ditambal di Ma’had ini. Dan itu benar, meski dalam wilayah yang terbatas juga.

Para mad’u yang pada ikut mendaftarkan diri di berbagai ma’had itu akhirnya sedikit banyak jadi melek ilmu agama. Sesuatu yang biasanya sulit didapat kalau hanya mengandalkan materi keilmuan sang murabbi.Tapi ini juga sekaligus jadi tantangan baru, yaitu seharusnya murabbinya dulu yang mendaftarkan diri di ma’had. Tapi kenyataannnya berbeda. Sebagian murabbi memang ada yang mendaftarkan diri, tapi sebagian lain ternyata tidak. Lucunya, ada murobbi dan mad’u yang sama-sama mendaftar di Ma’had yang sama. Mereka duduk di satu kelas yang sama. Pas ujian, mad’u nya naik kelas tapi murobbinya malah tidak naik kelas. Wah itu jadi lucu-lucuan.

Ketiga Para aktifis dakwah yang kelasnya sudah rada senior dan tinggi, nampaknya tidak mungkin disuruh ikut di sebuah Ma’had yang mana disitu berkumpul hampir semua mad’u-nya. Bisa turun gengsinya nanti. Apalagi kalau pakai acara tidak naik kelas segala. Maka untuk level anggota senior, ada kelas khusus yang disebut tasqif. Bentuknya kayak liqo’ biasa, tapi levelnya lebih tinggi lagi. Karena yang jadi narasumbernya memang mereka yang benar-benar punya kafa’ah syar’i kelas tinggi.

Saya dulu pernah juga ikut kelas tasqif ini. Kebetulan waktu itu yang mengajar adalah Doktor Salim Segaf Al-Jufri. Saya senyum-senyum saja. Bukan apa-apa, Dr. Salim ini kan dosen saya di fakultas syariah LIPIA. Tiap hari ngajar saya muali Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat, pakai kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd.

Lha kok sekarang ketemu beliau di kelas tasqif. Hehe materinya jadi turun kayak kita lagi jadi anak I’dad Lughawi. Padahal kalau menurut teman tasqif kelompok saya, materinya bagus banget dan daging semua. Bisa memilah mana Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hambali. Keren nih keren, gitu katanya.Ya iya lah, beliau kan doktor fiqih. Ngajarnya memang mata kuliah perbandingan Mazhab. Materi kayak gitu saya dapatnya tiap hari di LIPIA. Sedangkan di tasqif ini jadwalnya sebulan sekali. Itu un kalau Doktor Salim pas tidak berhalangan. Hehe

oOo

Dengan tiga solusi di atas, maka kelemahan di sisi tasaqafah serta ilmu-ilmu keislaman sebenarnya sudah disadari serta sudah diantisipasi. Cuma mungkin solusinya belum merata dirasakan setiap mad’u. Tapi dari tiga solusi di atas, menurut saya yang paling realistis adalah pendirian ma’had-ma’had itu. Seandainya perjalanan ma’had-ma’had itu naik turun, kadang kalau lagi semangat, berma’had itu sempat jaya, tapi kadang bisa surut juga. Kebetulan di zaman ramai berpolitik, tidak semua Ma’had bisa bertahan. Tahu sebabnya? Ya, karena ustadznya banyak yang jadi caleg. Kelasnya bubar jalan.

Kebetulan saya waktu itu sempat jadi dosen mata kuliah Pendidikan Agama di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Selain mengajar formal, saya juga sering diminta ceramah di Masjid Baitul Mal belakang STAN itu. Ujung-ujungnya saya akhirnya berhasil memprovokasi para aktifis dakwah di lingkungan STAN untuk kembali mendirikan ma’had, yang kemudian diberi nama : Ma’had Tarbiyah. Kalau menurut hitungan, ini adalah ma’had ketiga yang pernah didirikan di lingkungan STAN. Pesertanya diwajibkan dari semua anak liqo’. Sehingga mereka wajib ikut dua liqo’ sekaligus dalam seminggu. Pertama liqo’ sama murabbi masing-masing dan kedua wajib liqo’ kepada saya, alias wajib ikut ma’had. Ternyata kalau yang jadi peserta anak STAN, asyik punya. Sebab mereka itu pinter-pinter semua.

Saya kenal mereka di kelas di jam perkuliahan. Dan saya kenal mereka ketika jadi murid saya di ma’had. Mulai jam kuliah habis ashar dan selesai kadang sampai jam 21.00 malam. Sempat berjalan beberapa tahun sampai akhirnya bubar juga. Cuma saya lupa kenapa waktu itu bubar. Salah satunya yang saya ingat kendala jarak dan kemacetan jalanan. Bahkan ngajar di STAN pun akhirnya saya berhenti juga.

oOo

Namun terinspirasi dari ma’had-ma’had itu akhirnya saya pun berpikir bagaimana untuk membangun ma’had sendiri. Hanya saja sistemnya saya bikin jadi sedikit berbeda. Ma’hadnya tidak secara fisik tetapi virtual di internet. Niatnya biar tidak ada alasan sibuk, macet, jauh, atau alasan-alasan klasik lainnya. Ma’had online itu bisa diikuti kapan saja, dari mana saja, bahkan yang lagi pada muqim di luar negeri pun bisa ikutan juga.Waktu itu saya kasih nama : KAMPUS-SYARIAH. Dan kemudian berubah lagi menjadi SEKOLAH FIQIH sampai sekarang.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed