by

Kang Emil Mau Naik Haji

Oleh : B Uster Kadrisson

Tidak ada niat sebenarnya ketika keluar dari stasiun kereta, mata saya melihat spanduk travel biro yang menyediakan perjalanan Umroh dan Haji ke Mekkah. Kebetulan di daerah Jackson Heights, Queens memang banyak berkumpul orang-orang dari Bangladesh yang mayoritas beragama Islam atau bangsa India dan termasuk yang Muslim juga. Suasana kantor biro perjalanan yang sangat sederhana, dipenuhi oleh bau wewangian entah dari asap kemenyan atau sisa pembakaran dupa.

Jika tidak terbiasa, pasti dalam beberapa menit saja bau harum yang sangat menyengat akan membuat pusing kepala. Kemarin saya ada membaca pernyataan dari pemerintah Saudi Arabia, kalau mereka telah kembali membuka pintu masuk tetapi hanya untuk 11 negara. Yang anehnya, 10 dari negara-negara yang diijinkan masuk adalah bangsa yang sering dikatakan kafir dan penduduknya sudah ditasbihkan untuk menjadi ahli neraka. Selain Amerika, ada Inggris, Italia, Irlandia, Jerman serta Jepang sebagai perwakilan dari benua Asia. Walaupun kuota ijin untuk berhaji belum ditentukan, paling tidak jika pendaftaran telah dibuka maka ke sebelas negara ini akan mendapatkan prioritas yang pertama.

Dan seperti biasa, kaum pekok yang sangat banyak bertebaran di Indonesia langsung berkotek-kotek bagaikan ayam tertelan karet gelang. Si raja hoax Haikal Hassan menuliskan cuitan yang kemudian segera dihapus, walaupun sudah dilaporkan ke pihak yang berwenang tetapi sepertinya mental kembali karena tergolong ringan dan tidak significant. Sedangkan kegaduhan yang dia ciptakan di akar rumput cukup masif, yang membuat kepercayaan terhadap pemerintah dalam mengelola dana haji kemudian menjadi pertanyaan.

Padahal secara bertahap sejak awal menjabat ayahanda Jokowi sudah memperbaiki sistem yang centang prenang dan kini kabarnya telah mendapatkan untung yang lumayan mencengangkan. Beberapa negara yang mempunyai banyak umat Islam memang menerapkan sistem pendaftaran karena jumlah quota yang sangat terbatas tergantung dari persentase jumlah umat Islam yang ada di negara per negara. Indonesia selama ini selalu menempati tempat yang tertinggi dengan 230 ribuan, disusul oleh negara Pakistan, Bangladesh serta India.

Untuk jemaah asal Indonesia, lebih dari 90 persen diberangkatkan dan disubsidi oleh negara, sedang Pakistan dan India hanya menanggung paling tidak sedikit melebihi dari setengah jumlah jemaah. Karena Bangladesh yang merupakan termasuk negara miskin, pemerintah mereka hanya bisa menanggung dan mensubsidi sebanyak 15 persen saja. Yang menarik, di tiga negara yang lain ini subsidi ziarah yang diberikan kepada umat Islam bukan hanya untuk pergi berhaji, tetapi juga untuk mengunjungi Irak, Iran, Syria atau Jordania.

Karena di sana banyak kaum Islam Syiah yang membuat sama pentingnya untuk mengunjungi makam imam Hussein yang ada di Karbala. Jumlah biaya yang ditanggulangi oleh pemerintah mereka, sama banyaknya dengan perkiraan subsidi jemaah di Indonesia yaitu sekitar 35 juta rupiah. Belakangan ada perdebatan di parlemen India untuk membatalkan subsidi tersebut supaya dana bisa dipakai untuk pendidikan perempuan Muslim, karena menurut rukun Islam yang wajib pergi berhaji adalah untuk orang yang telah berkecukupan harta.

Selama ini di Indonesia sistem skema Ponzi diterapkan dengan cara para calon jemaah yang ada di urutan belakang membayar kekurangan biaya untuk jemaah yang berada di depan. Dana yang terkumpul, walaupun sangat besar tetapi hanya menjadi permainan para spekulan yang memanfaatkan akses kedekatan dan pertemanan untuk mencari keuntungan. Sejak jaman si mantan, dana ini sudah mulai dialihkan untuk investasi sehingga tidak semata hanya mengandalkan penghasilan dari bunga tabungan.

Sedang ayahanda Jokowi kemudian memperbaiki sistem dengan melindunginya dengan undang-undang sehingga bisa dipastikan tidak akan ada resiko kerugian. Menurut travel biro yang saya datangi, biaya untuk pergi berhaji dari Amerika sekitar 7,000 hingga 10,000 dollar, jadi sama saja dengan ONH Plus. Tidak ada jadwal penantian karena quota yang diberikan biasanya cukup besar sehingga bisa langsung pergi tanpa cas cis cus. Sedang pemegang permanent resident yang artinya bukan warga negara, harus menempati jadwal tunggu sehingga kalau ada sisa quota baru bisa diurus. Yang juga menarik, rombongan jemaah dibedakan antara yang Sunni dan Syiah karena ritualnya sedikit berbeda, dengan maksud supaya tidak terjadi kesalah pahaman yang serius.

Walaupun pemerintah Saudi melalui perwakilan duta besar di Jakarta sudah menyatakan kalau pembagian quota haji belum ditentukan, tetapi masih juga banyak yang belum mengerti. Si Arie Lutung, menangis-nangis sambil berkata kalau Allah sudah menutup pintu surga, padahal selama ini kaum mereka sudah sesumbar sebagai yang dipercaya untuk memegang kunci. Jangankan dia yang memang p3ak, kang Emil gubernur Jabar yang belakangan emang agak rada-rada, menyarankan pemerintah untuk melakukan negosiasi, soalnya dia sudah kadung mendaftar untuk ikutan pergi. Padahal ketentuan dari negara Saudi untuk membuka pintu berdasarkan penanganan wabah Covid-19 di masing-masing negara, sedang untuk Indonesia masih dipandang rendah, yah.. bagaimana pemerintah bisa mengatasi kalau orang sekelas Alifurrahman juragan Seword saja masih meragukan akan keberadaan sang virus dan mengatakan kalau orang-orang di Madura lebih sakti.Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed