by

Faktanya Ustadz yang Itu Intoleran

Oleh : Maria Catarina

Beberapa hari kemarin, saya baca thread yang memprotes komisaris bumn menghentikan rencana kajian agama di mana beritanya menyebutkan akan mengundang satu dua penceramah yang diduga radikal. Setelahnya komisaris tersebut sudah meminta maaf ke satu tokoh MUI dan akan melanjutkan acara kajian dengan menghilangkan satu dua hal yang memicu kontroversi.

Saya sekilas mencari track record SRB yang ternyata pernah ditolak dakwahnya di beberapa kesempatan, dan satu lagi yang masuk dalam list aliran yang suka membidahkan tradisi dan untuk SBB khususnya keras ke ahmadiah. Menurut berita tersebut.

Nah, tadi pagi kebetulan saya baca komen yang berpendapat menyakini ini itu bidah juga adalah hak selama tidak memaksakan ke orang lain- ini saya setuju asal tidak ada pemaksaan ke org lain. tapi realnya kan kita sering disuguhi pemberitaan acara a,b,c,d dibubarkan sekelompok orang.

Saya perhatikan, orang yang berpendapat begitu kemungkinan besar tidak pernah bersuara jika bagian dari kelompoknya membubarkan ritual dan acara a,b,c,d. Ada juga yang mempertanyakan, jika dia sedang membicarakan sesuatu yang bidah berdasarkan keyakinannya, kenapa ada respon balik yang menyatakan dia intoleran bahkan radikal, kan egois itu orang yang bilang dia intoleran dan membuka topengnya sendiri (yang ngomong gitu itu yang sebenarnya intoleran-pengertian saya atas protesnya).

Jadi, menurut kalian bagaimana,guys? haruskah kita toleran terhadap keyakinan² yang berpotensi membuat beberapa pengikutnya enforce keyakinannya ke orang lain dalam bentuk nyata, real?? Apa jika kita dukung penolakan kelompok lain atas penceramah yang materinya bidah2 maka berarti kita melanggar kebebasan berbicara penceramah dan kelompok umatnya tersebut? https://surabaya.tribunnews.com/…/ratusan-santri-di…https://m.kumparan.com/…/komisaris-pt-pelni-dede…/full

Sumber : Status Facebook Maria Catarina

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed