by

Belajar Bahasa Arab

Oleh : Ahmad Sarwat

Karena saya tidak mondok tapi sekolah umum SMP dan SMA, otomatis pelajaran ilmu Nahwu Sharaf saya berhenti sampai level Madrasah Ibtidaiyah. Baru selesai jilid 3 Nahwul Wadhih dan Amtsilah Tashrifiyah doang. Lebih dari itu belum sempat belajar lagi. Namun lulus SMA masuk dan keluar UGM saya pindah jalur masuk LIPIA, hanya berbekal modal belajar bahasa Arab di Ibtidaiyah. Kalau soal rest masuk yang tahriri (tertulis) rasanya mudah saja menjawabnya. Tapi yang susah itu test wawancara dengan orang Arab betulan.

Wah jangan kan saya, teman-teman sesama yang ikut test, meski lulusan pondok modern yang tiap hari cas via cus bahasa Arab melulu, ternyata banyak yang nggak keterima. Rupanya selain faktor nervous, kemampuan berkomunikasi pakai bahasa Arab secara lisan itu agak berat, termasuk lulusan pondok modern sekalipun. Apalagi buat saya. Kalau masalah memahami apa yang orang Arab bicarakan, insyaallah 60-70% saya masih menangkap. Soalnya dulu saya rajin nonton film video berbahasa Arab, macam film Ar-Risalah, Umar Mukhtar, Al-Qadisiyah. Termasuk nasyid berbahasa Arab dan ceramah-ceramah berbahasa Arab coba saya dengarkan rutin.

Paham tapi nggak bisa ngomongnya. Untuk menjawab dan menta’bir Syafawi kan, nah itu yang susah. Semua serasa nyangkut di lidah. Tes lisan saya gagal dan tidak diterima. Namun tahun depannya saya nekat daftar lagim Dan Alhamdulillah kali ini diterima di program Idad Lughawi 2 tahun ditambah Takmili 1 tahun. Mungkin buat teman yang pada mondok salaf, urusan Nahwu Sharaf sudah luar kepala. Apalagi disuruh mengi’rab, pastinya jago-jago semua.

Tapi . . .Apakah bisa langsung paham apa yang sedang dibaca? Ini dia yang jadi masalah. Kebiasaan teman saya di pondok itu kalau baca kitab dimaknai kata per kata. Plus dengan aransemen utawi Iki iku nya. Sedangkan orang Arab dosen kita malah tidak mengajarkan teknik terjemah kata perkata. Yang diajarkan malah teknis intonasi dan cara pelafalan yang benar. Istilahnya memahami bahasa Arab itu tidak diteorikan, tapi dengan dirasakan. Karena masalah bahasa itu soal rasa, tidak semata teori dan logika.

Apalagi gaya orang Arab itu kalau bicara kan cepat sekali. Repot banget kalau harus diterjemahkan kata per kata. Pasti ketinggalan langkah. Kita paham maknanya meski tidak tahu teorinya. Kalau ditanya, mana mubtada’ mana Khabar, boleh jadi agak bingung. Tapi kita bisa paham sekali maksud kalimat itu. Makanya karena tiap hari komunikasi langsung dengan dosen orang Arab, ngomongnya secepat kereta Shinkansen, akhirnya jadi terbiasa juga.

Baca kitab gitu juga. Cukup dibaca dalam hati dan dalam waktu satu dua jam, buku setebal 200-an halaman selesai dibaca. Bahan ujian berupa kitab tebal-tebal. Muqararnya banyak banget. Baru dibaca malamnya pakai SKS alias Sistem Kebut Semalam. Hehe kok bisa buat jawab soal ya? Mungkin ini masalah jam terbang saja kali ya. Ibarat ikan berenang di laut, kalau ditanya, itu renang gaya apa ya? Tauk ah, jawab si ikan. Si ikan meski lahir di laut, ditanya nama gaya renang dia nggak paham. Tapi kalau disuruh berenang, dia jagonya.

Beda sama kita. Kita hafal nama-nama gaya berenang. Tapi pas kecemplung di kolam yang dalam, gelagapan dan tenggelam. Semua teori tentang renang nyaris tak berguna.Satu-satunya gaya hanya gaya batu alias kelelep.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed