by

Gibran Datang Diskusi, Bikin Ketawa

Oleh : Anna Larasati

Tak sedikit orang mengelu-elukan Gibran sebagai representasi bapaknya, Joko Widodo. Tapi bagi orang waras yang masih sehat akal serta logikanya menganggap, bahwa Gibran sama sekali bukanlah perwujudan seorang Jokowi. Memang Gibran putra kandung Jokowi, akan tetapi karakter serta tabiat Gibran sangat jauh dari apa yang dimiliki Jokowi.

Jokowi benar-benar meniti kariernya dari bawah. Perjalanan terjal dan terseok-seok sampai tersungkur telah ia lalui. Berbeda dengan Gibran, yang tumbuh dan berkembang tanpa harus melalui proses pahit nan getir.

Tapi aku heran, kenapa masih saja ada yang memandang apabila Gibran adalah Jokowi. Padahal secara mata telanjang keduanya berbeda, hanya ikatan darah saja yang memperkuat hubungan mereka. Namun secara daya pikir, ilmu serta pengalaman hidup, Gibran belum ada apa-apanya.

Sayangnya, meskipun kepiawaian serta pengalamannya belum seberapa dan jauh dari kata mahir seperti ayahnya. Gibran dengan PD-nya maju nyawapres dan bersanding dengan rival ayahnya. Prabowo ialah pesaing yang sempat ingin menggulung nama seorang Jokowi melalui berbagai fitnah serta hoax yang massif digulirkan lewat linimasa media sosial. Meski begitu, sepertinya Gibran tak mempermasalahkannya. Ia lebih fokus atas pencalonannya sebagai cawapres.

Biarpun usianya belum mencukupi persyaratan konstitusi, tapi tenang saja karena ada paman yang akan senantiasa membantu langkahnya untuk maju pada jenjang yang lebih tinggi secara instan, no ribet-ribet. Kendati demikian, proses yang begitu singkat tersebut nyatanya tidak menjamin apabila seorang Gibran memiliki kesiapan yang matang untuk menjadi seorang pemimpin.

Why? Karena nyatanya Gibran tidaklah semahir seperti yang para pendukungnya gaungkan. Hal itu dapat jelaskan pada saat ia akhirnya sudi mengahdiri forum kuliah umum di Institut Teknologi Del, Sumut. Ketika ditanya perihal inovasi dalam menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Solo, dengan santainya putra mahkota ini menjawab β€œπΌπ‘‘π‘’ π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘˜π‘’π‘›π‘¦π‘Ž. πΈπ‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘˜ π‘’π‘ π‘Žβ„Ž π‘ π‘Žπ‘¦π‘Ž π‘—π‘’π‘™π‘Žπ‘ π‘–π‘›.”

Awalnya ungkapan tersebut mengundang gelak tawa dari para audiencenya. Namun perlu dicermati, dimana sebenarnya dari statement Gibran tersebut menunjukkan bahwasannya ia sendiri tidak benar-benar memahami tentang mekanisme inovasi tersebut.

Kalo semua pemimpin menjawab dengan gesture demikian, lebih baik negara ini memberlakukan sistem autopilot aja. Tidak ada manfaatnya memiliki pemimpin yang sebatas memberikan respon β€œπ‘‘π‘– π‘π‘’π‘˜π‘’ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘Žπ‘‘π‘Ž.” Mungkin maksudnya biar rakyat tidak malas membaca. Tapi tidak seharusnya seorang calon pemimpin berkata demikian.

Alangkah baiknya Gibran menjelaskan dengan jelas dan lugas, supaya rakyat termasuk si penanya lekas memahami tentang alur atau prosedur dalam pengembangan inovasi tersebut. Jangan hanya grasa-grusu untuk mengumpulkan suara, namun melalaikan tata cara kepemimpinan yang baik dan benar.

Andaikan dilain waktu tanggapan Gibran masih sama dan tak jauh berbeda dengan yang saat ini berlangsung, gimana kalo sosok Gibran di gantikan saja dengan web Chat GPT. Pasti semua pertanyaan yang terlontar akan terjawab, meskipun sering meleset dan butuh revisi ulang. Tapi setidaknya Chat GPT wawasannya lebih luas dan mampu menjawab segala pertanyaan yang silih berganti sering berdatangan.

Malu tidak sih seorang Gibran yang mana menjadi anak Presiden serta menjadi kebanggaan tersendiri bagi pendukungnya itu, ketika menjawab pertanyaan ala kadarnya dan cenderung ngaco? Bukankah jika jawabannya saja ngawur dan tidak jelas, sama saja memperlihatkan kapasitasnya yang kosong mlompong dong?

Semakin terlihat kopongnya lagi saat menjawab beberapa pertanyaan dari netizen, reaksi Gibran hanya sebatas template. Kalo nggak β€œπ΄π‘€π‘œπ‘˜π‘€π‘œπ‘˜π‘€π‘œπ‘˜β€ ya β€œπ‘€π‘Žπ‘Žπ‘“, π‘ π‘–π‘Žπ‘ π‘ π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž!” Mungkin dari tanggapan tersebut dirasa bisa menggaet aspirasi rakyat, kali ya? Padahal sejatinya balasan yang dipaparkan Gibran hanya akan menjadi candaan atau banyolan semata oleh netizen. Karena dirasa respon Gibran yang tak memuaskan dan terkesan monoton.

Loh…loh…loh… Katanya simbol dan representasi anak muda, tapi kok cara komunikasinya sama sekali tidak menyiratkan arti dari anak muda itu sendiri?

Aduhyung, belum memasuki masa debat saja sudah kelabakan plus kebingungan ketika menjawab pertanyaan dari rakyat. Lantas gimana nih waktu debat nanti? Apakah seorang Gibran Rakabuming Raka mampu mengimbangi capresnya Prabowo ketika debat? Apakah nanti Gibran bisa beradu gagasan diatas panggung debat bersama dengan Cak Imin dan Mahfud MD?

Kita tunggu saja tanggal mainnya. Akankah anak muda yang di paksakan matang sebelum waktunya ini lolos dan bisa menjadi cawapres Prabowo. Tapi ingat, bilang ke bapak jangan mengerahkan alat negara. Bertanding secara sehat dan adil, layaknya Pemilu yang selalu memegang asas JURDIL.

Sumber : Status Facebook Anna Larasati

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. kalo seorang Gibran di asumsikan sbg perwakilan milenial/ anak muda, ya hancur lah NKRI seperti ramalan Wowo
    solusi dia tuh cuma “saya anak Presiden”
    ape loe ape loe.
    awok awok awok.

News Feed