by

Semua Salah Jokowi

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Rakyat pedesaan masih banyak yang menderita – kemana Jokowi? Jembatan penyeberangan kampung putus, di mana Jokowi? Petani gagal panen, apa kerja Jokowi? Rektor, kok, merangkap komisaris, apa maunya Jokowi? Semua kesalahan ada di Jokowi – ditimpakan kepada Jokowi. Karena Jokowi presiden. Jokowi harus bertanggung-jawab, Jokowi harus turun.

Ada prajurit hilang kendali menangani pembuat onar dan pemabuk hingga menginjak kepala orang – Jokowi yang dituntut minta maaf. Padahal panglima TNI sudah pecat komandannya.
Membidik Jokowi sebagai presiden sudah menjadi makanan keseharian warga kita, khususnya netizen di dunia maya. Dalam situasi pandemi, ketika rakyat sedang frustrasi dan depresi karena krisis ekonomi, lawan politik memanfaatkan suasana dengan membikin keruh, menimpakan kesalahan pada Jokowi. Alih alih menyumbang solusi justru mendorong kejatuhannya.

Prajurit di lapangan punya atasan, atasan punya atasan lagi. Begitu seterusnya. Berjenjang. Ada garis komando. Para atasan bertanggungjawab membina bawahannya. Prosedur standar militer jelas dan tegas. Juga sanksi penyimpangannya. Mengapa langsung menerabas tinggi ke Jokowi. Berapa level yang dilompati?

AKAL SEHAT kita bisa melihat kesalahan fatal pada kecenderungan ini – yakni pengetahuan dasar ilmu tata negara pengetahuan tingkat pemula. Jika ada jembatan desa rusak, yang seharusnya yang ditanya lurah atau camat . Maksimal bupati. Jika panen gagal, yang dikejar seharusnya dinas pertanian, bupati dan gubernur . Dalam skala nasional menteri pertanian.
Penyelewengan vaksin tanya ke satgasnya, dinas kesehatannya, menteri kesehatannya. Jika di daerah bupati dan camatnya juga.

Tapi memaki lurah, camat dan bupati memang tidak keren. Yang keren membidik dan menuding presiden. Ini ‘kan demokrasi? Rakyat bebas, dong.

Rakyat di daerah melihat pengamat pintar bicara di teve, ternyata, menyalahkan presiden boleh kok. Kalau begitu semua kesalahan timpakan kepada presiden.

Dan sementara itu, karena rakyat sudah tanya ke presiden, camat dan bupati pun angkat bahu, bebas tugas. Jembatan desa rusak, tanyakan ke presiden! Presiden harus penuhi janji kampanyenya, katanya. Kerja bupati mencairkan anggaran dan memastikan kontraktor memenuhi janjinya memberi komisi. Atau proyek berikutnya perusahaannya masuk daftar hitam.

SELALU saja orang menyangka bila presiden bisa mengerjakannya sendiri. Dan orang berpikir bahwa semua menteri terpilih mampu menjalankan visi misinya sesuai arahan: menjalankan visi missi presiden. Tapi “memahami” visi misi adalah satu hal, kemampuan “mengeksekusi di lapangan hal lain lagi. Sebagaimana impian dan cita cita lalu kenyataannya di hari kemudian.

Satu lagi, rakyat awam mengira presiden punya kekuasaan dan wewenang mutlak. Ya! Secara teori ya. Tapi realitas politik nya tidak. Dalam pemerintah demokrasi dan dukungan koalisi partai presiden tidak bisa bebas mememecat menteri. Selain melobi parlemen, juga melobi partai, meminta penggantinya.

Ada banyak cerita – dari presiden sekarang maupun sebelumnya – setelah memberhentikan menteri tertentu di tengah jalan, maka partai dimana menteri itu berasal, berubah haluan. Dari pendukung pemerintah menjadi oposisi. Gus Dur hilang jabatan diawali pemecatan JK dan Laksamana Sukardi. Jokowi dirongrong kadrun sejak memecat menteri pendidikan yang lebih banyak menata kata itu.

Saya dapat bocoran, baru baru ini, Jokowi sudah gemas dengan menteri XYZ, dan mau memecat. Tapi penasehatnya menyatakan, jika XYZ dipecat, maka partainya akan jatuh ke faksi Anu. Dan Anu itu anti pemerintah, anti istana, punya naluri preman. Bisa bahaya. Jokowi pun urung memecat. Meski kesal dibuatnya.

Bacalah sejarah bagaimana ABRI memperlakukan Bung Karno. Korps Kepolisian memperlakukan Gus Dur.
Partai koalisi pendukung memperlakukan SBY.

Hal itu sebenarnya dipahami politisi Senayan dan pengamat politik khususnya pengamat hukum tata negara. Tapi akibat penolakan proposal, pemberhentian dari jabatan komisaris di BUMN, dendam dan kebencian pada presiden serta ambisi politik mengaburkannya, sengaja pura pura tahu. Belagak pilon.

Sebab, tujuannya kini untuk menjatuhkan presiden. Dan terus menyalahkannya. Dan kita bisa lihat sekarang, semua kesalahan ada di presiden. Semua salah Jokowi.

That’s it, That’s All!

(Sumber: Facebook Supriyanto Martosuwito)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed