by

Gibran untuk Solo, Jateng atau DKI?

Oleh: Imelda Yuniati

Tahun politik sesungguhnya masih 2 tahun lagi. Tapi gaungnya sudah terasa dari saat ini. Tahapan Pemilu pun telah mulai bergulir pertengahan tahun ini. Segala yang berbau politik menjadi santapan yang ditunggu netijen untuk dibahas.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming bersama kepala daerah dan wakil kepala daerah asal PDI Perjuangan lainnya mengikuti Sekolah Partai PDI-P di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada medio Juni 2022. Setelahnya Gibran berkesempatan berkunjung memenuhi undangan ketua partai  Gerindra untuk belajar berkuda di Hambalang.

 
Tentu saja komunikasi politik seperti ini bukan yang pertama dilakukan oleh seorang ketua partai politik. Sesaat setelah dilantik menjadi Wali Kota Solo beberapa  petinggi partai menyempatkan bertandang ke Solo menemui Gibran mencoba membangun komunikasi politik.

Mengapa banyak tokoh maupun politisi yang ‘merapat’ ke Gibran? 

Merapatnya para tokoh termasuk para politisi, tak lepas dari magnet sosok Gibran. Baik sebagai anak presiden  Joko Widodo maupun terkait peta perebutan tiket Pipres 2024. Gibran dianggap  merupakan jalan menuju presiden Jokowi, yang diakui masih memiliki kekuatan untuk turut menentukan siapa penggantinya kelak. Dengan alasan yang sama, dampaknya masa kepemimpinan Gibran banyak memperoleh  perhatian proyek  dari pusat. Itu bisa dilihat  dalam unggahan  Gibran berjudul “10 Titik Prioritas Pembangunan Kota Solo” yang diunggah di Channel Gibran TV. 

Adapun 10 Titik Prioritas Pembangunan Kota Solo tersebut adalah: 

1. Pembangunan Masjid Raya Al Zayed

2. Pembangunan Islamic Center

3. Pembangunan Eleveted Rail

4. Revitalisasi Technopark

5. Revitalisasi Ngarsapura dan Gatot Subroto

6. Revitalisasi Kebun Binatang

7. Revitalisasi Selter Manahan

8. Revitalisasi Lokananta

9. Revitalisasi Taman Balekambang

10. Revitalisasi Sentra IKM Meubel Gilingan

Kesepuluh titik Prioritas Pembangunan ini adalah berkah buat Gibran dan masyarakat Kota Solo yang berasal dari pemerintah pusat. Selain itu tentu saja banyak tokoh dari pusat juga hadir & mengagendakan acara di Kota Solo. Bahkan ada politisi yang seolah tiap hari tak pernah absen, selalu saja hadir di Solo, mengadakan agenda atau acara di Solo. 

Bagaimana dengan dorongan berbagai pihak pada Gibran untuk maju DKI 1 ataupun Jateng 1? 

Sinyal dorongan agar Gibran maju di Pilgub di salah satu wilayah itu telah dilontarkan oleh ketua partai Gerindra maupun Partai Demokrasi Indonesia  Perjuangan. Dorongan yang berupa sinyal tersebut wajar diberikan, mengingat kebutuhan regenerasi masing-masing partai politik harus dilakukan sedini mungkin.

 
Kebutuhan suksesi pemimpin di daerah maupun tingkat nasional menjadi penting melibatkan anak muda. Gibran dianggap mempunyai magnet yang cukup kuat saat ini. Ia dipandang punya mentor yang diyakini mampu membuatnya menjadi pemimpin handal, yaitu ayahnya sendiri, Presiden Joko Widodo. 

Sementara di kalangan masyarakat ada yang berharap Gibran masih memimpin Solo selama dua periode. Ada juga yang mendukung untuk maju ke Pilgub  Jateng atau DKI Jakarta.

Satu hal yang masih perlu dibuktikan oleh Gibran adalah keberhasilan capaian kinerja selama menjabat Wali Kota Solo agar memuluskan tiketnya bertarung di Pilgub ke depan. Ia harus meninggalkan “legacy” bagi masyarakat Solo, yang diantaranya berharap Gibran meninggalkan legacy yang “genuine” ala Gibran. 


Sampai sejauh ini hal itu belum terlihat, karena lebih banyak program-program pusat yang dieksekusi di Solo. Harapan masyarakat untuk bertemu Wali Kota Solo sewaktu-waktu belum terwujud, mengingat selama pandemi hal tersebut tak bisa leluasa dilakukan. Sewdangkan Gibran juga tidak tinggal di rumah dinas Loji Gandrung Solo. Meski Gibran telah membuka kanal aduan via WhatsAppbagi masyarakat sebagai gantinya, namun harapan masyarakat bisa menemuinya langsung untuk sekedar  menyampaikan keluhantetap menggelora. 


Banyak aspirasi dari masyarakat yang kemudian diselesaikan Gibran secara pribadi maupun melalui mekanisme birokrasi melalui OPD terkait. Khusus untuk penyelesaian bantuan yang urgen dibutuhkan masyarakat yang diselesaikan Gibran secara pribadi, dia melarang untuk dipublikasikan. Padahal hal tersebut wajar bagi seorang tokoh ataupun pemimpin dalam membangun citra. Soal penataan birokrasi yang dilakukan Gibran juga maksimal. Komunikasi politik dengan banyak pihak juga perlu didorong agar lebih cair. Gibran belum memanfaatkan jalur-jalur informal untuk berkomunikasi dengan masyarakat, yang selama ini dilakukan para walikota pendahulunya termasuk bapaknya sendiri.

Pemilihan antara maju di DKI Jakarta  atau  Jawa Tengah nampaknya harus dipertimbangkan matang oleh partai pengusungnya. Karena keduanya mempunyai kebutuhan pendekatan yang berbeda. Di alam demokrasi ini, konstitusi memberikan kebebasan kepada setiap warga negara untuk mendukung dan memilih siapa saja pemimpin yang mereka inginkan. Strategi jitu masing-masing kandidat dengan timsesnya sangat menentukan dalam meraih simpati rakyat. 

Harus berhitung dengan betul antara yang dipilih dan yang memilih, juga strategi apa yang perlu dilakukan demi meraup insentif elektoral. Butuh identifikasi tipologi pemilih agar strategi pemenangan dapat diformulasikan dengan tepat, guna menyasar lebih efisien ke kantung-kantung pemilih. Ancaman pilihan kepala daerah  yang diwarnai politik identitas seperti yang terjadi di Pilkada DKI 2017 lalu juga perlu jadi perhatian agar tidak terulang kembali. 

Pemilih di DKI Jakarta akan lebih berpegang apakah Gibran mampu berperan dalam “policy-problem-solving”. Bagi pemilih yang berpegang pada hal tersebut, akan menilai dan menimbang program kerja yang bisa menyentuh permasalahan mereka, permasalahan dalam kelompok tertentu atau masyarakat. Kandidat yang program kerjanya tidak jelas, bakal dibuang alias tidak dipilih. 

Pemilih di Jawa Tengah lebih didominasi pemilih ideologis. Pemilih condong pada kandidat berdasarkan aspek-aspek subjektivitas seperti kesamaan budaya, agama, moral, norma, dan psikografis. Kalau hal tersebut  mampu dikelola oleh kandidat dalam hal ini Gibran, maka ia akan mendapatkan basis massa tradisional, misalnya pendukung ayahnya dulu. Tetapi tidak berarti program kerja tidak diperhitungkan. Apakah akhirnya sinyal itu akan bersinar lebih terang atau meredup akan berpulang pada Gibran. Masyarakat menunggu legacy yang Gibran banget. Ayo Mas Wali Gibran, sampeyan bisa!!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed