by

Suharto Merubah Budaya Bangsa Dengan Kebencian dan Kebohongan

Rakyat yang cuma bercelana kolor atau berkain sarung berhadapan dengan para militer berbedil dan antek-antek Orde Baru yang terdiri dari segala macam bentuk organisasi yang punya embel-embel “komando aksi ” dan “angkatan”, baik yang pelajar, mahasiswa atau agama yang semua dicekoki dengan kebohongan, penipuan dan dalih  Suharto yang tidak masuk akal dan tidak pernah dibuktikan kebenarannya sampai sekarang. 
Besi panas peluru militer -para robotnya Suharto- dan senjata tajam para anggota komando aksi menembus dada telanjang dan tubuh manusia yang tak berdosa yang di kambing hitamkan. Rakyat yang tak berdaya, ditusuk, dibunuh di tengah aksi demonstran yang cuma dibiarkan, dipandang, dilihat dengan sebelah mata oleh para militernya Suharto ! (Silakan lihat film dokumenter: Riding the Tiger). 

Di Pekanbaru, ibukota Propinsi Riau, keadaannya tidak berbeda dengan daerah dan kota-kota lain di Indonesia. Rakyat ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp tahanan, yang disebut RTM/TPU, di sudut jalan Semar dan jalan Papaya, dijejalkan dalam kamar-kamar sempit yang kotor, bahkan kamar-kamar tanpa ventilasi  yang disebut “sel maut”.

Di zaman rezim zalim Suharto inilah, setiap orang yang dianggap “ada indikasi”, dianggap “terlibat langsung maupun tak langsung dengan G30S”, “tidak bersih”, apalagi kalau jelas menjadi anggota atau simpatisan PKI atau organisasi-organisasi kiri, atau orang-orang yang di komuniskan, serta anggota dari partai dan organisasi pendukung Presiden Sukarno-apakah itu PNI., Partindo, Baperki, GMNI, Perti dsb.-semua ditangkap dan dipenjarakan bahkan dibunuh . 

Semua yang dianggap “lawan” oleh Suharto, dibabat habis, dimasukkan penjara, ditahan belasan tahun tanpa makan yang cukup, sehingga, bukan saja seperti lagu lama Penjara Tengerang,  yaitu “masuk gemuk keluar tinggal tulang”, akan tetapi “masuk hidup keluar mati, jadi mayat !”. 

Bahkan, tahun 1968. ketika Ketua Pepelrada/Gubernur Riau sementara dijabat oleh Bupati Kampar Kolonel Subrantas, menggantikan Brigjen. Kaharudin Nasution yang ke Jakarta untuk menghadiri rapat gubernur seluruh Indonesia, tidak kurang dari 49 orang tahanan di TPU/RTM Pekanbaru diambil malam, dan ternyata kemudian, mereka dibunuh tanpa diketahui di mana kuburnya. Anda  ingin tahu nama-nama mereka yang diambil dari kamp tahanan dan dibunuh rezim Orde Baru tahun 1968 ini ? 

Barangkali diantara anda pembaca ada yang ingin tahu, maka silahkan  baca buku “Riau Berdarah” terbitan Hasta Mitra tahun 2006. Disitu anda bisa membaca dan menelusuri kurang lebih 300 nama-nama para korban rezim zalim Orba Suharto, baik yang ditahan di RTM/TPU selama belasan tahun, semenjak 1965, maupun yang diambil malam dari tahanan dan dibunuh !  

Juga, anda bisa melihat bagaimana jeritan pilu, kisah duka sebagai  tapol, disiksa, kurang makan, keluarga dan anak-anak dirampas  dan menjadi bulan-bulanan oknum penguasa, hidup menderita tanpa hari depan di dalam kamp tahanan rezim Suharto, disuatu “kota yang indah, aman dan damai” yang disebut Pekanbaru ! 

Para tahanan, dengan jatah makan yang sangat minim,  tidak lebih dari 200 gram perharinya selama belasan tahun, ditambah derita bathin  karena  ditinggal lari oleh istri atau keluarganya disebabkan takut atau malu karena dirinya tidak suci lagi akibat diperkosa dan menjadi bulan-bulanan antek-antek Orba, atau karena intimidasi, ancaman ataupun  bujukan para kaki tangan penguasa, maka tak ayal lagi satu demi satu, mereka-para tahanan- jatuh dan melepaskan nyawa tanpa bisa menghirup dan merasakan  udara bebas. Keadaan yang tidak ubahnya seperti zaman nazi Hitler saat Perang Dunia II , terjadi di dalam setiap Kamp Tahanan Orde Baru.  
Jenderal Suharto, dengan praktek pembunuhan massal dan pelenyapan para tahanan dan lawan politiknya itu, sesungguhnya tidak lebih tidak kurang menempatkan Suharto sebagai pembunuh brutal, kejam dan tak berperi kemanusiaan dan tak berketuhanan di dalam abad modern ini. 

Bagaimana bisa seorang manusia Suharto yang mengaku beragama, bertuhan, bisa tega membunuh dengan kejam dan brutal jutaan bangsanya sendiri yang tidak bersenjata dan tidak melawan, dan juga  menyengsarakan puluhan juta rakyat,  kalau tidak Setan yang berada dalam jiwanya ? Kalau dikatakan dia bertuhan, Tuhan mana yang membolehkan seseorang membunuh manusia lain, apalagi sampai tiga juta lebih ? Hitler dan Suharto layaknya seperti abang-adik, tak ada bedanya ! Sesungguhnya, sebagaimana Hitler, Suharto juga “menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya” ! 

Dalam menulis catetanku ini, ingatanku lari kepada teman-temanku yang meninggal karena derita, sakit, kurang makan dan tekanan bathin di dalam kamp tahanan Orba di TPU/RTM Pekanbaru, seperti: Taufik A. Nopel, Anwar Datuk, Diun, Kartopawiro, Sersan Mulyono (seorang militer dari Yon 444/445 Diponegoro yang ditugaskan di Bangkinang, yang berperawakan tegap dan gemuk, dan selama ditahan menjadi kurus kering tinggal tulang dan meninggal karena kelaparan),  Nurdin Kanan, Rajab Siregar, Sudirman dan lain-lain yang kemungkinan namanya terlewat dari ingatanku, disamping teman-teman yang meninggal begitu dilepas tanpa diadili, setelah mendekam belasan tahun dalam kamp tahanan Orde Baru disebabkan segala macam penyakit.yang diperoleh selama ditahan ! 

Kukatakan “dilepas” karena sesungguhnya mereka bukan dibebaskan, namun cuma dilepas dari kurungan seperti ayam ternak dilepas dari kandang. Seperti ayam, karena “kakinya masih diikat dengan tali”……masih dilacak kemana pergi dan keberadaannya, masih di rantai melalui peraturan-peraturan Orba yang masih berlaku dan entah kapan akan dicabut!    Mengenai ini, terkadang aku berpikir, apakah mereka ini bisa disebut ‘bekas tapol’ ataukah masih merupakan ‘tapol’ ? 

Karena kenyataannya, sampai sekarang hukum dan perturan pemerintah warisan Orde Baru, Peraturan Mendagri Amir Mahmud no. 32/1981 masih digunakan atas mereka.   Secara hukum, mereka tidak pernah dibebaskan, mereka tidak pernah diadili dan mereka tidak atau belum direhabilitasi. ! 

Mereka masih dianggap “bahaya latent” yang menular dan harus dijauhi ! Mereka masih dikucilkan, masih tidak boleh ini, tidak boleh itu. Dan “berkat dan jasa” Suharto yang menjadi diktator selama puluhan tahun, anak-anak dan keluarga dari mereka yang pernah menjadi lawan politik Suharto, takut dan malu untuk mengakui ayah, ibu atau leluhurnya sendiri, karena leluhurnya adalah  bekas tapol Orba atau yang dianggap PKI.  

Tidak ubahnya seperti legenda Minangkabau, si “Malin Kundang” yang tidak mau mengakui ibunya yang buruk, tua dan jelek, karena malu dan takut kepada istrinya yang  cantik dan kaya raya !   
Ya, Suharto telah berhasil merobah budaya bangsa Indonesia, dengan rasa kebencian politik busuknya, merobah tatacara hidup, adat dan sopan santun jutaan anak-anak bangsa untuk melupakan, tidak mau tahu bahkan takut mengakui para leluhurnya sendiri, karena perturan Orba/Suharto yang menyatakan bahwa “keturunan PKI dan bekas tapol tidak dibenarkan menjadi pegawai negeri bahkan tidak dibenarkan kawin dengan militer/pegawai negeri” ! 

Jutaan “Malin Kundang” telah dilahirkan oleh Suharto melalui peraturan yang diskrimatif dan tidak manusiawi ! Bahkan ada juga orang-tua  yang terpaksa, sekali lagi: terpaksa,   demi anak-anaknya , menyembunyikan identitasnya sebagai bekas tapolnya Suharto, karena takut anaknya bakal dikucilkan oleh  masyarakat keliling yang telah di-momok-i oleh cecunguk-cecunguk Orde Baru yang dicecok dan dididik dengan ajaran kebencian dan kebejatan moral bangsa yang melanggar HAM dan ke Tuhanan, yang ditanamkan oleh Suharto selama puluhan tahun ! Dan jutaan anak bangsa telah menjadi korban Jenderal Suharto dan  Orde Baru serta partai-partai pendukungnya dengan segala macam peraturannya ! Tidak heran, kalau dikatakan bahwa sesungguhnya, Jenderal Suharto adalah mbahnya kebejatan moral bangsa serta terorisme ! 

Bahkan “penguasa” terutama pihak militer, sampai hari ini masih ingin mendaftar dan menyelidiki mereka, para bekas Tapol, melacak di mana keberadaan mereka dan keturunan mereka! Masih mengintimidasi anak-anak dan keluarga bekas PKI/tapol. Para penguasa seolah-olah  lupa atau tidak ambil pusing samasekali bahwa kita sekarang berada di jaman demokrasi, namun mereka masih tetap bernyanyi dan menari menurut gendang lama ! Lagu dan gendang Orba Suharto ! 

Sesungguhnya, situasinya masih sama, zaman Orba atau zaman Reformasi atau demokrasi, tidak ada perbedaan, yaitu sama seperti ketika mereka, para tapol masih berada dalam tahanan !. Jadi, sebutan bekas tapol, bekas tahanan politik, cumalah sekedar embel-embel untuk mengenakkan kuping mendengar, namun hakekatnya kosong samasekali. 

Mereka tetap tahanan politik di bumi sendiri, menjadi anak tiri atau warga kelas kambing, menjadi kaum pariah di negeri sendiri sampai sekarang ! Buktinya ?  Apa  yang mereka lakukan, walaupun sudah minta izin kepada penguasa untuk berkumpul atau berorganisasi buat perlindungan diri, bersatu dalam organisasi yang diijinkan oleh  pemerintah/penguasa, namun antek-antek Suharto yang pakai nama “anti komunis” dan segala “angkatan” dan “front” tetek bengek, melakukan aksi dan teror premanisme serta melanggar HAM dan Pancasila, mewarisi praktek-praktek Suharto !  

Lucunya, pihak “alat negara”, pihak “penjaga keamanan” dalam Pemerintahan yang tidak punya keberanian ini, yang seolah-olah seperti “banci, bencong, pondan atau akua” , cuma nonton sambil memicingkan mata  dan pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar  terhadap kebrutalan dan aksi premanisme sisa-sisa rezim Suharto itu !  Mereka, para penguasa, menganggap jutaan rakyat yang menderita cumalah sebagai sampah yang tidak berharga, hanya untuk diinjak-injak dan dibuang  !

(Syukur, selama menjalani berbagai macam derita di dalam Kamp Tahanan rezim Orde Baru/Suharto di TPU/RTM Pekanbaru belasan tahun, masih ada beberapa kawan yang mentalnya masih bertahan kendatipun jasmaninya rusak binasa, sehingga masih bisa menjadi saksi hidup atas kebrutalan, kekejaman dan kebiadaban  rezim zalim Jenderal Suharto/Orba  !)  

Semoga Kita bisa mengambil hikmah dari kisah diatas yang sungguh mengerikan bagi bangsa yang beradab jangan sampai politik melupakan kemanusiaan, seperti kata Gus Dur : 
” Satu-satunya yang harus menjadi prinsip dalam Politik adalah Kemanusiaan ! “.
Wallahu’alam bishowab
Salam Kedaulatan Rakyat
Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed