by

Kandidat Menteri Ke Tiga Termuda

Karena keinginannya untuk mempunyai teman yang banyak, ia pun berencana ingin masuk sebagai anggota TNI. Cita-cita ini terinspirasi dari banyaknya siswa Indonesia yang pernah belajar di Amerika Serikat yang memilih masuk militer ketika pulang ke tanah air. Dalam benaknya, lingkungan militer yang mengusung prinsip egaliter atau ‘semua sama rata’ dinilai sebagai jalan yang mulus baginya untuk mendapatkan teman atau bahkan kekasih.

Sayangnya, rencana tersebut pupus seiring datangnya berbagai penolakan terhadap dirinya. Selain ingin mendapatkan teman, keinginan untuk berkarir di militer karena didasari oleh sikap patriotiknya dalam membela dan mencintai Indonesia. Bahkan, meski nantinya diterima di kemiliteran, ia tidak ingin menjadi pasukan perang yang membunuh banyak musuh di medan laga. Hati kecilnya menyuruh agar ia bisa mengabdi sebagai tentara yang mengurus di bagian logistik, administrasi maupun perbekalan.

Dalam perjalanannya menggapai impian menjadi seorang tentara, dirinya mengakui ada banyak halangan dan penolakan yang harus dihadapinya. Tak hanya itu, dirinya bahkan harus menerima kenyataan pahit, menjadi bulan-bulanan kebencian oleh orang di sekitarnya, bahkan ditinggalkan dan niat mulianya itu dianggap sebagai main-main.

Sikap diskriminatif tersebut sungguh dialami oleh Audrey semenjak kecil. Pada saat orde baru ditumbangkan oleh gerakan reformasi, dirinya yang merupakan keturunan Tionghoa, mengaku mengalami peristiwa yang cukup sulit kala itu. Anggapan tidak nasionalis dan bukan pribumi asli, sering dialaminya. Walau ia mengaku bahwa dirinya merupakan sosok yang Pancasilais, tak ada yang mau menggubrisnya pada saat itu.

Gagal berdinas di TNI, ia merubah haluan menjadi seorang penulis, dan beberapa buku telah ia terbitkan. Salah satu yang menarik perhatian adalah bukunya yang berjudul ‘Mencari Sila Kelima’ atau tong bao dalam bahasa Tiongkok. Dalam buku tersebut, dirinya menekankan bahwa pentingnya nilai-nilai Pancasila untuk diamalkan, bukan sekedar menjadi teori ideologi belaka.

Masih dalam buku yang sama, dirinya seolah ingin membuka cakrawala pemikiran orang Indonesia pada lingkup yang lebih luas. Indonesia yang disatukan oleh prinsip yang bernama Pancasila, harus menampakan esensi dari nilai-nilai ideologi itu sendiri. Tak salah jika dirinya kemudian terpilih sebagai salah satu dari 72 ikon berprestasi Indonesia oleh komite Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi-Pancasila (UKP-P), selaku penggagas acara Festival Prestasi Indonesia.

Meski sempat mengalami berbagai penolakan di Indonesia, hal tersebut tak membuat Audery lantas membenci Indonesia. Berbekal kejeniusan dan semangatnya akan nilai luhur Pancasila, dirinya berusaha bangkit dan menepis segala tuduhan yang menyudutkan dirinya. Bahkan, melalui karya tulisnya, dirinya mampu menjadi contoh nyata yang membuka mata hati orang Indonesia asli, tentang bagaimana menghayati Pancasila tanpa harus membenci latar belakang etnis tertentu.

“Kini saatnya negara memberikan kesempatan bagi Audrey untuk mengabdikan ilmu dan pengalamannya bagi tanah kelahirannya, Indonesia tercinta”

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed