by

Jilbab Ibu Iriana

Oleh : Jody Ananda

Jujur saja, dalam tulisan soal sikap ana terhadap masalah jilbab, ana diserang dari dua kubu sekaligus.

Sikap ana sampai detik ini soal jilbab adalah TIDAK MELARANG tapi juga TIDAK MEWAJIBKAN. Sikap ana adalah memerdekakan, keputusan soal itu silakan perempuan itu sendiri yang memilih sesuai dengan derajat, martabat dan peran mereka dalam masyarakat.

Kubu pertama yang menyerang ana adalah penganjur-penganjur jilbab garis keras dari sebelah kanan yang menginginkan formalisasi syariah terkait jilbab. Mereka yang biasanya mengobral hadits palsu soal perempuan masuk neraka karena keliatan rambutnya, yang gagal memahami sekedar perbedaan teks kata khimar, jilbab, niqab, tarha dst. Termasuk diantaranya yang gagal paham soal Asbabun Nuzul ayat-ayat jilbab.

Kubu kedua yang menyerang ana, dari sebelah kiri, karena ana dianggap membela hak perempuan untuk memakai jilbab dan segala modifikasinya yang merupakan dinamika budaya yang sangat lazim terjadi. Saya menjelaskan tentang perubahan trend budaya pakaian perempuan Amerika Serikat (sebagai contoh), dari rok melingkar panjang ala Western ke celana jeans yang lebih simpel dan fleksibel. Sebuah trend dan perubahan budaya yang sangat lazim terjadi, lantas apa masalahnya dengan jilbab?

Tapi tentu saja, sebagai filsuf #Madzhab69 yang terbiasa dengan kedalaman berpikir 69 derajat, hal ini adalah sangat biasa dan dimaklumi. Dalam posisi 69, dua angka itu memang bisa dibaca terbolakbalik bagi mereka yang masih terhegemoni oleh dogma.

Jadi biarkan Ibu Iriana dan perempuan muslim lainnya di Indonesia (dan juga seluruh dunia) untuk memakai jilbab, kerudung, khimar atau pakaian apapun itu, sesuai dengan derajat dan martabat mereka, dan peran mereka dalam masyarakat, sebagaimana juga perempuan muslim lainnya yang memilih berpakaian sopan dan beradab, dengan tetap menguraikan rambut, wajah dan hal yang biasa nampak dan tidak mengganggu kesopanan. Perempuan Indonesia MERDEKA untuk MEMILIH dan MEMAKAI busananya sendiri.

Terakhir, tentunya, ana harus menegaskan bahwa ana tetap menolak dipaksa memakai jilbab, sampai kiamat sekalipun. Ini prinsip ana sebagai laki-laki yang menjunjung martabat perempuan.

Demikian, kenapa antum dateng kesini pakai jilbab warna pink, akhina Vernandi Jose Hidayat ??

+”Afwan, ya Aa Jojot al Habib Manthul..ana dapet perintah dari nyai di rumah buat beli jilbab, jadi ana sekalian cobain pas apa engg…”

Enggak pas. Pasukan bergajah kok pakai jilbab. Gak ada diskusi.

Sumber : Status Facebook Jody Ananda

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed