by

BEM UI Berpolitik

Oleh: Erizeli Bandaro

Saya tidak mengerti mengapa para oposan khususnya aggota DPR dan pengamat seperti Rizal Ramli dll begitu hebatnya membahas seputar kebijakan Rektor UI, Ari Kuncoro memanggil Badan Eksekutif Mahasiswa UI yang mengunggah meme Presiden Joko Widodo.

BEM UI menyebut Jokowi The King of Lip Service lantaran dinilai tak menepati janji-janjinya, semisal untuk memperkuat Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan karena itu mulai ramai dipersoalkan mengenai rangkap jabatan. Ari Kuncoro juga merupakan Wakil Komisaris Utama/Independen PT BRI (Persero) Tbk.

Sebagai rakyat jelantah saya punya pendapat sebagai berikut:

Pertama. BEM harus bisa membedakan mana kritik dan mana penghinaan. Tidak sulit untuk pahami itu. Anak SMU juga bisa kok. Saya termasuk pengkritik Jokowi. Silahkan baca blog saya. Berkaitan dengan polemik Presiden sebagai simbol negara, itu yang harus didengar adalah apa kata ketua MK. Bukan pengamat.

Kecuali kalian mau jadi oposan atau pemberontak dalam sistem demokrasi. Negara kita menganut sistem presidentil. Presiden sebagai kepala pemerintahan, juga sebagai kepala negara. Sebagai kepala pemerintahan Presiden itu sama dengan Ketua DPR, MA, dan lainnya.

Namun sebagai kepala negara, Presiden adalah simbol negara. Liat aja perlakuan pengawalan terhadap presiden berbeda dengan pejabat tinggi lainnya. Yang dikawal oleh Paspamres itu bukan presiden sebagai kepala pemerintahan tetapi presiden sebagai kepala negara. Mengawal presiden adalah mengawal simbol negara.

Kedua. Jabatan Wakomut BRI, Ari dan juga pernah menjadi Komisaris Utama PT BNI (Persero) Tbk. Itu dasarnya adalah bukan karena dia rektor UI tetapi karena dia sebagai personal yang dikenal ahli ekonomi dan tidak ada benturan kepentingan dengan posisinya sebagai Rektor. UU melarang rangkap jabatan hanya untuk ASN, tidak untuk BUMN.

Kalau itu dianggap melanggar statuta UI, sesuai Nomor 68 Tahun 2013, maka yang berhak menentukan salah atau tidak adalah Majelis Wali Amanat (MWA) UI. UI adalah lembaga otonom. Tidak boleh lembaga manapun yang intervensi. Itu urusan UI.

Yang jadi masalah adalah dengan adanya kasus “Jokowi The King of Lip Service” Semakin menunjukan kekuatan oposisi membela BEM UI yang juga bagian dari oposisi. BEM UI sudah berpolitik, tidak lagi murni akademis dan tentu harus siap juga menerima konsekuensi politik dari mereka yang berbeda dengan kalian.

Welcome to battle of politic. Politik tidak ada hitam putih. Tidak ada salah benar. Yang ada adalah pecundang dan pemenang.

(Sumber: Facebook DDB)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed