by

Corporate Credit Card

Oleh : Uster B Kadrisson

Ah.. saya selalu suka jika si kokoh BTP alias Ahok sudah mengaduk-aduk ketentraman dan kenyamanan yang selama ini dinikmati hanya oleh segolongan orang saja. Demi untuk menyelamatkan uang negara, si kokoh memangkas segala macam privilege para pembesar Pertamina yang selama ini telah disalah gunakan oleh mereka untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga.

Herannya, keputusan yang jitu ini malah ditentang oleh wakil-wakil rakyat, seperti si pelawak Eko Patrio yang perkataannya kini sering tidak lagi lucu dan susah bikin tertawa. Bahkan sekelas mantan mentri Dahlan Iskan juga turut memberikan komentar tentang ketidak percayaannya kalau menurut kokoh BTP, limit kartu kredit korporasi yang diberikan kepadanya mencapai 30 milyar jumlahnya.

Sebenarnya saya justru sangat heran dengan keterangan si kokoh di atas, karena biasanya kartu kredit korporasi untuk jajaran petinggi adalah unlimited alias black card atau kartu hitam. Banyak perusahaan-perusahaan kartu kredit yang mengeluarkan edisi terbatas ini, yang untuk mendapatkannya tidak melalui pendaftaran yang biasa tetapi melainkan dengan menggunakan undangan.

Kartu yang terasa lebih berat ini terbuat dari anodized titanium, juga mempunyai beberapa tingkatan seperti Palladium atau Centurion yang semua mata akan menoleh untuk mencuri pandang ketika dikeluarkan. Hanya jajaran selebriti yang biasanya mempunyai kartu jenis ini di dompet mereka, atau horang-horang kaya yang uangnya tidak habis dimakan tujuh turunan.

Terus terang, saya juga pernah merasakan dampaknya uang tak berseri yang keluar dari kartu kredit yang ditanggung oleh perusahaan milik negara. Saat dulu masih kuliah, acap pergi liburan bersama dengan seorang teman baik yang ibunya adalah direktur keuangan perusahaan pelat merah. Hotel bintang lima, makan di restoran mewah dan sepertinya tagihan masuk ke dalam neraca perhitungan kas sebagai jatah hura-hura. Tapi mereka keluarga yang tahu diri, jika pengeluaran diperkirakan melebihi budget, sang ibu akan menggunakan kartu kredit pribadi milik sang ayah.

Saat saya mempunyai warung kecil-kecilan, banyak sekali penawaran kartu kredit yang bisa dibuat atas nama perusahaan. Berbeda dengan kartu milik rekening pribadi, perusahaan finansial atau bank ini bersedia memberikan limit yang jauh melebihi batas jangkauan. Saking banyaknya jumlah, rasanya saya bisa membeli sebuah rumah di Indonesia dengan hanya sekali gesekan.

Bagaikan orang ketiban bulan, selama beberapa saat saya berfoya-foya sampai bisa main-main sampai jauh ke Amsterdam. Dalam memberikan data keuangan untuk laporan perpajakan, memang ada item untuk rekreasi yang bisa ditolerir sebanyak sekian persen dari total pengeluaran. Paling tidak dalam kurun waktu selama satu tahun, bisa ada puluhan juta atau ratusan tergantung dari bagaimana situasi neraca keuangan.

Tidak masalah sebenarnya jika tidak digunakan, tetapi rasanya sayang kalau ada uang yang tergeletak begitu saja dan dianggurkan. Sehingga acara plesiran dan jalan-jalan serta makan enak di restoran bisa dimasukkan ke dalam laporan, dan cara paling gampang mendeteksinya adalah dengan membebankan ke pemakaian kartu kredit milik perusahaan.

Sehingga saya bisa merasakan betapa gondoknya para pembesar yang duduk di jajaran papan atas yang biasanya bagaikan bermasturbasi, kemudian seperti kehabisan sabun saat sedang lagi tegang-tegangan. Yang pastinya adalah mereka-mereka yang selama ini bisa main gesek sana gesek sini tanpa pernah menggunakan perhitungan dan tidak perduli dengan jumlah tagihan.

Mungkin rasa sakit dan perihnya bagaikan seperti di sodomi oleh orang sekampung dari belakang. Yang jelas memang tidak enak untuk awal permulaan, tetapi seperti kata bang Ipul lama-lama disodok juga akan menjadi terbiasa dan bisa menikmati keadaaan.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed