by

Mencari Tuhan

Oleh: Erizeli Bandaro

Tahun 1990 saya pernah ikut program mutih di Ciomas Banten di Ponpes. Mutih tidak boleh makan nasi dan minum sampai jam 6. Setelah itu hanya boleh makan nasi putih saja. Ya hanya dua sendok. Dan air putih. Setelah jam 4 subuh harus menahan makan dan minum. Apa yang saya dapat dari program mutih di ponpes itu. Saya menemukan persepsi tentang Tuhan dan saya. Bahwa hakikat nya manusia itu bukan raga tapi jiwa. Tapi masih belum kuat persepsi itu. Saya masih berada diantara mengerti dan tidak. Alias bingung sendiri.

Tahun 2006 saya berangkat ke Shaolin Tempel di Yunnan. Mengapa saya ke Klenteng. Pemahaman ritual agama Budha 90% adalah Tuhan. Cinta. Hanya 10% dunia. Jadi wajar kalau saya belajar menemukan persepsi tentang Tuhan pada agama Budha. Saya ingin tahu bagaimana cara mereka menanamkan persepsi itu. Saya harus ikut lelang donasi agar bisa mondok selama 40 hari di sana. Lelang itu dilakukan lewat internet. Akhirnya saya dapat email. Saya dapat kehormatan untuk mondok.

Saya diantar oleh Wenny dan James sampai depan gerbang Klenteng. Wenny tertawa waktu saya semangat masuk gerbang. Tapi James memeluk saya. “ Saya tahu kamu sanggup. Saya dan Wenny akan nginap di hotel. Jaraknya hanya 2 jam dengan kendaraan dari sini. Jadi kalau kamu tidak sanggup. Kamu minta izin keluar aja. Butuh jalan kaki 5 km sampai ke stasiun BBM. Dari sana kamu telp kami. Kami segera datang jemput.” kata James. Karena masuk klenteng itu tidak boleh hape. Rokok juga tidak boleh.

Tidak ada program terperinci di klenteng itu. Saya hanya ikuti cara hidup mereka. Berpakaian seperti mereka. Rambut dibotaki. Puasa. Kecuali minum Air putih. Tidur tidak boleh pakai kasur. Beralaskan anyaman rotan dan bantal dari bambu. Kebayangkan gimana tidak nyamannya tidur. Jam 2 pagi para biksu sudah bangun. Mereka meditasi. Saya juga bangun. Saya juga meditasi sesuai agama saya. Tafakur namanya. Paginya. kita ke ladang bertani. Tidak ada toilet. Jadi kalau mau BAB yang bawa sekop untuk tutup kotoran kita.

Seminggu puasa saya sudah merasa tidak tahan. Badan saya lemah. Puasa dalam islam sampai jam 6 sore. Setelah itu boleh makan bebas sampai jam 4 pagi. Tapi ini tidak ada makan. Kecuali minum. Tapi saya tetap bertahan. Masuk hari ke 10 saya sudah benar benar tak ada tenaga. Tetapi para biksu itu biasa saja. Mereka juga puasa. Kegiatan sama dengan saya. Kenapa saya lemah, mereka tidak? Ah saya harus kuat.

Saya terus bertahan. Masuk hari ke 20 saya sudah benar benar lemah. Waktu meditasi saya sudah tak ada tenaga duduk. Tetapi ada yang tegur saya. Saya terkejut. Siapa? dia menggunakan bahasa ibu saya. Saya ingat waktu mutih di Ciomas. Itu dia menggunakan bahasa telepati.

“ Saya ada disamping kamu. “ Kata suara itu. Saya lirik kesamping. “ Kamu sedang dikuasai raga kamu. Itu sisi terlemah kamu. Padahal kekuatan kamu itu ada pada jiwa kamu. Keluarlah dari raga kamu.” Lanjutnya.

“ Bagaimana caranya?

“ Semua hidup ini hanya ilusi. Lapar, sakit, haus, senang, marah, kecewa, sedih, itu hanya ilusi. Buah dari permainan pikiran saja. Materi itu tidak ada.. Ragamu lemah karena ia berusaha memperdaya jiwamu, agar jiwamu jadi budak ragamu. Selama kamu jadi budak ragamu, kamu terisolasi oleh pikiran kamu. Kamu hidup dalam ilusi. Akan lemah selamanya. Orang lemah tidak akan menemukan kebijakan. Tidak akan menemukan jalan kepada Tuhan “ Katanya.

“ Ya bagaimana caranya keluar dari raga saya?
“ Hilangkan pikiran lapar, haus. Itu aja dulu. Cobalah.”
“ Terimakasih Pak.”

Kata kata itu seperti cuci otak. Membenamkan persepsi baru kepada saya. Selama seminggu saya gunakan persepsi itu bertarung melawan lapar. Akhirnya masuk hari ke 30 saya sudah tidak lemah lagi. Badan saya terasa enteng. Bahkan saya bisa melihat gerakan kupu kupu dengan slow motion. Angkat gentong dari bawah bukit ke atas bukit enteng saja. Padahal sebelumnya saya tidak sanggup. Mendaki tampa beban saja udah capek apalagi bawa beban.

Prosesi hari ke 40 saya sudah semakin mudah. Saya bisa hanya 10 menit dalam meditasi menghilangkan semua benda sekitar saya. Tidak nampak lagi. Benar benar senyap dan tenang. Euforia tak terbilang. Hari ke 40 saya selesai. Pagi pagi biksu ketua tersenyum menatap saya. “ Kamu sudah mengenal diri kamu dan tentu kamu semakin paham akan Tuhan. Jaga diri baik baik. “ Kataya lewat telepati. Saya rukuk memberi rasa hormat kepada dia.

Saya keluar gerbang. Sudah ada Wenny dan James jemput saya. Mereka berdua memeluk saya. “ Kamu berubah bro “ Kata James terkejut.

“ keliatan lebih muda dari usia kamu. “Kata Wenny. Saya diam saja. Tetapi setelah kembali ke Jakarta. istri saya juga terkejut. Karena saya nampak sangat muda dari usia saya. Berat badan saya turun 6 kg.

Makanya sampai sekarang kalau saya sholat, persepsi saya sama dengan meditasi. Tidak ada apapun selain saya dan Tuhan saja. Selalu usai sholat kepala saya berembun. Sama seperti kalau saya meditasi. Usai sholat saya kapten atas jiwa saya


Hakikat agama sama. Apa ? menyibak rahasia diri kita. Siapa kita dan mau kemana?
Jawabnya sederhana. Kita bukan raga tapi jiwa. Ketika mati, raga jadi tanah namun Jiwa itu milik Tuhan, di sisi Tuhan. Artinya, disaat kita dikuasai oleh raga, maka saat itu juga kita menjauh dari sisi Tuhan. Kita akan sangat lemah dan pasti kehilangan jalan menuju Tuhan.

Kalau kita tetap bersama Tuhan, jiwa kita menjadi kekuatan besar, dan tidak ada yang rumit dalam hidup ini. Semua jadi mudah termasuk rezeki juga mudah. Mengapa ? Kreatifitas alam bawah sadar kita cepat sekali merespon keadaan diluar kita untuk survival. Membuat kita selalu rendah hati dalam kemenangan dan barbagi.

(Sumber: Facebook DDB)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed