by

Berapa Idealnya Jarak Shaf Shalat Saat Pandemi?

Oleh : Zulfikar Matin Effendi

“Kok 40 cm?”Seorang abang saya yg saya cintai karena Allah, njapri saya, menegur bahwa postingan saya ttg jarak shaf 40 cm adalah logical fallacy. Menurut beliau, seharusnya yaa tetap 100-150 cm, karena itu arahan para dokter.Padahal keterisian pesawat, mobil travel, bus umum, ruang tunggu dokter, ruang tunggu bank, ruang tunggu kelurahan: Hanya menyelingi satu kursi kosong, karena tujuannya adalah “penjarakkan” (distancing)..

Tidak bisa selalu dengan angka 100-150 cm.Jika penjarakkan tercapai dengan menyelingi satu kursi kosong, maka penjarakkan dianggap tercapai, walaupun lebar kursi tidak sampai 100 apalagi 150 cm, kan? Nah, bagaimana dengan kondisi shaf di masjid? Walahu a’lam, hati lebih cenderung dengan pendapat utk tetap merapatkan shaf bagi yg sehat. Adapun bagi yg sakit dilarang ke masjid, dan udzur bagi mereka yg “khawatir” utk tidak dulu ke masjid.

Tapi apa daya, saya diamanahi kepengurusan masjid pinggir jalan, pak Lurah sering kontrol kesini. Maka sebagai wujud dari ketaatan kepada walyul ‘amr, kami tetap mengadakan penjarakkan shaf. Tapi gak semeter. Karena memang gak diperintahkan demikian, baik oleh fatwa MUI maupun arahan dari DepAg. Silakan rujuk surat MUI kepada kami, dibawah Runutan logisnya begini:

(1) Di masjid ada perintah merapatkan shaf

(2) Ilmu pengetahuan menjelaskan (cek tangkapan layar dari laman WHO dibawah), penyebaran covid melalui dua hal: 1.droplet dan 2.kontak fisik langsung

(3) Maka pencegahannya menurut para ahli adalah dua hal: 1. Menggunakan masker, 2.menjaga jarak (distancing).

(4) Bagaimana penerapannya dalam shalat berjamaah? Adalah sama, yaitu dengan mencegah DUA jalan penyebaran tadi: droplet (dengan menggunakan masker), kontak langsung (dengan menjaga jarak).

(5) Berapa jaraknya? Nah, ini yg berbeda dari kondisi diluar shalat berjamaah. Kaidah dalam shaf berjamaah adalah, “lebih rapat lebih baik”. Maka semakin kecil jarak, lebih baik daripada jarak yg lebih besar, ASALKAN tetap mencegah kontak langsung. Maka jika kontak langsung bisa dicegah dengan berjarak hanya (misalkan) 10 cm pun, tujuan tercapai. Asalkan semua pihak disiplin bermasker.

(6) Fatwa MUI maupun anjuran DepAg tidak pernah menyatakan angka penjarakkan. Yang ada adalah angka maksimal keterisian, yaitu 50%. Jika demikian, maka seandainya satu shaf dalam keadaan normal bisa diisi 20 orang dewasa, dikondisi pandemi hanya boleh 10 orang.

(7) Setelah diperhatikan, renggangan kaki orang dewasa ketika berdiri shalat, rerata 40-50cm. Untuk mendapatkan kapasitas 50%, ya kosongkan juga antar jamaah sejauh ‘satu jamaah’.. Bukan sejauh 100-150 cm.

(8) Menjaga jiwa adalah hal utama dalam agama. Maka bagi mereka yg khawatir akan keselamatannya, ada udzur utk TIDAK dulu ke masjid. Silogis ini, terutama, utk para pengurus masjid, yg kebingungan ruangannya terlalu kecil utk direnggangkan 100 cm, sedangkan jamaahnya banyak.

(9) Silogis ini juga tidak sedang menyatakan yg berjarak 100 cm atau lebih adalah salah. Silakan saja. Ini tawaran alternatif ranah teknis, utk penyelenggara berjamaah di mushola kantor, offshore, mall, yg lebarnya kadang hanya 3 meter bahkan kurang.

Semoga bermanfaat.. Wallahu a’lam..

Sumber : Status Facebook Zulfikar Matin Effendi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed