by

Islam Washatiyah Paska Buya

Oleh : Nurbani Yusuf

Insya Allah Saya tidak termasuk yang pesimis melihat masa depan Islam wasathiyah (;wasthuah Islam) pasca meninggalnya Buya — meski menyambungkan berbagai ideologi seperti yang diperankan Buya tak mudah dilakukan dan digantikan.

87 tahun — bukan usia pendek untuk bisa tetap produktif dan survive —-

*^^^*

Pembelaan berlebihan terhadap liburan keluarga ustadz Abdul Shomad, saya pikir juga kurang bijak. Mengingat NU sebagai rumah besarnya sedang-sedang saja dan proposional dalam memberikan klarifikasi. Setidaknja negara Singapura juga akan benderang bisa melihat Muhammadiyah dan NU ada pada posisi ideologi mana.

Mungkin ini yang disebut oleh Karl Manheim tentang ideologi total dan ideologi parsial dalam melihat perspektif. Artinya Singapura atau negara manapun di dunia berhak membentengi negerinya dari pikiran-pikiran yang dianggap membahayakan atau mengganggu stabilitas negara. Dan UAS adalah salah satu yang dianggap membahayakan Singapura.

Ideologi parsial ini sah sebagai upaya men-delegitimasi ideologi lain yang dianggap kurang bersahabat sekaligus pilihan apakah sebuah negara, komunitas atau ormas membiarkan semua ideologi tumbuh dan berkembang liar atau membatasi dan mengelolanya dalam sebuah kredo yang disepakati.

*^^^^**

Tapi Muhammadiyah akan jelas kehilangan keseimbangan pendulum — mungkin saja gerakan puritanisme justru menguat dan stigma sebagai gerakan ‘tempat singgah ideologi radikal’ akan terus digemakan, terutama dari mereka yang tidak suka dengan Muhammadiyah.

Saya tetap memandang bahwa Buya adalah jangkar pemikiran Islam wasathiyah itu dan Prof Haidar Nashir akan bekerja lebih keras. Bukan meniadakan yang ada, tapi lapis kedua nampaknya belum sekuat Buya dalam hal menembus batas, menggemakan pikiran wasathiyah dan moderatif pada khalayak.

Resonansi pikiran-pikiran Buya tak dipungkiri sangat kuat terasa dan menjadi rujukan — ini yang belum di dapatkan selain dari Buya. Memang butuh waktu, tapi kapan ? Jelas ini pekerjaan berat, tapi harus terus di ikhtiarkan.

*^^^^*

Butuh keberanian dan nyali untuk menyuarakan wasathiyah detengah arus politik identitas yang terus mengeras. Langgar Kidoel yang digagas Kyai Dahlan dirobohkan karena dianggap mengganggu Islam mapan. Sebab sebagian besar pemikir atau ulama saat itu cenderung cari aman karena takut kehilangan pengikut. Bukankah memahami arus pikiran, tidak berarti para cendekiawan dan ulama taklid dan menyesuaikan dengan pikiran umat, tapi harus berani menjadi suluh yang menerangi kepada umatnya dan mengambil posisi dialektik sebagaimana para nabi dan rasul utusan Allah.

Ali Syariaty, Iqbal, Arkoen atau Syed Husen Nashr dan Cak Nur di awal tahun tujuh puluhan adalah sebagian cendekiawan yang terus melawan arus utama pemikiran jumud meski banyak dilawan. Pikiran-pikiran mereka sangat berpengaruh terhadap kondisi umat Islam paruh pertama abad dua puluh hingga sekarang.

Gus Dur dan Pak Malik atau mas Dawam juga punya peran sangat penting dalam perjalanan pemikiran wasatihyah itu.meski banyak mendapat perlawanan dari teman seiring — artinya lawan sesama muslim justru kerap datang dari dalam. Ini memang problem klasik tapi akut.

*^^^^^*

Bahwa negara tidak hanya dibangun atas dasar birokrasi dan politik tapi juga ideologi sebagai philosophsche groundslach — pun termasuk Muhammadiyah : tidak hanya membangun struktur organisasi dengan amal usaha yang terus dibanggakan, tapi juga mengokohkan ideologi yang mendasari, sebagai karakter dan kepribadian dalam ber- amal bajik sebagai ruh dan spirit gerakan —

Sumber : Status Facebook @nurbaniyusuf

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed