Haul Gus Dur

Haul Gus Dur bisa disebut sebagai contoh penting bagaimana agama dan budaya melebur menjadi kekuatan baru yang menyatukan, bukan saling menafikan. Lebih dari itu, kalangan non-muslim pun ikut menggelar haul, di samping bentuk penghormatan pada Gus Dur tapi juga bentuk penerimaan haul sebagai budaya. Karenanya, haul sekarang ini sudah menjadi budaya nusantara, bukan hanya budaya Islam atau warga NU.

Hal lain yang menarik, tradisi tersebut terjadi begitu saja tanpa ada yang menggerakkan. Masyarakat terpanggil jiwanya untuk menggelar haul. Mengapa bisa begitu? Mengapa sosok Gus Dur yang mampu menggerakaan hati masyarakat untuk secara sukarela melakukan hal tersebut? Banyak tokoh-tokoh besar yang sudah meninggal, tapi mengapa hanya Gus Dur yang mendapatkan keistimewaan itu?

Banyak jawaban yang bisa diberikan dengan berbagai sudut pandang, baik dari sudut pandang keagamaan maupun budaya. Hal yang bisa dipastikan, di samping kiprah dan ketulusan dalam menjalani kehidupan, tradisi tersebut tidak mungkin terjadi jika bukan karena faktor kekuatan ruhani Gus Dur sendiri. Hanya kekuatan ruhani yang bisa menggerakkan ruhani banyak orang. Buah yang baik hanya bisa keluar dari tanaman yang baik pula.

Hal yang sama juga bisa kita saksikan di makam orang-orang soleh yang setiap hari makamnya selalu dikunjungi peziarah. Bukan hanya orang yang pernah hidup satu masa, tapi orang yang tidak pernah ketemu sekali pun, bahkan berbeda generasi. Hal itu hanya bisa terjadi bagi orang-orang yang mempunyai kekuatan ruhani. Sungguh kebahagiaan besar kematian yang masih terus bisa menghidupi manusia.

Sumber : Status Facebook Rumadi Ahmad

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *